R.A. Kartini dan Mitos Perempuan Desa

Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya.

Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia. Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia.

 

Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya. Buku itu menjadi pedorong semangat para perempuan Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang. Sebagai seorang gadis Jawa yang tidak pernah lepas dari hukum “pingit’, ia berjuang untuk mengeluarkan kaumnya dari kebodohan. Bagi dirinya, hanya satu pikiran, membebaskan diri dari kebodohan. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma. Ada beberapa hal yang dapat kita peroleh dari perjuangan seorang perempuan desa, antara lain: pendidikan, kebangsaan, dan feminisme. Dengan membuat sekolah-sekolah gratis, ia berusaha untuk memajukkan pendidikan untuk menciptakan anak-anak bangsa yang terampil dan cerdas sehingga mampu mengimbangi perkembangan teknologi bangsa lain.

 

Dari sini kita coba belajar pentingnya sebuah pendidikan bagi bangsa. Dengan majunya pendidikan bagi kaum perempuan, maka ia akan mampu mendidik anak-anaknya dengan baik, berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari sekolah. Dari anak-anak yang cerdas tersebut akan muncul pemimpin bangsa yang tangguh dalam menghadapi tantangan karena dibekali kemampuan dam kepandaian sejak ia lahi, bersekolah, kembali ke rumah, bermasyarakat, dan beranjak tidur. Semua itu hanya bisa diperolah melalui figur perempuan yang hampir setiap saat selalu dekat dengan anak-anaknya. Pun begitu dengan kemajuan seorang ayah dan keluarga. Sosok ibu yang menjadi teman berbagi pikiran dengan ayah sangat diharapkan untuk memberi solusi keluarga dan kehidupan suaminya. Semakin luas pengetahuan seorang perempuan, maka sebuah masalah dapat diselesaikan dengan cepat karena segala pemecahan masalah tidak terpatok pada kemampuan laki-laki untuk memecahkan masalah, melainkan juga dari pihak perempuan. Pengaruh yang lebih luas lagi apabila laki-laki itu adalah seorang pejabat, dengan kemampuan yang dimilikinya, segala persoalan yang menyangkut urusan negara mampu dipecahkan dengan lebih jernih karena hadirnya pihak lain dengan masukan dan pertimbangan dari sisi yang berbeda.

 

Beberapa pendapat yang kontra dengan pemikiran Kartini mengatakan segala hal yang berkenaan dengan urusan bangsa dan negara adalah tugas laki-laki. Nasib perempuan dengan mitos “konco wingking” seakan-akan mengaburkan makna dari feminisme Kartini. Keberadaan wanita yang selalu dinomorduakan dalam segala bidang, kewajiban perempuan yang hanya “kasur, dapur, sumur”, dan tabunya sebuah bangsa dipimpin oleh seorang perempuan merupakan “musuh besar” dari paham Kartini. Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria. Konsep “konco wingking” memang tidak selamanya salah bagi kaum feminis jika kita mencoba melihat konsep itu lebih dalam. Bagi Kartini, seorang perempuan memang selayaknya dan harus selalu menjadi “konco wingking”. Konsep ini sebetulnya meletakkan perempuan sebagai sharing untuk menjalankan roda keluarga. “Konco” atau teman dan “wingking” atau belakang merupakan wujud hubungan dimana antara satu dengan yang lainnya saling menjaga. Jika peran laki-laki selalu di depan, dalam rangka fungsi kemasyarakatannya, maka fungsi wanita sebagai “konco wingking” adalah menjaga agar kondisi keluarga tidak berantakan karena faktor lain yang tidak bisa dihadapi oleh laki-laki, yang sedang sibuk menjalankan fungsinya menjadi garis depan.

 

Peran perempuan dalam hal ini bisa jadi sangat vital seperti halnya “kasur, dapur, sumur”. Jika semua hal tersebut tidak terpenuhi maka mustahil bagi seorang laki-laki untuk keluar dan menjalankan fungsinya dengan sempurna. Seorang laki-laki hanya menjadi bahan gunjingan bagi masyarakat karena ketidakmampuannya untuk menyeseuaikan diri dengan norma-norma masyarakat. Dan yang lebih fatal adalah nilai sebuah keluarga di mata masyarakat itu sendiri akan menjadi negatif.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: