-kutu kecil dengan dosa besar-

Kutu itu begitu cantik tertempel di kening

Senada dengan sembilu tertuang

Kau lelaki masih tertarik

Baskara telanjang kian hitam.

 

Kuda binal menari kau terjaga

Parau terlihat kau menjerit

“Ini hari masih penuh sinar kapan nanti boleh

kamu meringkik!”

Batang golok telah terasah. Mampuslah dia.

-sudut kota biru-

Tertatih dengan sebatang tongkat,

nenek tua itu berjalan

diantara deru bising kehidupan.

Ditelusurinya satu bahagian kota

demi sebuah kenangan, katanya.

 

“Aku dan suamiku dulu

bertemu dan menikah

di kota ini, tapi lacur

 prasasti itu hilang !” katanya.

 

Setengah terkejut ku lihat

nenek itu berjalan dalam keping

senyum di bibirnya tak lagi merah

dan urai rambutnya kini telah terikat.

 

Tangan rapuhnya kini t’lah berubah

menggenggam sebuah belati

ia teriakan nama suaminya

 

Karta……….Karta….!

Beri aku tanda untuk

melihat nafas hidup.

Kini cucu-cucu kita sudah merdeka.

 

 

-dongeng rindu rosmawati-

Ketika malam itu entah yang keberapa kali

aku tinggal dalam pelukan tubuhmu

rebahkan segala kepenatan tentang kehidupan baru.

 

Aku bangun setengah telanjang

dan seutas tali telah terurai

menyambar sebuah kehidupan dari wajahku.

 

Kau…

Dengan gagah berani menantang

kemarahan Hyang Dipati

“Aku lah penguasa, jangan coba rebut indraku !”

katamu dalam lembar terakhir di bawah kangkang kakimu.

 

Bodoh !

Kenapa bukan Hyang Manon sekalian

kau ajak untuk bercinta.

Atau Tridharma, mungkin.

 

14 Februari 2003

19.00 wib

Saat tetesan gerimis mencium

kaki pratiwi kau rebah.

kicau burung gagak bersahutan

berkumandang lagu sampyuh.

“Terima kasih atas hari ini .” katamu sebagai penutup salam.

 

Malam mencekam rembulan sendu rawan,

anak perawan menangis rindu dendam.

Dalam derai alur kehidupan

secawan madu telah tenggelam.

 

 

-yang terakhir (mungkin !)-

Satu tanganmu mengepal langit

gelegar petir menyahut getir.

Dalam sekam muncul bara

tertindih batu hilang asap.

 

Seperti sebuah akhir jiwamu

berontak melepas tali kekang.

Kau terjang segala candu

lawan semua hanya penghalang.

 

Pergilah!

Jahanam!

 

Sebilah pisau bias sinar

satu aku pasti pudar.

 

Majulah!