Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (Chapter 1)

BAB I

PENGANTAR

1.1 Latar Belakang Penelitian

Kehadiran karya sastra tidak dapat ditolak, bahkan kehadirannya telah dianggap sebagai suatu karya kreatif yang memiliki budi, imajinasi, dan emosi. Marx (dalam Teeuw, 1988: 52) menganggap seni, dalam hal ini karya sastra, harus membayangkan atau mencerminkan kenyataan sosial-ekonomi, sebagai alat untuk merombak masyarakat. Menurut Teeuw (1988: 249), hubungan antara kenyataan dan rekaan adalah hubungan dialektik atau bertangga. Goldmann (dalam Faruk, 1999: 12) menyatakan bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur yang tak statis dan merupakan produk dari proses sejarah yang berlangsung, proses strukturasi dan destruksurasi yang hIdup dan dihayati oleh masyarakat sosial asal karya sastra yang bersangkutan melalui fakta kemanusiaan (aktivitas atau perilaku manusia), subyek kolektif (kumpulan individu-individu yang menyatu), dan pandangan dunia (aspirasi kolektif).

Lacan menyediakan pola pikir konstruksi sosial melalui persoalan individu dan masyarakat. Menurut Lacan, individu tidak terpisah dari masyarakat. Manusia dapat memiliki sifat sosial melalui bahasa dan bahasa membentuk manusia menjadi subyek. Oleh karena itu, manusia sebaiknya tidak membuat dikotomi individu dan masyarakat. Masyarakat ada dalam diri setiap individu (dalam Rengganis, 2004: 36). Pembicaraan mengenai perilaku individu dalam taraf kesadaran merupakan bentuk logosentrisme yang sering dipergunakan oleh kaum strukturalis. Allport (Koeswara, 1991: 11) menyatakan bahwa setiap individu memiliki kepribadiannya sendiri dan tidak ada dua orang yang berkepribadian sama.

Teori Freud secara lengkap meruntuhkan kepastian metafisik ini dengan mengungkapkan sebuah pembagian dalam diri sendiri di antara sadar dan tidak sadar. Aliran Freud yang dianut Lacan telah mendorong kritik sastra modern untuk meninggalkan kepercayaan kepada kekuatan bahasa yang merujuk kepada benda dan mengekspresikan gagasan atau perasaan karena tidak penanda yang tidak terganggu sebagai ketidaksadaran yang ilmiah (Selden, 1991: 86). Derrida (Selden, 1991: 87) menyatakan, teori “strukturalis” selalu mengandaikan “pusat” arti sejenis itu. “Pusat” ini menguasai struktur, tetapi dengan sendirinya tidak tunduk kepada analisis struktural (untuk menemukan struktur pusat hendaknya menemukan pusat yang lain). Orang menghendaki sebuah pusat karena pusat itu menjamin kehadiran “sesuatu”.

Keterkaitan antara psikoanalisis dan kesusasteraan adalah pertama, psikoanalisis adalah suatu metode interogasi tentang kepribadian manusia yang sepenuhnya didasarkan pada tindakan mendengarkan pasien. Pemikiran tentang sastra dalam psikoanalisis adalah ketidaksadaran. Kedua, pertemuan sastra dan psikoanalisis adalah karena dalam pemikirannya, Freud, menjadikan mimpi-mimpi, fantasme, dan mite sebagai bahan dasar. Dengan adanya hubungan tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara psikoanalisis dengan bahasa, sastra, dan imajinasinya (Kadaryati, 2004: 88).

Drama, sebagai salah satu genre dalam karya sastra, menawarkan sebuah dunia berisi model kehidupan ideal yang dibangun melalui unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Konflik yang terjadi di dalam teks drama disebabkan oleh munculnya motivasi dari tokoh dalam membangun sebuah cerita. Tindakan ini sering dimunculkan dalam bentuk penyimpangan bahasa, seperti ironi, hiperbola, ambiguitas, dan lain-lain, maupun tingkah laku yang disebabkan kondisi kejiwaan tokoh yang mengalami sebuah peristiwa sehingga mempengaruhi suasana batinnya.

Pramoedya Ananta Toer, sebagai seorang sastrawan memiliki ideologi kuat dan konflik-konflik batin maupun fisik yang cukup panjang. Dia tumbuh dari keluarga nasionalis non-cooperatif yang mempengaruhi perkembangan psikologinya. Perbedaan ideologi dengan sosok ayah membuatnya marah, kecewa, dan tidak mau menerima perlakuan ayahnya yang dianggap tidak memperlihatkan kasih sayang. Trauma tersebut membuatnya selalu dekat dengan ibunya (Widiatmoko, 2004: 34).

Dalam kehidupannya, ia tidak pernah lepas dari figur perempuan. Sosok ibu yang berhasil melancarkannya hingga jenjang sekolah kejuruan. Sosok nenek yang muncul sebagai seorang wanita yang tabah, periang, tidak kenal putus asa, walaupun diusir oleh suaminya, dan selalu ingin membahagiakannya dengan hadiah-hadiah kecil. Seorang adik perempuan dengan suami sering sakit-sakitan memberinya tanggung jawab lebih untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Citra perempuan itulah yang secara tidak sadar mempengaruhi pemikiran Pramoedya Ananta Toer untuk menciptakan tokoh perempuan dalam setiap karyanya sebagai perempuan yang tegar menghadapi segala tekanan dari pihak lain. Sementara itu, citra lelaki yang digambarkan Pramoedya Ananta Toer terdiri atas dua golongan, yaitu orang yang baik dan tidak baik. Hal ini merupakan hasil imajinasi Pramoedya Ananta Toer tentang dirinya, orang yang baik dan selalu bertangggung jawab, dan ayahnya, yang kurang memberi kasih sayang dan selalu mementingkan dirinya sendiri. Tokoh pengusasa, oleh Pramoedya Ananta Toer selalu digambarkan sebagai bentuk individu maupun kolektif yang selalu berusaha menekan pihak lain sebagai wujud pemaksaan kehendak mereka.

Drama Mangir ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ketika dalam pengasingannya di Pulau Buru dengan perubahan dari bentuk asalnya Babad Mangir dari bentuk tradisional ke teater panggung nasional dan menjauhkan karakter tokoh-tohnya dari tanggapan-tanggapan mistis (Prihatinawati, 1997: 2—3). Penggambaran tokoh-tokoh di dalamnya diceritakan mengalami kecemasan berangkai antartokoh sehingga timbul kekalutan batin dan berakhir dengan kematian beberapa tokohnya, Wanabaya, Baru Klinthing, Para Demang, dan Ki Ageng Pamanahan, dengan tragis. Pemimpin merupakan pencerminan masyarakat dimana tujuan-tujuan masyarakat menjadi tujuan pribadinya. Keseimbangan dalam konsep Jawa merupakan dasar dalam kehidupan untuk mencapai keselarasan (Prabowo, 2004: 172—173).

Drama Mangir karya Pramoedya Ananta Toer menceritakan perebutan kekuasaan atas tanah perdikan bernama Mangir pada jaman pemerintahan Panembahan Senopati. Salah satu bentuk pemerintahan teror yang diungkap lewat Panembahan Senopati, Raja Mataram kurun 1575 — 1607, yang bercita-cita menjadi penguasa tunggal, menundukkan perlawanan gigih penduduk Desa Mangir dengan cara kotor dan keji. Wanabaya atau Ki Ageng Mangir, pemimpin desa yang letaknya kurang 20 km dari ibukota, dirayu putri kesayangan Senopati, dijebak, dan kemudian dibunuh dalam sebuah pertemuan keluarga (Toer, 2004: sampul belakang). Panembahan Senopati menugaskan putrinya, Putri Pambayun, untuk merayu Wanabaya untuk menetralisir penduduk Mangir. Pambayun menyamar sebagai penari yang hidup di tengah masyarakat. Dalam keadaan hamil, Putri Pambayun diantar secara baik-baik oleh sang suami. Demi memperkokoh sistem politik, kebahagiaan sang putri, termasuk masa depan janin yang dikandungnya dan suami, harus disisihkan (Scherer dalam Toer, 2004: xi).

Wanabaya yang mempunyai latar
sosial yang demokratis berusaha mengorbankan dirinya untuk mencapai kesetiaan cinta. Baru Klinthing sebagai penasehat yang menjadi pusat pertimbangan dalam pelaksanaan tata kehidupan Desa Mangir menjadi penghalang Wanabaya untuk mewujudkan hasrat seksualnya kepada Adisaroh (Pambayun). Pengungkapkan perasaan dan mempertahankan cinta terhadap Pambayun berlawanan dengan motivasi Tumenggung Mandaraka dan Baru Klinthing yang berusaha mewujudkan dan mempertahankan keinginan mereka, yaitu aktualisasi dalam masyarakat dengan pemenangan atas Mangir. Bentuk pemenuhan kebutuhan seksual ini dipertentangkan dengan naluri menghancurkan terlihat dalam kepribadian mereka.

Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi alasan pemilihan topik penelitian ini adalah gambaran mengenai tokoh-tokoh yang ditafsirkan sebagai sosok penguasa yang labil karena tidak memiliki integritas sebagai pengemban amanat sebagai pemimpin masyarakat. Ketidakberdayaan secara politis dikompensasikan (pengalihan atau penggantian tujuan-tujuan) dengan menekan pihak lain sebagai pencapaian kesuksesan. Fungsi pemimpin yang seharusnya mementingkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi tidak terjadi dalam Mangir. Oleh karena itu, digunakan teori psikoanalisis untuk menjelaskan alasan seseorang yang tidak menunjukkan kematangan kepribadian dapat menjadi seorang pemimpin masyarakat yang selalu menekan pihak lain untuk mewujudkan keinginannya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada subbab 1.1, maka rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:

a. Bentuk-bentuk kiasan yang diungkapkan tokoh sebagai pengganti dari keinginan yang mengalami represi.

b. Arus bawah sadar tokoh yang merupakan keterkaitan antara kemunculan keinginan dan mekanisme pertahanan untuk memperoleh obyek dari keinginan.

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan uraian di atas, penelitian ini mempunyai dua tujuan pokok, yaitu tujuan teoretis dan tujusn praktis.

Secara teoretis tujuan penelitian ini adalah mengaplikasikan teori psikoanalisis pada karya sastra untuk mengetahui kepribadian pada tokoh-tokoh drama Mangir.

Secara praktis, penelitian ini sangat penting bagi pengajaran dan apresiasi sastra. Penelitian ini akan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami dan menghargai karya sastra genre drama dan karya sastra pada umumnya. Masyarakat di sini adalah masyarakat dalam arti luas, yaitu masyarakat ilmiah dan masyarakat pada umumnya.

1.4 Landasan Teori

Teori kepribadian ialah sebuah pemikiran yang sistematis mengenai manusia sebagai individu. Teori ini dilahirkan oleh adanya kebutuhan-kebutuhan manusia untuk mengenal individu lainnya secara lebih mendalam dan melihatnya dari jarak yang lebih dekat (Kartono, 2005: 2). Berusaha mengerti segala aspek kejiwaan dan aspek-aspek jasmaniah manusia dalam satu hubungan integritas karena kedua aspek ini pada hakikatnya tidak dapat dipisah-pisahkan. Sekalipun demikian, kepribadian merupakan satu individualitas yang kompleks dan tidak dapat diekspresikan secara komplit (Kartono, 2005: 5—6).

Definisi kepribadian adalah satu totalitas dari disposisi-diposisi psikis manusia yang individual dan memberi kemungkinan untuk memberi perbedaan ciri-ciri dengan yang lainnya. Disposisi adalah kesediaan kecenderungan untuk bertingkah laku tertentu yang sifatnya konstan dan terarah pada tujuan tertentu. Indivudual adalah setiap manusia mempunyai kepribadiannya sendiri yang khas dan tidak identik dengan orang lain (Kartono, 2005: 10).

Dinamika kepribadian merupakan studi tentang keterkaitan antara ingatan atau pengamatan dengan perkembangan, bagaimana kaitan antara pengamatan dengan penyesuaian diri pada individu, dan seterusnya. Teori kepribadian berusaha memformulasikan konsep-konsep atau rumusan-rumusan teoretis yang bisa menguraikan dan menerangkan relasi dari prinsip-prinsip yang diambil dan disatukannya. Semua faktor yang menentukan atau mempengaruhi tingkah laku manusia merupakan obyek penelitian dan pemahaman dinamika kepribadian (Koeswara, 1991: 3—4).

Menurut Freud, setiap individu sesungguhnya bukan makhluk yang bebas, melainkan organisme yang tingkah lakunya ditentukan oleh sejumlah penentu bagi tingkah laku manusia yang berasal dari diri individu itu sendiri (naluri atau dorongan). Setiap individu hanya mampu dimengerti apabila individu tersebut dilihat dan dipelajari sebagai totalitas yang utuh. Kepribadian individu ditentukan oleh pengalaman masa kanak-kanak awal dan tidak akan berubah sepanjang hidup individu tersebut. Individu hidup dalam dunia perasaan, emosi, nilai-nilai, atau makna-makna subyektifnya. Tingkah laku individu itu sendiri didorong oleh penyebab dari dalam diri sendiri yang sebagian besar tidak disadari, digerakkan, dan ditujukan untuk menguasai ketegangan yang ditimbulkan oleh memuncaknya energi psikis dari Id. Prinsip-prinsip yang membawahi tingkah laku manusia pada ahirnya dapat ditemukan melalui obsevarsi dan penelitian (Koeswara, 1999: 20—26).

1.4.1 Kepribadian Psikoanalisis

Peletak dasar psikoanalisis adalah Sigmund Freud yang dihubungkan dengan strutur kepribadian, yaitu pikiran bawah sadar, prasadar, dan sadar atau Id, Ego, dan Superego (Kadaryati, 2004: 23). Freud (Wright via Kadaryati: 24) menyatakan bahwa kekuatan mimpi berasal dari dorongan tidak sadar untuk mencari kesempurnaan (pemecahan masalah). Harapan bawah sadar tersebut bertemu dengan harapan pikiran dan berusaha untuk menemukan kepuasan khayali yang akhirnya muncul dalam mimpi yang merupakan kedok untuk mewujudkan represi yang berasal dari bentuk kompromi antara tuntutan kemauan dengan kekuatan sensor.

Freud membagi kepribadian manusia menjadi tiga unsur atau sistem, yaitu Id, Ego, dan Superego. Meskipun ketiga hal tersebut memiliki fungsi, kelengkapan, prisnsip-prinsip operasi, dinamisme, dan mekanisme yang berbeda, namun saling berkaitan membentuk totalitas. Untuk mempermudah pembahasan, ketiga sistem tersebut diuraikan sebagai berikut.

1. Id

Id adalah sistem kepribadian yang paling dasar, sistem yang di dalamnya terdapat naluri-naluri bawaan yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur kekuatan untuk sistem-sistem yang lain dalam operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Id tidak bisa menolerir adanya penumpukkan kekuatan yang menyebabkan meningginya taraf tegangan individu secara keseluruhan atau keadaan tidak menyenangkan, baik adanya rangsangan dari luar maupun dari dalam. Id berusaha meredakan ketegangan itu dengan prinsip mempertahankan konstansi yang bertujuan menghindari keadaan tidak menyenangkan dan mencapai keadaan yang menyenangkan (Koeswara, 1991: 32—33).

2. Ego

Ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada obyek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan. Ego terbentuk pada struktur kepribadian individu sebagai hasil kontak dengan dunia luar. Antara Id dan Ego selalu bertentangan, karena fungsi mereka yaitu Id sebagai naluri dari individu sedangkan Ego merupakan pemberi pertimbangan tentang bentuk yang mampu diterima oleh masyarakat (Koeswara, 1991: 34).

3. Superego

Superego adalah sistem kepribadian yang berisi aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik-buruk) dan terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai oleh individu dari sejumlah sosok yang berperan. Fungsi utama Superego adalah sebagai pengendali impuls dari Id agar tersalurkan dalam bentuk yang diterima oleh masyarakat, mengarahkan Ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral daripada kenyataan, dan mendorong individu kepada kesempurnaan (Koeswara, 1991: 35).

Proses perpindahan fungsi antara Id, Ego, Superego akan dijelaskan sebagai berikut. Pertama, adanya kebutuhan atau hasrat yang muncul pada Id yang kemudian dialihkan ke obyek lain karena ketidakmampuan Id untuk membedakan fungsi obyek secara nyata. Kedua, proses identifikasi Ego dengan menelusuri kembali bagaimana Id memperoleh gambaran yang mengakibatkan munculnya keinginan dan berusaha mengurangi ketegangan di dalamnya. Proses ini akan mengalami penyensoran atau usaha Ego untuk menghalangi Id agar tidak memunculkan naluri merusak dan mampu diterima oleh dunia luar sehingga muncul mekanisme pertahanan Ego. Ketiga, hambatan yang dilakukan Superego sebagai wakil dari dunia luar untuk mengarahkan Ego sehingga menyebabkan situasi tegang dengan Id untuk memperebutkan Ego sebagai pembantu untuk menguasai sistem yang lainnya.

Menurut hukum kelangsungan energi, energi bisa diubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain, tetapi tidak akan hilang dari alam semesta secara keseluruhan. Berdasarkan hukum ini, Freud mengajukan gagasan bahwa energi fisik bisa diubah menjadi energi psikis, dan sebaliknya yang dijembatani oleh Id dengan naluri-nalurinya. Dalam konsep Freud, naluri adalah representasi psikologis bawaan dari eksitasi (ketegangan dan terangsang) pada tubuh yang diakibatkan oleh munculnya suatu kebutuhan. Dari sini bisa diperoleh gambaran bahwa pada naluri terdapat empat unsur, yakni: sumber, upaya, obyek, dan dorongan. Sumber naluri adalah kebutuhan, sedangkan obyeknya adalah hal-hal yang bisa memuaskan kebutuhan yang kemudian mendorong individu untuk bertindak atau bertingkah laku. Di samping menerima rangsangan dari dalam berupa naluri, individu juga menerima rangsangan dari luar berupa sikap dan perilaku individu lain dan kondisi lingkungan tempat mereka berada. Freud berpendapat bahwa naluri-naluri yang terdapat pada manusia bisa dibedakan menjadi dua macam, yaitu: naluri kehidupan dan naluri kematian. Naluri kehidupan adalah naluri individu yang bersifat membangun atau menjga kelangsungan hidup oleh Freud lebih diperhatikan mengenai libido seksual atau “Eros”, sementara itu naluri kematian atau “Thanatos” adalah naluri yang ditujukan kepada perusakan atau penghancuran atas apa yang telah ada yang ditujukan pada dua arah, yaitu kepada dirinya sendiri (Mashokis) dan kepada orang lain yang bersifat menghancurkan (Koeswara, 1991: 35—40).

Peranan atas pengaruh lingkungan terhadap kepribadian individu ditunjukkan melalui fakta di samping bisa memuaskan atau menyenangkan individu, lingkungan juga bisa memfrustasikan, tidak menyenangkan, dan mengancam atau membahayakan individu. Apabila rangsangan yang membahayakan itu terus-menerus mengancam individu, maka individu ini akan mengalami kecemasan. Freud membagi kecemasan ke dalam tiga jenis, yaitu: kecemasan riel (kecemasan terhadap bahaya-bahaya nyata yang berasal dari dunia luar), kecemasan neurotik (kecemasan atas tidak terkendalinya naluri-naluri primitif Ego yang mendatangkan hukuman), dan kecemasan moral (tekanan dari Superego atas Ego individu karena telah melakukan tindakan yang melanggar moral). Meskipun dapat menyebabkan individu berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan (meningkatkan tegangan), kecemasan memiliki arti penting bagi individu sebagai pengingat adanya bahaya yang mengancam sehingga individu mampu memperiapkan langkah-langkah yang perlu diambil untuk bahaya yang sedang mangancamnya (Koeswara, 1991: 44—45).

Kecemasan menjadi penganggu yang sama sekali tidak diharapkan kemunculannya oleh individu sehingga muncul pertahan Ego sebagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan Id maupun menghadapi tekanan Superego. Represi, yaitu mekanisme yang dilakukan Ego untuk meredakan kecemasan dengan menekan dorongan-dorongan tersebut ke alam bawah sadar. Sublimasi, yaitu mengubah dan menyesuaikan keinginan Id dengan bentuk lain agar bisa diterima oleh masyarakat. Proyeksi, yaitu pengalihan dorongan yang menyebabkan kecemasan kepada orang lain. Displacement, yaitu pengungkapan dorongan kepada obyek atau individu lain yang mempunyai kadar bahaya lebih rendah dari obyek aslinya. Rasionalisasi, yaitu upaya individu menyelewengkan atau memutarbalikkan kenyataan yang mengancam Ego melalui alasan yang masuk akal. Reaksi formasi, yaitu mengendalikan dorongan primitif secara sadar dengan mengungkapkan tingkah laku sebaliknya. Regresi, yaitu mekanisme di mana individu kembali ke taraf perke
mbangan yang lebih rendah untuk lari dari kenyataan yang mengancam (Koeswara, 1991: 44—45).

1.4.2 Bahasa dan Ketidaksadaran

Psikoanalisis, menurut Mandiyant (dalam Rokhman, 2003: 43), merupakan kajian terhadap karya sastra untuk mengetahui identitas individu-individu yang berada di dalamnya. Seperti juga mimpi, beginilah awal kerja Freud, pada hakikatnya (karya) sastra memiliki struktur metafora. Artinya, karya diutarakan apa yang ingin diutarakan—berdasarkan kesadaran pengarangnya tentang sesuatu yang ingin dikatakan—dan pengarang justru mengatakan ‘hal lain’. “Hal lain” yang memungkinkan adanya pemahaman dan proses tahu tentang dimensi simbolik tuturan maupun dalih-dalih tekstualnya yang menguasai kelahiran teks Freud mencoba menawarkan kritik dalam ruang baru, ruang ketidaksadaran yang merangkai simbol-simbol yang terdapat dalam karya sastra. Kritikuspun mendapatkan ruang gerak dalam lahan yang benar-benar berupa rimba belantara (Mandiyant dalam Rohman, 2003: 46—47).

Menurut Lacan, struktur bahasa lebih dulu hadir sebelum manusia berada dalam perkembangan mental secara nyata (Lodge, 1995, 82). Lacan menyatakan dalam “The Interpretation of Dreams”, Freud mengarahkan pada wacana bahasa dalam analisisnya (Lodge, 1995: 91). Bahasa sebagai sebuah sistem tanda, menurut Saussure, memiliki dua unsur yang tak terpisahkan, yaitu: penanda dan petanda. Wujud penanda dapat berupa bunyi-bunyi ujaran atau tulisan, sedangkan petanda adalah unsur konseptual, gagasan, atau makna yang terkandung dalam penanda tersebut (Abrams via Nurgiyantoro, 2002: 43).

Ketidaksadaran menyembunyikan arti dalam imaji-imaji simbolik yang dibaca dan diartikan. Mimpi yang diputarbalikkan dan penuh teka-teki bekerja mengikuti hukum-hukum penanda. Sesuatu distorsi psikis dinyatakan kembali sebagai suatu sifat khas penanda ketimbang dorongan pralinguistik yang misterius. Bagi Lacan tidak pernah ada penanda yang tidak terganggu. Psikoanalisisnya adalah retorik ketidaksadaran yang ilmiah (Shelden, 1991: 86). Langkah kerja Freud sebagai bukti pada ilmu kebahasaan, kesimpulan logis dan dialektika pengalaman merupakan perbandingan dari analisis perkembangan linguistik sebagai kehadiran langsung dalam ketidaksadaran.

Penafsiran pada simbol bahasa ini merupakan langkah awalnya untuk membuka jalan bawah sadar melalui struktur bahasa yang mampu dipergunakan untuk menafsirkan mimpi. Enstellung, distorsi, merupakan motivasi untuk memfungsikan mimpi-mimpi yang akan diungkapkan yang mempunyai dua kecenderungan. Pertama, Verdichtung, kondensasi, yaitu struktur yang ditempatkan di atas penanda sebagai medan metafora dan menunjukkan proses perkembangan mekanisme kepuitisan pada fungsi obyek (Lacan dalam Lodge, 1995: 92). Jakobson (via Nurgiyantoro, 2002: 48—49) menyatakan bahwa fungsi puitik memproyeksikan prinsip ekuivalensi dari proses seleksi parataksis (boleh juga disebut paradigmatik) ke poros kombinasi (sintaksis) yang ditentukan berdasarkan prinsip konstitutif yang berupa bentuk-bentuk kesejajaran yang paling tepat atau mengandung unsur estetis. Kedua, Verschiebung, pengalihan, yaitu pemutaran makna atau metonimi yang dijabarkan oleh Freud sebagai cara bawah sadar untuk menghindari sensor Ego (Lacan dalam Lodge, 1995: 92).

Hubungan tersebut dijelaskan dalam konsep penanda-petanda (S/s) untuk menjelaskan pengaruh penanda terhadap petanda yang ditransformasikan sebagai berikut.

Pertama, struktur metonimi yang mengindikasikan hubungan yang mengijinkan penghilangan penanda yang mengisi kekurangan dalam keberadaannya dan menghubungkannya ke dalam obyek atau petanda melalui pembelokkan arti. Tanda (-) yang ditempatkan dalam ( ) menggambarkan garis hubung yang dalam penggunaannya tidak mempunyai hubungan arti, karena menghasilkan makna yang berlainan (Lacan dalam Lodge, 1995: 95). Struktur tersebut didasari oleh tingkah laku individu yang dibangkitkan oleh keadaan peka dan ditujukan untuk mengurangi ketegangan yang merupakan upaya naluri yang pada dasarnya bersifat konservatif (selalu berupaya memelihara keseimbangan) dengan memperbaiki dan mengatasai keadaan kekurangan sehingga mengalami proses pengulangan antara tegang-tenang-tegang atau keharusan mengulang (Koeswara, 1991: 37).

Kondisi tersebut merupakan mekanisme Ego untuk menjaga terpeliharanya prinsip kesenangan Id dengan mengalihkan setiap keinginan, dalam konsep Lacan merupakan penanda, menuju petanda alih atau obyek pemenuhan yang lain, dengan memberi alasan tertentu melalui prinsip mekanisme pertahanan Ego sehingga keinginan itu membelok ke arah keinginan yang lain atau pengalih dengan obyek pengalih yang mampu memberikan bayangan pemenuhan keinginan. Sifat energi psikis yang tidak pernah hilang mengkondisikan keinginan untuk terus bertahan sampai memperoleh pemuasan sesuai dengan sehingga penghilangan keinginan dan pengisian dengan keinginan lain lebih dimaksudkan untuk memberi bayangan pemuasan keinginan yang tidak dapat dibedakan secara nyata oleh Id dengan tujuan untuk mengarahkan naluri-naluri tersebut agar dapat diterima oleh individu yang lain.

Misalnya, ketika kita sedang lapar, digambarkan sebagai penanda atau keinginan, maka naluri selalu diarahkan untuk mencari nasi, sebagai obyek atau petanda, namun dengan tidak adanya petanda nasi, maka naluri diarahkan untuk bekerja, sebagai penanda alih yang tidak mempunyai hubungan penandaan di dalamnya. Pembelokan petanda untuk makan yang seharusnya keadaan dimana seseorang membutuhkan nasi menjadi keadaan dimana seseorang membutuhkan uang sebagai usaha menjaga keseimbangan dan mengatasi keadaan dan menghilangkan petanda nasi. Hubungan antara penanda-petanda, yaitu lapar-nasi, dan penanda—petanda alih, yaitu bekerja-uang, hanya mempunyai hubungan kontekstual yaitu dengan mempunyai uang maka kita dapat membeli nasi dan kondisi tersebut merupakan salah satu contoh mekanisme Ego yaitu rasionalisasi dengan tindakan memberi bayangan bahwa pemenuhan keinginan untuk makan hanya bisa dilaksanakan jika seseorang mempunyai uang untuk membeli nasi sebagai obyek pemenuhan.

Kedua, struktur metafora yang menunjukkan sebuah substitusi (penggantian) penanda ke penanda yang mengakibatkan kerancuan makna. Tanda (+) menggambarkan loncatan untuk menghasilkan makna (Lacan dalam Lodge, 1995: 95). Perubahan atau variasi dari pilihan objek dimungkinkan oleh sifat energi psikis yang bisa dialiharahkan. Jika suatu objek tidak bisa diperoleh, baik disebabkan objek tersebut tidak ada, maupun disebabkan adanya hambatan untuk mencapai objek tersebut, maka energi psikis bisa diarahkan kepada objek lainnya (Koeswara, 1991: 37).

Misalnya, keinginan hidup dalam kebebasan memang identik dengan keterikatan. Semua hal yang mempunyai arti membatasi ruang gerak selalu dihubungkan dengan keter
ikatan (sangkar, penjara, kamar, dan lain-lain). Contoh penanda di atas, yaitu hidup sebagai penanda dan sangkar penanda alih tidak mempunyai hubungan makna di dalamnya, karena yang satu mengarah pada binatang sebagai petanda alih sedangkan yang lainnya mengarah pada manusia sebagai penanda sehingga terjadi loncatan makna. Perbedaan makna tersebut membentuk metafora sebagai wujud mekanisme Ego untuk mengungkapkan keinginannya. Kepentingan lingkungan yang tidak memungkinkan seseorang mengungkapkan “kehidupan yang tidak bebas” mengakibatkan Ego membuat simbolisasi ‘sangkar’ yang mempunyai makna “tempat untuk memelihara burung agar selalu bisa diawasi dan tidak lepas”. Mekanisme represi inilah yang menimbulkan kerancuan antara keinginan sebagai penanda dan keinginan penanda alih yang diungkapkan karena hubungan arbriterasi di dalamnya.

Perbedaan metonimi dan metafora berdasarkan kesesuaian fungsi dalam ujaran adalah kondisi penggunaan oleh mimpi untuk menandai obyek, “Pertimbangan Pengggambaran”, dalam menyusun operasi pembatas dan sistem memori yang merupakan “bujur” penghilangan sistem ke dalam bentuk semiologi pada level fenomena ekspresi alamiah yang pasti. Mimpi dipergunakan untuk menggambarkan kenyataan logis—dalam beberapa kasus seperti dibuat-buat sehingga diibaratkan sebagai pelampiasan—yang dipergunakan Freud untuk menghubungkan kerja mimpi yang selalu mengikuti hukum penanda (Lacan dalam Lodge, 1995: 92—93). Motivasi bawah sadar yang diwujudkan dalam kesadaran merupakan alasan pemanggilan kembali efek psikis yang diakui sebagai ketidaksadaran (Lacan dalam Lodge, 1995: 94—95).

Menurut Hirsch, krisis yang terjadi dalam karya sastra disebabkan oleh faktor-faktor tidak sadar yang muncul atau dengan sengaja dimunculkan dari pikiran ataupun tindakan bawah sadar tokoh-tokohnya. Selanjutnya, Clerg menyatakan bahwa pikiran dan tindakan bawah sadar itu muncul ke permukaan dalam bentuk penyimpangan tingkah laku disebabkan oleh kondisi kejiwaan tokoh-tokoh itu dalam keadaan terganggu. Dengan demikian, sebenarnya hubungan antara penelitian sastra dan psikoanalisis akan menafsirkan penyakit neurosis seorang pasien (tokoh) melalui ucapan, respon, dan imajinasinya (dalam Kadaryati, 2004: 18).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan anatara keinginan dan obyek terbangun berdasarkan peran dalam penceritaan sehingga membentuk satu “spiral” yang bergerak dengan dinamis dan tanpa henti karena tidak ada obyek yang berdiri sendiri dan bersifat statis di dalam dirinya sehingga muncul penafsiran yang selalu berubah. Dengan adanya model persepsi yang saling berlainan, sebagai ciri keunikan manusia, terhadap sebuah obyek, maka memungkinkan perubahan orientasi antara keinginan dan obyek keinginan. Mekanisme ini merupakan tindakan Ego untuk mengurangi ketegangan Id melalui pengalihan dan penggantian keinginan ke dalam bentuk yang lain. Mekanisme tersebut oleh Lacan dijabarkan sebagai metonimi dan metafora sebagai ketidakmampuan individu untuk meredakan kecemasan yang kemudian melakukan pengalihan dan penggantian yang diungkapkan melalui struktur kebahasaan. Hal ini terlihat melalui cara kerja psikoanalisis yang selalu mengarahkan pada analisis ucapan-ucapan pasien yang ditujukan kepada terapeut sebagai data empiris yang dipergunakan untuk mengetahui peristiwa-peristiwa masa lalu pasien yang mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Oleh karena itu, teori psikoanalisis merupakan kajian untuk membedah sebuah karya sastra melalui struktur kebahasaan yang terdapat di dalam sebuah teks, dalam hal ini hubungan antara keinginan sebagai penanda dan obyek keinginan sebagai petanda.

1.5 Metode Penelitian

Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode hermeneutika, yaitu metode yang berusaha menafsirkan makna tersembunyi atau dengan sengaja disembunyikan dalam sebuah bahasa sebagai ruang kosong yang harus ditafsirkan oleh pembaca untuk memperoleh makna yang paling optimal (Ratna, 2004: 45—46). Hermeneutika Freudian—ilmu dan seni penafsiran—bermuara pada kehIdupan dalam sebuah panggung yang dikawal mekanisme sensor maupun penyamaran-penyamaran ekspresi yang mampu membongkar suatu tinanda (signifie) yang tersembunyi atau tertIdur dalam jaringan penanda (significant) (Mandiyant dalam Rohman, 2003: 47).

Freud menerapkan metode ini dalam tiga teknik analisis, yaitu: asosiasi bebas, analisis mimpi, dan transferensi. Freud (Koeswara, 1991: 30) menyatakan bahwa dalam mengungkapkan asosiasi bebas merupakan langkah untuk mengetahui ketidaksadaran yang memegang peranan penting dalam terjadinya gangguan neurotis seperti histeria yang mempunyai batasan, yaitu memori, sensor, dan imajinasi. Analisis mimpi, menurut Freud (Koeswara, 2004: 30—31) merupakan cara untuk mengetahui keinginan-keinginan atau pengalaman-pangalaman apa yang direpres oleh pemimpi di alam sadarnya. Transferensi, menurut Freud (Koeswara, 2004: 66) merupakan gejala pengalihan yang dikenali sebagai mekanisme pertahanan Ego dimana keinginan tak sadar yang dialihkan sasarannya dari objek yang satu ke objek yang lainnya.

Langkah kerja metode ini sebagai berikut.

  1. Memindahkan segala ucapan, renungan, hafalan, atau angan-angan tokoh dalam bentuk monolog interior yang dicatat secara kronologis;
  2. Menganalisis secara deskriptif mengenai ketidaksadaran yang dialami tokoh;
  3. Mencari makna simbol yang diungkapkan sebagai penyebab gejala-gejala neurotik tokoh, misalnya impian tokoh, kelakar, ataupun ucapan yang terpeleset. Dalam langkah kerja ini diperlukan pemahaman tentang cara tokoh menyembunyikan keinginannya dan mengutarakan dengan hal lain. Oleh karena itu, analisis metafora diperlukan untuk mengetahui bentuk loncatan makna yang hadir dan diungkapkan secara tidak sadar oleh tokoh melalui bahasa kiasan; dan
  4. Mencari arus bawah sadar tokoh sebagai bentuk pengalihan keinginan. Bentuk pengalihan biasa dilakukan untuk mengantisipasi kemunculan naluri secara langsung dan bersifat destruktif. Mekanisme ini merupakan langkah Ego untuk mengubah pemahaman Id akan gambaran pemuas keinginan karena obyek yang dikehendaki tidak tersedia sehingga membutuhkan obyek lain sebagai penggantinya. Analisis metonimi diperlukan untuk mengetahui bentuk penghilangan keinginan yang mengisi kekurangan dalam keberadaannya dan menghubungkannya ke dalam obyek melalui pembelokkan arti sehingga dapat diketahui bagaimana perubahan keinginan dan kepribadian tokoh dalam membangun sebuah cerita.

1.6 Sistematika Penyajian

Sistematika penyajian dalam penelitian ini terdiri atas tiga bab. Bab I yaitu pengantar yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian. Bab II yaitu analisis represi keinginan yang merupakan tingkah laku tokoh untuk mengungkapkan keinginan dengan ungkapan atau kiasan. Bab III yaitu analisis arus bawah sadar tokoh yang berisi pengalihan keinginan tokoh untuk mencapai obyek dari keinginannya. Bab IV berisi kesimpulan yang merupakan hasil dari penelitian terhadap drama Mangir dengan tinjauan psikoanalisis.

Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (Chapter 2)

BAB II

ANALISIS REPRESI KEINGINAN

Pembahasan pada bab II dan III akan difokuskan pada empat tokoh dalam drama Mangir, yaitu Putri Pambayun, Wanabaya, Baru Klinthing, dan Tumenggung Mandaraka dengan alasan sebagai berikut. Pertama, keberadaan mereka dalam drama Mangir memiliki porsi yang lebih banyak dibandingkan tokoh-tokoh yang lain. Kedua, konflik-konflik yang terjadi pada tokoh-tokoh dalam drama Mangir disebabkan atau dipengaruhi oleh keberadaan mereka sehingga permasalahan yang muncul dalam kepribadian tokoh-tokoh yang lain selalu dipusatkan untuk mengungkapkan kepribadian mereka. Ketiga, sosok pemimpin dalam diri mereka secara politis dikompensasikan (pengalihan atau penggantian tujuan-tujuan) dengan menekan pihak lain sebagai pencapaian kesuksesan sehingga lebih menarik untuk diadakan penelitian untuk menjelaskan mengapa seseorang yang tidak menunjukkan kematangan kepribadian menjadi seorang pemimpin masyarakat. Pemimpin merupakan cerminan masyarakat dimana tujuan-tujuan masyarakat menjadi tujuan peribadinya. Keseimbangan dalam konsep Jawa merupakan dasar dalam kehidupan untuk mencapai keselarasan (Prabowo, 2004: 172—173).

Represi keinginan merupakan mekanisme yang dilakukan Ego untuk meredakan kecemasan dengan menekan dorongan-dorongan tersebut ke alam bawah sadar (Koeswara, 1991: 44). Dengan adanya represi yang berlebihan akan menyebabkan dorongan energi psikis yang kuat menyebabkan gejala neurotik pada individu. Ketika Ego mulai melemah, misalnya kondisi tidur, stres, atau kelelahan fisik, naluri akan bergerak menuju alam bawah sadar menuju obyek dari kebutuhannya. Dari sini, Ego, sebagai pengendali naluri, berusaha mewujudkan secara konstan dengan mengganti naluri dalam bentuk lain yang mempunyai kesamaan sehingga Id merasa sudah mendapatkan obyek keinginannya.

Dalam tahap ini diperlukan pemahaman tentang cara tokoh menyembunyikan keinginannya dan mengutarakan dengan hal lain. Oleh karena itu, analisis metafora diperlukan untuk mengetahui bentuk loncatan makna yang hadir dan diungkapkan secara tidak sadar oleh tokoh melalui bahasa kiasan. Struktur metafora yang menunjukkan sebuah substitusi (penggantian) penanda ke penanda yang mengakibatkan kerancuan makna. Tanda (+) menggambarkan loncatan untuk menghasilkan makna (Lacan dalam Lodge, 1995: 95).

Munculnya simbolisasi keinginan mengakibatkan penafsiran secara bertahap melalui obyek yang saling menutupi sebagai akibat dari loncatan sehingga makna yang ingin diperoleh harus melalui proses pemaknaan atas keinginan yang menutupinya terlebih dahulu untuk mengetahui simbolisasi keinginan di bawahnya. Oleh karena itu, metode analisis mimpi dipergunakan sebagai prakondisi untuk mengungkap represi keinginan pasien. Analisis mimpi, menurut Freud (Koeswara, 2004: 30—31) merupakan cara untuk mengetahui keinginan-keinginan atau pengalaman-pangalaman apa yang direpres oleh pemimpi di alam sadarnya sebagai penyebab gejala-gejala neurotik tokoh, misalnya impian tokoh, kelakar, ataupun ucapan yang terpeleset.

Freud memandang mimpi sebagai jalan utama menuju ke alam tak saar karena isi mimpi merupakan obyek yang diinginkan oleh keinginan-keinginan yang direpres. Oleh karena itu, mimpi bisa ditafsirkan sebagai pemuasan simbolis dari keinginan. Penafsiran mimpi yang menyertakan analisis makna-makna yang samar dari simbolisasi keinginan tersebut mempermudah untuk mengetahui gejala-gejala motivasional yang dialaminya (Koeswara, 1991: 66).

2.1 Putri Pambayun

Semut adalah hewan kecil yang merupakan simbol binatang lemah dan mudah mati walaupun diinjak tanpa memakai kekuatan yang besar. Simbol ini diungkapkan bawah sadar Putri Pambayun sebagai penggambaran atas dirinya. Makna lain muncul ketika semut tersebut menyusup ke dalam organ tubuh manusia dan menyebabkan gangguan bagi manusia tersebut. Jika dilakukan dalam jumlah besar, sekawanan semut, menyebabkan gangguan tertentu yang mengarahkan manusia bertindak tanpa sadar sehingga mengancam kehidupannya.

Putri Pambayun

:

Dalam gandengan tangan Ki Wanabaya Muda, bahkan di bawah bayang-bayangnya, semut pun tiada kan gentar (Mangir: 23).

Berdasarkan pemaknaan di atas, terdapat keinginan lain yang berusaha diungkapkan oleh Putri Pambayun, yaitu kedatangannya ke Mangir bersama rombongan waranggana, prajurit Mataram, bermaksud mengganggu ketentraman dan menghancurkan Perdikan Mangir. Naluri tersebut muncul sebagai penggabungan tugasnya sebagai telik sandi dan seorang wanita yang membutuhkan kasih sayang dari lawan jenis. Secara tidak sadar keinginan-keingian tersebut membentuk konflik dalam diri Putri Pambayun karena pemenuhan atas keduanya mempunyai pertimbangan yang saling berlawanan. Pemenuhan libido seksual yang mengharuskan Putri Pambayun menikahi Wanabaya dan hidup selamanya tidak berterima dengan pemenuhan naluri merusaknya, yaitu menghancurkan Perdikan Mangir. Berdasarkan tingkat keinginan dan kondisi yang harus diproritaskan untuk menjaga kelangsungan hidup Putri Pambayun, ia menjalani kehidupan di Perdikan Mangir untuk memperoleh keterangan pertahanan meraka. Hal ini dilakukan Id untuk mengurangi ketegangan antar keinginan dan menjalani kehidupannya tanpa terganggu oleh dorongan keinginan-keinginan. Mekanisme ini adalah usaha Id untuk mencapai kepuasan dan menghindari ketegangan dalam dirinya. Dari sini terlihat kepribadian Putri Pambayun sebagai sosok wanita yang pandai memposisikan diri untuk memenuhi keinginannya.

Asap adalah hasil pembakaran berupa gas dan mempunyai unsur-unsur yang mampu meracuni manusia. Orang yang terlalu banyak menghisap asap akan mengalami gejala sesak nafas dan bila berlebihan akan menyebabkan kematian. Hubungan kausalitas tedapat antara api dan asap. Api merupakan penyebab terjadinya asap dan mempunyai sifat menghancurkan. Api yang mempunyai sifat panas sering dihubungkan dengan perasaan marah dan benci pada manusia karena dampak yang ditimbulkan mereka sama, yaitu keinginan untuk merusak segala hal yang berada di sekitar mereka.

Mata adalah bagian dari organ tubuh manusia yang dipergunakan untuk melihat. Adanya penghalang pada mata untuk mengetahui keadaan di sekitarnya akan menyebabkan gangguan pada individu tersebut untuk bergerak atau meneruskan langkahnya. Dengan adanya asap yang membuat pedih pada mata, maka seseorang harus menghindari asap agar arah pandang
dan langkahnya tidak terganggu.

Putri Pambayun

:

Sudah semestinya, kakang takut asap pedihkan mata si kekasih ini (Mangir: 41).

Melalui pemaknaan di atas dapat diperoleh keinginan yang beruaha diungkapkan oleh bawah sadar Putri Pambayun yaitu kagagalannya membuat keluarga yang sejahtera karena terganggu oleh dendam antar golongan masyarakat tempat ia menjalani kehidupannya kini, yaitu Mataram dan Mangir. Perasaan benci kepada ayah yang memberi tugas, sebagai telik sandi, bertentangan dengan hati nuraninya dan Putri Pambayun mengharapkan Wanabaya bersedia menolong dirinya memecahkan permasalahan yang sedang dihadapinya kini dengan menyingkirkan penyebab permasalahannya tersebut, yaitu Panembahan Senapati. Perilaku ini adalah usaha bawah sadar Putri Pambayun untuk menghilangkan ketegangan, antara libido seksual dan thanatos, dengan mempergunakan pengalihan keinginan yaitu menarik simpati Wanabaya. Berdasarkan pemenuhan keinginan tersebut, terdapat beberapa keinginan yang mengalami represi, yaitu: menghancurkan Perdikan Mangir, memisahkan Wanabaya dan Baru Kinthing, dan membunuh ayahnya, yang semuanya itu merupakan naluri thanatos untuk memenuhi libido seksualnya dan membebaskan diri dari perasaan takut.

Pohon beringin mempunyai bentuk yang besar dengan daun yang lebat. Orang yang mempunyai pohon beringin di pekarangannya secara otomatis berusaha memperbanyak jumlah tanaman, bisa yang lainnya, agar terlihat lebih nyaman. Bentuknya yang rindang membuat setiap orang yang berada di bawahnya terlindungi dari sinar matahari, tetapi juga berbahaya jika pohon tersebut tidak kokoh. Keberadaan pohon beringin juga identik dengan sifat-sifat mistik atau berhubungan dengan roh halus. Kondisi di sekitar pohon beringin yang dianggap keramat menggambarkan alam baka atau kematian.

Burung adalah jenis hewan yang dapat terbang dengan mempergunakan sayapnya. Kebiasaan melayang-layang atau tidak menginjak tanah tersebut disamakan dengan pikiran manusia, terdapat pada orang yang sedang melamun, karena mereka tidak berpikir berdasarkan kenyataan. Perilaku ini dilakukan manusia untuk mengurangi beban pikiran atau ketegangan setelah mengalami konflik dengan individu lainnya. Kicauan burung mempunyai dua pengaruh pada manusia, yaitu perasaan gembira karena suara kicau burung mampu mengusir kepenatan atau perasaan marah karena terganggu konsentrasinya.

Putri Pambayun

:

Kalaupun Adisaroh mati, semoga matilah di sini, di bawah naungan beringin, ditingkah kicauan burung tiada henti (Mangir: 42).

Berdasarkan pemaknaan di atas terdapat gambaran keinginan Putri Pambayun untuk memperoleh perlindungan dari orang yang dianggap paling kuat, Wanabaya, agar terhindar dari permasalahan yang sedang dialaminya, yaitu bayang-bayang kematian yang akan menimpa keluarganya, meskipun ia mengetahui bahwa individu yang menjadi tempat berlindungi tersebut tidak mampu menghadapi serangan dari Mataram karena rahasia pasukannya telah diketahui oleh pasukan Mataram. Keinginan untuk membunuh ayahnya muncul untuk mengurangi ketegangan, tetapi mengalami represi yang kemudian dialihkan dengan membenci Tumenggung Mandaraka yang selalu membicarakan pelunasan hutang janjinya kepada sang ayah.

Banyaknya konflik yang terjadi dalam diri Putri Pambayun menyebabkan mekanisme berpikir untuk memilih kepentingan yang mampu menjamin kelangsungan hidupnya melemah. Oleh karena itu, energi psikis libido seksual yang diutamakan semakin berkurang dan berganti dengan naluri thanatos yang secara tidak langsung membuka jalan bagi keinginan yang mengalami represi sebelumnya untuk kembali hadir. Situasi yang tidak memungkinkan untuk mewujudkan naluri tersebut, maka pelaksanaannya melalui tindakan membenci Tumenggung Mandaraka selaku sosok yang menyebabkan kegelisahan dalam dirinya.

Berdasarkan fungsinya, kandang merupakan alat yang dipergunakan sebagai tempat tinggal dan menjaga hewan peliharaan agar tidak kabur dan terhindar dari bahaya yang mengancam mereka. Adanya hewan yang terlepas dari kandang menandakan bahwa orang yang bertugas menjaga kandang tersebut lengah atau melalaikan tugasnya. Konsekuensi yang harus ditanggung adalah mendapat marah dari majikan. Namun nasib yang lebih buruk akan diterima oleh pemilik hewan karena ia kehilangan sesuatu yang berharga dengan proses pemeliharaan yang menyita waktu, harta, dan tenaga.

Putri Pambayun

:

Coba lihat di kandang sana (Mangir: 58).

Ungkapan di atas menggambarkan kesedihan Putri Pambayun terhadap harta yang paling berharga bagi dirinya, keluarga, yang direnggut Tumenggung Mandaraka. Pikiran yang kacau tidak memungkinan Putri Pambayun untuk mengambil tindakan rasional. Oleh karena itu, muncul keinginan untuk memarahi Suriwang sebagai distorsi ketidakmampuan menjaga kedamaian keluarga.

Putri Pambayun

:

Begitu kakang pergi, kuperhatikan burung-burung dalam sangkar itu. Dari manakah asalnya? Pecah dari telor,
mengembarai angkasa, tertangkap manusia, dikurung sampai entah berapa lama
….Tidak, Kang, tak suka lagi aku pada tambra. Dan jago aduan dalam kurungan itu. Terkurung entah sampai berapa lama, untuk mati tarung di gelanggang sabung (Mangir: 60).

Melalui perumpamaan perjalanan hidup burung, Putri Pambayun menggambarkan kehidupan yang bebas sesuai dengan maksud hatinya dan tidak menginginkan kehadiran ikatan yang menghalangi langkahnya. Terlihat usaha penggambaran kehidupannya mulai dari kelahiran, menjalani kehidupan dengan bebas, kemudian bertemu dengan Wanabaya, dan hidup menetap di Perdikan Mangir. Kesalahan yang dilakukannya di masa lalu memunculkan kemarahan, sebagai reaksi pembalik, yang diwujudkan dengan membenci Perdikan Mangir, kemudian dialihkan kepada para Tetua Perdikan sebagai tempat Wanabaya dan memberi ijin kepadanya untuk menikah yang menyebabkan Putri Pambayun harus tinggal menetap di Perdikan Mangir.

Tambra adalah salah satu jenis ikan yang dipelihara oleh manusia untuk menjadi hiasan maupun lauk makanan. Gambaran ikan hias adalah kehidupan yang dipelihara untuk menggembirakan hati mereka dengan melihat gerak-geriknya, sedangkan sebagai lauk ia akan ditangkap oleh manusia, dipelihara, dan kemudian disembelih untuk diambil dagingnya. Melalui penggambaran ini, Putri Pambayun berusaha mengungkapkan keinginannya untuk terlepas dari ekploitasi yang ditujukan kepadanya, baik dari Wanabaya, dengan ikatan perkawinan dan tanggung jawab sosial, maupun Panembahan Senapati, dengan tugas menjadi telik sandi dan hukuman yang akan diberikan jika tugasnya gagal.

Ayam jago dipelihara untuk dijadikan aduan dan akan menjalani pertarungan selama masih mampu menghadapi lawan-lawannya. Wanabaya mempunyai kesamaan dengan kondisi yang dialami oleh ayam jago tersebut. Ia dipelihara oleh penduduk Mangir dengan balasan bersedia menjadi pemimpin prajurit mereka dan rela mati untuk membela kehormatan penduduk Mangir. Berdasarkan kondisi tersebut, Putri Pambayun berusaha menggambarkan ketakutan ditinggal mati oleh Wanabaya karena tugasnya sebagai panglima perang.

Gambaran di atas merupakan kondisi Putri Pambayun yang ingin menjalani kehidupan tanpa tekanan dari pihak manapun yang membuat hidupnya menderita. Melalui gambaran tiga hewan tersebut, terdapat tiga pihak yang menginginkan pengorbanan dirinya, yaitu: ayam jago (Wanabaya), tambra (Panembahan Senapati), dan burung (tetua perdikan). Adanya pertentangan dalam diri Putri Pambayun untuk memenuhi keinginan dari pihak tertentu mengakibatkan melemahnya daya kehidupan Pambayaun. Kondisi ini, merangsang kemunculan naluri thanatos dalam diri Putri Pambayun untuk mengorbankan semua pihak. Ketidaksukaannya memelihara hewan-hewan tersebut diwujudkan dengan menjadi pasukan perang Mangir karena ketidakmampuannya untuk mempertimbangkan pihak yang mampu menjaga kelangsungan hidupnya. Dengan menjadi seorang prajurit, ia membiarkan pihak-pihak tersebut berperang dan menunggu pihak berhak mendapatkan kehidupannya.

2.2 Wanabaya

Lidah adalah indera pengecap yang berada di dalam mulut. Keberadaan lidah mempunyai hubungan dengan bagaimana seorang manusia bisa berbicara. Gambaran tersebut identik dengan perilaku berbicara manusia untuk mengungkapkan keinginan kepada orang lain. Melalui gambaran berikut Wanabaya berusaha mengungkapkan kebenciannya terhadap Baru Klinthing yang merupakan pengatur strategi dan selalu mengandalkan kemampuan berbicaranya untuk menguasai orang lain.

Wanabaya

:

….Apa guna sembunyi di belakang lidah yang lain? (Mangir: 24)

Melalui penggambaran tersebut, Wanabaya berusaha mengungkapkan keinginan untuk menghancurkan wibawa Baru Klinthing. Hal ini dipengaruhi oleh faktor eksternal yang mengakibatkan keinginan dengan distorsi menikahi Putri Pambayun. Posisi Wanabaya sebagai panglima perang Mangir diterima sebagai kepura-puraan karena ingin menikahi Putri Pambayun. Adanya hambatan pemenuhan libido seksualnya terhadap Putri Pambayun menjadi penyebab kemunculan naluri tersebut.

Wanabaya

:

Sejak detik ini kau tinggal di sini, jadi rembulan bagi hidupku, jadi matari untuk rumahku (Mangir: 27).

Rembulan berasal dari kata ‘bulan’ yang mempunyai arti benda langit yang memancarkan sinar pada malam hari. Kondisi malam hari identik dengan keadaan tenang karena semua aktivitas manusia berhenti pada malam hari. Berdasarkan kondisi tersebut, Wanabaya berusaha menggambarkan keinginannya untuk menjalani hidup tenang dan jauh dari segala tuntutan sosial yang membuat dirinya tertekan. Kehadiran Putri Pambayun merangsang kemunculan keinginan untuk menikah sehingga pemenuhi keinginan untuk tenangnya mampu diperoleh.

Matari berasal dari kata ‘matahari’ yang mempunyai arti benda langit yang mengeluarkan cahaya pada siang hari. Kondisi siang hari identik dengan kesibukan manusia untuk menjalankan tugas dan bekerja. Kondisi ini menggambarkan keadaan yang sibuk dan penuh tekanan kepentingan antar individu sehingga terjadi benturan yang mengakibatkan keributan. Dari sini terlihat Wanabaya menggambarkan keinginanya untuk menghindari segala kegiatan yang berhubungan dengan tugasnya. Pengingkaran yang dilakukan ini ditujukan untuk menolak keinginan Baru Klinthing untuk berperang dan berusaha mengganti sosok tersebut dengan Putri Pambayun yang disimbolkan sebagai ‘matahari’ yang mempunyai makna keinginan Wanabaya agar kehadiran Putri Pambayun mampu memberi sinar atau pencerahan bagi kehidupannya.

Keinginan untuk menikah terlihat saat ia mempertahankan keberadaan Putri Pambayun di Mangir. Adanya penggambaran ‘rembulan’ dan ‘matari’ menandakan posisi Wanabaya yang terjepit di antara dua kepentingan, yaitu keinginan dirinya untuk menikahi Putri Pambayun, sebagai simbol ‘bulan’, dan kepentingan Baru Klinthing, sebagai simbol ‘matahari’. Oleh karena itu, pemilihan keingina
n untuk menikah dilakukan sebagai penengah dari kepentingan tersebut dengan pemikiran bahwa kehadiran Putri Pambayun akan menambah etos kerjanya dalam memimpin pasukan Mangir. Dari sini terlihat Wanabaya melakukan represi terhadap rangsangan yang berasal dari Baru Klinthing yang membangkitkan naluri untuk menghilangkan sosok Putri Pambayun.

Senjata merupakan alat yang dipergunakan seorang prajurit untuk berperang. Hal ini identik dengan nafsu yang bergelora karena adanya emosi yang kuat membuat seorang prajurit berani berperang dan mempergunakan senjata. Posisi Wanabaya sebagai seorang panglima perang identik dengan prajurit sehingga mempunyai makna keinginan untuk membela Perdikan Mangir yang terhambat oleh libido seksual sehingga Baru Klinthing menjadi ragu atas sikapnya dan berusaha mengganti posisinya sebagai panglima perang.

Wanabaya

:

….Setajam-tajamnya senjata, bila digeletakkan takkan ada sesuatu terjadi (Mangir: 31).

Senjata identik dengan alat kelamin laki-laki karena mempunyai bentuk yang hampir sama, yaitu panjang dan berfungsi sebagai alat untuk menundukkan lawan (jenis). Ketidaksetujuan Baru Klinthing atas pernikahannya sesuai dengan kondisi ‘senjata yang digeletakkan’ yang mempunyai makna pengebirian atas libido seksual dan mempunyai keturunan. Pemaknaan tersebut menggambarkan keinginan Wanabaya untuk memberontak terhadap keputusan Baru Klinthing demi mempertahankan haknya untuk menikahi Putri Pambayun.

Gambaran libido seksual Wanabaya yang menguat berusaha memperoleh pemuasan. Oleh karena itu, keinginan untuk menikah menjadi kebutuhan yang mendesak dan menunjang kelangsungan hidupnya. Dari sini Wanabaya untuk menghindari Baru Klinthing yang menolak pernikahannya. Berdasarkan kenyataan yang terjadi, yaitu penolakan Baru Klinthing atas pernikahannya dan sikap sangsi Baru Klinthing atas pengabdiannya kepada Mangir.

Laut adalah bagian dari bumi yang mempunyai daerah paling luas sehingga mampu menampung segala macam benda tanpa mengalami perubahan luas dirinya. Laut identik ombak yang mampu menggulung dengan besar sehingga orang yang berada di dalam akan meninggal. Berdasarkan pemaknaan itu terdapat keinginan Wanabaya untuk menikahi Putri Pambayun tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai masayarakat Mangir.

Wanabaya

:

Suaranya yang berubah, hati dalam dadanya tetap utuh seperti Laut Kidul (Mangir: 34).

Melalui gambaran laut, Wanabaya berusaha mengungkapkan dirinya seorang yang mampu menampung segala penderitaan Putri Pambayun tanpa membuat dirinya menjadi berubah sikap. Wanabaya berusaha melakukan represi naluri akibat rangsangan dari Baru Klinthing yang diganti menjadi sikap rela berkorban untuk Perdikan Mangir sesuai dengan sifatnya ‘seperti Laut Kidul’. Tindakan ini dilakukan karena dendam terhadap Baru Klinthing yang menghalangi niatnya untuk menikahi Putri Pambayun.

Tambra adalah salah satu jenis ikan yang dipelihara oleh manusia untuk menjadi hiasan maupun lauk makanan. Gambaran ikan hias adalah kehidupan yang dipelihara untuk menggembirakan hati mereka dengan melihat gerak-geriknya, sedangkan sebagai lauk ia akan ditangkap oleh manusia, dipelihara, dan kemudian disembelih untuk diambil dagingnya. Melalui gambaran di atas, Wanabaya berusaha mengungkapkan keinginannya untuk mengekploitasi Putri Pambayun dengan ikatan perwaninan dan tanggung jawab.

Wanabaya

:

Batu akan segera tiba, sebentar lagi akan jadi kolammu untuk tambra (Mangir: 60).

Usaha Wanabaya untuk menikahi Putri Pambayun merupakan keinginan untuk mendapat kesenangan karena mampu menguasai orang lain. Tindakan ini merupakan distrosi dari keinginan menyerang dan menguasai Mataram. Perilaku yang tidak mampu dipenuhi ini diganti menjadi menguasai kehidupan Putri Pambayun sebagai obyek yang lebih mudah untuk menciptakan perasaan senang dalam dirinya.

2.3 Baru Klinthing

Kata ‘tombak’ yang mengganti ‘penis’ mempunyai kesamaan sebagai berikut. Pertama, bentuknya yang mempunyai bagian yang disebut tangkai atau gagang sehingga mampu dipegang. Kedua, selalu mempunyai posisi tegak dan diletakkan dengan posisi berdiri apabila dipergunakan dan ditidurkan apabila tidak dipergunakan. Ketiga, sebagai sebuah senjata, tombak mempunyai makna alat yang mempunyai ujung runcing dan dipergunakan untuk melukai atau membunuh orang lain dengan tujuan memperoleh kemenangan atas sebuah persaingan atau pertempuran.

Baru Klinthing

:

(mencabut sebilah, melempar-tangkapkan pada daun meja, mengangkat dagu) Setiap mata bikinan Suriwang sebelas prajurit Mataram tebusan (Mangir: 5).

Tombak sebagai simbol kekuatan pasukan mempunyai kesamaan dengan alat kelamin laki-laki yang merupakan metafora libido seksual Baru Klinthing. Sebagai seorang pemuda yang sudah cukup memunculkan dorongan untuk mempunyai pasangan hidup yang berlainan jenis. Hal ini tidak dapat dipenuhi oleh Ego karena wujud fisiknya yang jelek. Kondisi ini membuat tidak ada perempuan yang tertarik kepadanya. Kalimat “singkirkan selebihnya di amben sana” mempunyai makna keinginan untuk menyingkirkan saingan-saingannya sehingga tidak menghalangi keinginannya untuk mendapatkan atau memenuhi kebutuhan libido seksualnya yang mempunyai obyek perempuan, dalam hal ini adalah Putri Pambayun.

Pedang merupakan alat yang berbentuk pisau besar dan panjang yang dipergunakan untuk melukai orang lain. Bagian yang tajam pada pedanng disebut mata pedang. Berdasarkan ciri dan fungsinya, pedang mempunyai makna sifat menguasai dengan melukai orang lain.

Baru Klinthing

:

Kepungan Mangir sama tajam dengan mata pedang pada lehernya (Mangir: 5).

Pedang yang mempunyai kesamaan dengan keinginan untuk mengalahkan Kerajan Mataram membentuk metafora dengan hubungan sebagai berikut. Pertama, pedang adalah alat yang dipergunakan prajurit dalam berperang. Kedua, akibat yang diberikan yaitu membuat orang lain tidak berdaya mempunyai kesamaan dengan keinginan untuk mengalahkan atau membuat Kerajaan Mataram menyerah tidak berdaya menghadapinya. Ketiga, bentuknya yang besar mempunyai kesamaan dengan trauma dan tugas yang harus dijalankan Baru Klinthing yaitu menghadapi serangan Kerajaan Mataram.

Metafora ‘pedang’ memberi gambaran keinginan Bru Klinthing untuk menaklukan dan menguasai Kerajaan Mataram melalui kekerasan atau peperangan. Perilaku ini menimbulkan kecemasan moral karena perilaku tersebut berlawanan dengan prinsip yang dianut oleh masyarakat Perdikan Mangir, yaitu tidak ingin menjadi penguasa karena merupakan simbolisasi dari penindasan dan kekerasan.

‘Sarang’ mempunyai makna tempat yang dibuat atau dipilih oleh binatang, unggas, untuk bertelur dan memelihara anaknya. ‘Kandang’ mempunyai makna bangunan tempat tinggal binatang atau ruang berpagar tempat memelihara binatang. Berdasar ungkapan di atas, kedua penanda tersebut mencerminkan tingkah laku binatang, unggas, yang melupakan kandangnya ketika bertelur karena selalu memilih tempat yang lebih nyaman untuk melakukan proses reproduksi.

Baru Klinthing

:

Setiap kau tergila-gila seperti seekor ayam jantan, tahu sarang tapi tak kenal kandang (Mangir: 32).

Persepsi ‘kandang’ dan ‘sarang’ yang diungkapkan oleh Baru Klinthing memberi gambaran kesetiaan dan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri dan selalu ingat atas bantuan yang telah diberikan oleh orang lain. ‘Kandang’ mempunyai kesamaan makna dengan Perdikan Mangir yang merupakan tempat Wanabaya diasuh dan dibesarkan, sedangkan ‘sarang’ merupakan simbolisasi bagi Putri Pambayun yang menjadi obyek libido seksual Wanabaya. Berdasarkan pemaknaan tersebut terlihat bahwa Baru Klinthing berusaha menguasai Wanabaya dengan menjadikannya orang yang selalu menuruti perintahnya. Hal ini terlihat pada usaha Baru Klinthing untuk mengikat Wanabaya dengan janji setia kepada Perdikan Mangir sebagai tanah kelahirannya dan melupakan Putri Pambayun untuk dijadikan istri karena masih banyak perempuan lain di Pedikan Mangir.

Perilaku ini merupakan keinginan Baru Klinthing untuk mengingatkan bahwa pemenuhan libido seksual tersebut bisa diperoleh di Perdikan Mangir. Wanabaya bisa memperoleh ‘kandang’ dan ‘sarang’ secara bersama-sama sehingga tidak menimbulkan rasa cemburu dari pihak lain. Di samping itu, kedatangan Putri Pambayun menimbulkan naluri Baru Klinthing untuk memperoleh pasangan hidup. Dari sini terlihat keinginan Baru Klinthing untuk memperoleh kesetian adalah usaha untuk menghilangkan sosok Wanabaya yang mengancam pemenuhan libido seksualnya.

‘Kandang’ dan ‘sarang’ merupakan penggambaran dirinya untuk memperoleh ‘sarang’ (Putri Pambayun) karena tidak mendapat ‘kandang’ (perempuan yang berasal dari Perdikan Mangir). Kehadiran Wanabaya sebagai penghambat pemenuhan libido seksual menjadi distorsi keinginannya untuk menghancurkan wibawa Wanabaya di hadapan para Tetua Perdikan yang mendatangkan hukuman sehingga menjauhkannya dari Putri Pambayun. Perilaku ini dilakukan Ego untuk mengurangi tekanan naluri menghancurkan Kerajaan Mataram sehingga terjadi penyimpangan keluarnya libido seksual libido seksual secara tidak sadar melalui rangsangan kedatangan Putri Pambayun. Berdasarkan kenyataan bahwa Perdikan Mangir sedang mengalami serangan dari Kerajaan Mataram, maka Ego merepres naluri tersebut karena mengancam persatuan prajurit Mangir dan mengakibatkan kekalahan.

2.4 Tumenggung Mandaraka

Matari berasal dari kata matahari yang mempunyai arti benda langit yang mengeluarkan cahaya pada siang hari. Kondisi siang hari identik dengan kesibukan manusia untuk menjalankan tugasnya dan bekerja. Konstansi yang dilakukan matahari yang selalu muncul merupakan gambaran kesetiaan. Meskipun demikian, matahari identik juga dengan kekerasan karena unsur panas yang keluar dari dirinya. Oleh karena itu, ‘matahari’ mempunyai makna lain, yaitu kesetian yang diperoleh melalui kekerasan.

Tumenggung Mandaraka

:

Dan janji ditepati seperti matari pada bumi setiap hari? (Mangir: 45)

Kesetiaan dan pengorbanan Putri Pambayun menjadi penghalang naluri thanatos sehingga Ego melakukan represi dengan tujuan tidak mengganggu naluri untuk menguasai Pedikan Mangir dan menjaga wibawa Tumenggung Mandaraka sebagai penasehat dan orang tua angkat Putri Pambayun. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa Wanabaya akan pergi ke Mataram jika disuruh oleh Putri Pambayun. Pengabdian yang dinginkan dari Putri Pambayun merupakan perwujudan dari keinginannya untuk selalu menguasai orang lain.

Bulan yang mempunyai arti sebuah benda langit yang memancarkan sinar pada malam hari. Kondisi malam hari identik dengan keadaan tenang karena semua aktivitas manusia berhenti pada malam hari. Selain itu, bulan sering dipergunakan sebagai petunjuk arah sehingga identik dengan keinginan untuk melalui kehidupan tanpa takut tersesat dan terhindari dari segala rintangan. Penggambaran tersebut merupakan metafora dari keinginan Putri Pambayun untuk menikahi Wanabaya yang oleh Tumenggung Mandaraka diibaratkan seperti dalam impian.

Tumenggung Mandaraka

:

Percaya. Mendapatkan suami seperti dia tiada beda dapatkan bulan dalam impian (Mangir: 53).

Keinginan Tumenggung Mandaraka untuk menghancurkan Perdikan Mangir dengan menyetujui pernikahan Putri Pambayun dan Wanabaya merupakan strategi yang dipergunakannya untuk memperoleh kesempatan tinggal dan mendapat informasi pertahanan Pedikan Mangir. Selain itu, kehadiran Wanabaya sebagai suami Putri Pambayun bagi Tumenggung Mandaraka bukan sesuatu yang nyata karena ia lebih memilih menghancurkan Perdikan Mangir melalui peperangan dibandingkan penyatuan melalui pernikahan mereka. Penggambaran di atas merupakan keinginan Tumenggung Mandaraka untuk menghina Wanabaya sebagai seorang suami yang tidak diterima dan pernikahan mereka tidak pernah dianggap terlaksana.

Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (Chapter 3)

BAB III

ANALISIS ARUS BAWAH SADAR

Arus bawah sadar adalah proses kepribadian yang dialami tokoh dalam menghadapi sebuah peristiwa sehingga terjadi perubahan kepribadian di dalamnya. Pada proses ini terdapat mekanisme terwujudnya sebuah keinginan yang kemudian diarahkan untuk mendapatkan obyek sehingga terjadi konflik dengan Ego yang kemudian terjadi mekanisme pengalihan untuk menghindari tekanan dari Superego. Pada tahap ini mampu diketahui perkembangan kepribadian tokoh melalui motivasi-motivasi yang dimunculkan secara tidak sadar.

Menentukan arus bawah sadar tokoh dapat dilakukan dengan mencari alasan atas perilaku tersembunyi yang berada dalam pikiran tokoh sehingga menentukan penafsiran. Oleh karena itu, dipergunakan teknik transferensi, yaitu istilah yang merupakan monolog interior yang diketahui dari laporan tokoh dalam sebuah adegan untuk memperkenalkan kehidupan tokoh. Cara kerja teknik transferensi adalah mencari unsur bawah sadar melalui unsur-unsur kesadaran yang dianalisis untuk diberi makna kemudian dilanjutkan dengan pencarian makna yang ingin dianalisis. Transferensi merupakan gejala pengalihan keinginan tidak sadar dari obyek satu ke obyek yang lain. Melalui teknik ini, dapat diperoleh pemahaman atas cara-cara pasien dalam mengamati, merasakan, dan bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya (Koeswara, 1991: 66—67).

Analisis metonimi dipergunakan untuk mengetahui pengalihan keinginan tokoh untuk memperoleh ataupun mempertahankan obyek keinginanan. Struktur metonimi mengindikasikan hubungan yang mengijinkan penghilangan penanda yang mengisi kekurangan dalam keberadaannya dan menghubungkannya ke dalam obyek atau petanda melalui pembelokkan arti. Tanda (-) yang ditempatkan dalam ( ) menggambarkan garis hubung yang dalam penggunaannya tidak mempunyai hubungan arti karena menghasilkan makna yang berlainan (Lacan dalam Lodge, 1995: 95).

Kondisi tersebut merupakan mekanisme Ego untuk menjaga terpeliharanya prinsip kesenangan Id dengan mengalihkan setiap keinginan, dalam konsep Lacan merupakan penanda, menuju petanda alih atau obyek pemenuhan yang lain, dengan memberi alasan tertentu melalui prinsip mekanisme pertahanan Ego sehingga keinginan itu membelok ke arah keinginan yang lain atau pengalih dengan obyek pengalih yang mampu memberikan bayangan pemenuhan keinginan. Sifat energi psikis yang tidak pernah hilang mengondisikan keinginan untuk terus bertahan sampai memperoleh pemuasan sehingga penghilangan keinginan dan pengisian dengan keinginan lain dimaksudkan untuk memberi bayangan pemuasan yang tidak dapat dibedakan secara nyata oleh Id dengan tujuan mengarahkan naluri-naluri agar dapat diterima oleh masyarakat.

3.1 Putri Pambayun

3.1.1 Menikahi Wanabaya

Sebagai seorang telik sandi, Putri Pambayun mempunyai keinginan untuk mengetahui segala rahasia dari musuhnya, dalam hal ini adalah Perdikan Mangir. Keinginan ini masuk dalam kategori naluri thanatos yang bertujuan merusak orang lain, yaitu: hubungan antara Wanabaya, Baru Klinthing, dan masyarakat Mangir. Bayangan yang muncul untuk memenuhi Id adalah memecah belah persahabatan Wanabaya dan Baru Klinthing yang merupakan anggota masyarakat Perdikan Mangir.

Putri Pambayun

:

Digandeng Ki Ageng Mangir Muda begini, siapa dapat lepaskan diri? (Mangir: 24)

Adanya hambatan dari Superego, maka Ego membentuk mekanisme reaksi formasi dengan mengalihkan naluri thanatos Putri Pambayun menjadi sangat mencintai Wanabaya. Perilaku mencintai Wanabaya untuk memenuhi keinginan Id tersebut mampu diterima oleh Superego karena keinginan mempertahankan dan mencintai pasangan lawan jenis membuat Baru Klinthing dengan terpaksa mengijinkan Wanabaya menikahi Putri Pambayun. Melalui mekanisme ini, Ego mampu memenuhi dorongan naluri merusak Putri Pambayun, berdasarkan kenyataan bahwa pemegang kendali tata kehidupan Mangir adalah Baru Klinthing, sedangkan Wanabaya merupakan orang yang paling dicintai maka keinginannya akan terpenuhi demi menjaga keutuhan pasukan Mangir. Berdasarkan kenyataan itulah Ego mengalihkan energi psikis Id sebagai distori keinginan untuk menghancurkan Perdikan Mangir.

Berdasarkan keinginan Id, Ego berusaha menahan kemunculannya secara terbuka untuk menjaga kelangsungan hidup Putri Pambayun. Ego berusaha mengalihkan keinginan Id agar tidak mendapat hambatan dari Superego, yaitu: tanggapan dari Baru Klinthing yang selalu waspada terhadap orang asing dan keinginan Baru Klinthing untuk mempertahankan status lajang Wanabaya. Selain itu, permusuhan antara Mangir dan Mataram tidak memungkinkan Ego melaksanakan keinginan Id. Namun bayang-bayang ketakutan Putri Pambayun bila tidak memenuhi tugasnya akan mendapat hukuman dari ayahnya membentuk kekuatan yang tidak mampu direpres oleh Ego.

3.1.2 Membicarakan Kematian

Perasaan cinta Putri Pambayun terhadap Wanabaya mampu menggantikan keinginannya yang terdahulu, yaitu menghancurkan Mangir dan menimbulkan konflik dalam diri Id yang mengakibatkan ketegangan. Berdasarkan faktor keinginan dengan energi psikis yang paling kuat, Ego mengutamakan libido seksual dan melakukan represi naluri merusak terhadap Mangir yang sudah terlebih dahulu diwujudkan dengan membuat Baru Klinthing cemburu sehingga energi psikis yang ditimbulkan tidak terlalu besar. Melalui distorsi keinginan untuk menghancurka
n, Ego mengambil energi dari keinginan seksual Putri Pambayun untuk diwujudkan ke alam sadar Putri Pambayun melalui mekanisme reaksi formasi dengan menikahi Wanabaya sebagai perilaku ketidaksadaran Putri Pambayun.

Putri Pambayun

:

(tergagap-gagap, mengeluh) Sudah empat kali tiga puluh hari. Janji ini, apakah hari ini harus ditepati. (Mangir: 40)

Putri Pambayun

:

Namun setiap perpisahan menakutkan, setiap perceraian mengecutkan-seakan suatu latihan, Kakang akan tinggalkan aku seorang diri, untuk selamanya. (Mangir: 44)

Putri Pambayun

:

Suami gagah-berani tidak ada seperti dia, tampan dermawan, kasihnya tiada tara. Di mana lagi seorang wanita dapatkan suami seperti dia!….Ah-ah, hari tugas terakhir—habisnya suatu perjanjian. (Mangir: 45)

Tugas Pambayun sebagai telik sandi untuk menghancurkan Mangir muncul dengan pengalihan obyek Wanabaya sebagai pemimpin pasukan Mangir. Naluri ini semakin kuat karena perasaan bersalah yang timbul dalam diri Id karena telah menipu orang yang dicintainya membentuk sebuah keinginan baru, yaitu: menghukum diri (masokhis). Melalui hambatan dari Superego, dengan kewajiban seorang ibu yang mampu diterima masyarakat adalah menjaga dan memelihara anaknya sampai besar, maka Ego melakukan represi untuk mencegah kemunculan berdasarkan pertimbangan Superego, yaitu: menjaga kelangsungan hidup Putri Pambayun dan membentuk citra perempuan yang tegar sesuai dengan sosok Wanabaya dalam masyarakat Mangir.

3.1.3 Menolak Ajakan Tumenggung Mandaraka

Sebagai individu yang menginginkan kehidupan keluarga yang harmonis dan abadi, Putri Pambayun berusaha membebaskan keluarganya dari ancaman Kerajaan Mataram. Perasaan takut kehilangan suami dan anaknya serta kebencian terhadap ayahnya muncul sebagai distorsi keinginan untuk melindungi masyarakat Mangir. Melalui mekanisme pengganti ini, Id berusaha menghindari sensor dari Ego.

Putri Pambayun

:

Dan nenenda berkata juga: Ki Ageng Mangir Muda si Wanabaya, tua dekil bergigi goang, kulit mengkilat putih bersisik, berkaki pincang bertiongkat cendana? (Mangir: 46)

Putri Pambayun

:

(merengut meninggalkan Tumenggung Mandaraka, menuding ke bawah padanya) Dusta! Semua Dusta (Menutup mata dengan dua belah tangan). Patutkah putri raja, sulung permaisuri, didustai seperti ini? (Mangir: 47)

Putri Pambayun

:

Tak bolehkah sahaya memilih di antara dua? Hanya satu di antara dua? Betapa nenenda aniaya sahaya. (Mangir: 49)

Terdapat dua pertimbangan dari Superego dalam memenuhi keinginan Id. Pertama, norma sosial yang harus dijunjung tinggi oleh seorang anak, yaitu patuh terhadap perintah orang tuanya. Kedua, keberadaan Tumenggung Mandaraka yang selalu berada di dekat Putri Pambayun sebagai telik sandi pembantu yang selalu mengawasi dan mengingatkan Putri Pambayun pada tugasnya. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, Ego melakukan mekanisme proyeksi dengan Tumenggung Mandaraka sebagi obyek. Mekanisme ini di dasari kenyataan penyebab kecemasan Ego adalah Tumenggung Mandaraka yang selalu membicarakan janji yang harus ditepati, kebohongan tentang sosok Ki Ageng Mangir sehingga Putri Pambayun bersedia menerima tugas sebagai telik sandi, dan posisinya sebagai penasehat Kerajaan Mataram.

Putri Pambayun

:

(membelalak ketakutan dalam mengingat-ingat) Masih ingat sahaya, waktu itu, ayahanda baginsa habis titahkan bunuh kakanda Rangga, agar digantung dengan tali pada puncak pohon ara…..Menggigil ketakutan sahaya bersujud pada ayahanda, takut dibunuh maka persembahkan janji bakti, apa saja baginda kehendaki. (Mangir: 50)

Putri Pambayun

:

(terkejut, ragu-ragu, membelai perut) jabang bayi ini, jangan dengarkan ucapan nenenda Juru Martani. Untukmu kata-katanya tak mengandung syakti. Iangat-ingat, anakku, semoga kau lelaki, akan selalu tahu, nenendamu inginkan jiwa bapamu, dikirimkan ibumu ke Mangir untuk menangkap Ki Ageng Mangir dengan cinta….selesai sudah cerita tentang bohong dan dusta. (Mangir: 51—52)

Dari sini terlihat bahwa pengalihan diarahkan untuk membenahi ketegangan yang terjadi di dalamnya. Perilaku berbohong yang dilakukan oleh Putri Pambayun terhadap Wanabaya menimbulkan ketegangan dalam Id, dan oleh karena hambatan moral dari Superego, keinginan yang muncul adalah mengakui kebohongan dan meneruskan hidupnya. Sikap yang diambil oleh Ego adalah melakukan proyeksi dengan Tumenggung Mandaraka sebagai objek pengalih naluri thanatos Putri Pambayun.

Perasaan takut yang timbul dalam diri Pambayun menjadi penyebab keinginannya untuk menjadi telik sandi. Hal ini dilakukannya sebagai pelarian dari tekanan Panembahan Senapati atau ketakutan akan mengalami hal serupa seperti kakaknya yang merupakan distorsi untuk balas dendam atas perbuatan ayahnya tersebut. Berdasarkan trauma kejadian di atas, maka Ego berusaha mengurangi kecemasan neurotik dengan melakukan sublimasi sebagai istri Wanabaya yang dalam kenyataan bermusuhan dengan Mataram.

3.1.4 Berbohong Kepada Suriwang

Perasaan bersalah dan dendam membangkitkan naluri untuk merusak sebagai bentuk penggabungan dari perasaan bersalah karena telah berbohong kepada Wanabaya dan ketidakmampuannya untuk mencegah kepergian Tumenggung Mandaraka. Tindakan tersebut mengalami represi untuk mencegah permasalahan lebih lanjut, yaitu kesedihan yang akan muncul dalam diri Wanabaya dan mengakibatkan kekacauan pertahanan Mangir. Berdasarkan represi dari Ego, Id mengganti energi psikis terdahulunya dengan membentuk sebuah distorsi, yaitu keinginan untuk meluapkan kemarahan sebagai distorsi dari naluri merusaknya.

Putri Pambayun

:

Tidak, Suriwang. Coba kaulihat di kandang sana. (Mangir: 58—59)

Putri Pambayun

:

….(Merenung ke tanah) orang apa aku ini? Mengapa tak kutegah tak kusampaikan pada suami? (Gelisah) istri apa aku ini? Dapatkah suami percaya pada diri? (Mangir: 59)

Putri Pambayun

:

Tidak tahu, Suriwang. (Mangir: 59)

Putri Pambayun

:

Mana aku tahu, Suriwang, kalau diri sedang terlelap (Mangir: 59)

Putri Pambayun

:

Juga tidak kalau mengidam? (Mangir: 59)

Posisi sosial Putri Pambayun yang merupakan istri dari Wabaya, pemimpin pasukan Mangir, membentuk pemikiran Ego untuk melakukan mekanisme displacement dengan Suriwang sebagai obyek pengalihnya karena Suriwang adalah anak buah Wanabaya dan tidak diperbolehkan untuk membantah segala perintah baik dari Wanabaya, maupun Putri Pambayun sebagai istri dari pimpinan prajurit Mangir. Tugas sebagai bawahan Wanabaya yang mengharuskan Suriwang selalu waspada menjadi alasan Ego untuk mawujudkan keinginan Id dan memperkecil dorongan dari Superego. Perilaku Putri Pambayun untuk menjalankan mek
anisme tersebut adalah laporan palsu tentang posisinya ketika kuda milik Wanabaya hilang kemudian melampiaskan kekesalannya pada Suriwang karena tidak konssisten menjalankan tugas.

3.1.5 Membongkar Identitas Dirinya

Kondisi Putri Pambayun yang sedang mengandung menjadi alasan Ego untuk mencegah Wanabaya membunuhnya setelah mengetahui identitas asli dari Putri Pambayun. Kehadiran seorang anak merupakan harapan baru bagi orang tua untuk meneruskan atau menjaga keberlangsungan keturunannya. Berdasarkan pemikiran tersebut, Ego melakukan mekanisme regresi dengan Wanabaya sebagai obyek pengalihnya karena ia adalah sosok yang mampu mengatasi segala masalahnya. Hal ini dilakukan Ego berdasarkan kenyataan yang akan mengancam Putri Pambayun, yaitu kemarahan Baru Klinthing yang akan menyebabkan kematiannya dan posisi Wanabaya sebagai suami Putri Pambayun, yang menyayangi ia dan anak yang akan dilahirkannya tidak akan membuat Wanabaya membunuhnya. Perilaku ini secara tidak sadar kemudian mewujudkan naluri membunuh Putri Pambayun.

Putri Pambayun

:

Betapa penuh kasih kata-kata Kakang sekarang. Dari mana datangnya burung Kang? (Mangir: 60)

Putri Pambayun

:

Dalam kesibukan perang begini, patutlah seorang istri ajukan sesuatu? (Mangir: 61)

Putri Pambayun

:

Kakang, kalau bisikan si bayi kau anggap penting di sela-sela perang….( Mangir: 61)

Perasaan takut yang selalu muncul dalam pikiran Putri Pambayun merupakan sumber energi psikis yang riskan untuk memunculkan naluri yang sudah lama mengalami represi, yaitu membunuh ayahnya. Ketidakmampuan Ego untuk menahan keinginan tersebut membuat Ego melakukan mekanisme regresi pada Wanabya.

Putri Pambayun

:

Tidakkah Kakang akan berduka? (Mangir: 62)

Putri Pambayun

:

Tak pernah aku dustai suami setelah jadi istri. (Mangir: 63)

Putri Pambayun

:

Tiadakah kau dengar, Kakang, bisikan si bayi? Tiada kau ampuni, tiada kau kaihi lagi kami? Lupakah kau sudah pada kata-kata sendiri: rela hidup untuk istri, hidupmu hidupku, hidupku, hidupmu? (Mangir: 68)

Perilaku melindungi diri dan bersembunyi terlihat pada ucapan Putri Pambayun yang bersifat merayu agar Wanabaya tidak marah. Sikap regresi ini dilakukan Ego untuk menjaga kelangsungan hidup Pambayun. Dengan adanya anak dalam kandungan Putri Pambayun, maka Wanabaya tidak akan membunuhnya. Hal ini dimungkinkan karena keinginan Wanabaya, sebagai pemimpin perang, mempunyai keturunan untuk meneruskan pekerjaannya. Faktor tersebutlah yang menjadi Superego bagi Putri Pambayun untuk melaksanakan niatnya membunuh Panembahan Senapati. Dari sini terlihat sensor Ego tidak berperan dalam menahan naluri thanatos Putri Pambayun yang sudah lama mengalami represi muncul dalam wujud mempertahankan sosok laki-laki yang dicintainya.

3.1.6 Menjadi Pasukan Mangir

Motivasi untuk balas dendam merupakan perwujudan dari naluri membunuh Id dengan obyek Panembahan Senapati. Keinginan yang mengalami represi itu muncul karena bertentangan dengan prinsip Superego yaitu kedudukan Putri Pambayun dan kesalahannya dengan menjadi telik sandi mengakibatkan perpecahan antara Wanabaya dan Baru Klinthing. Ketegangan yang terus-menerus dalam diri Ego tersebut mengakibatkan melemahnya represi Ego.

Putri P
ambayun

:

Telik Mataram tertinggal seorang diri di tengah-tengah musuhnya sebagai nampaknya, dia istri setia Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya. Dalam kandungannya adalah bayi anaknya. (Mangir: 71)

Putri Pambayun

:

Akan kujalani hukuman, hanya setelah serahkan anak pada suami. Kau bernafsu hendak menghukum aku, karena cemburu pada keberuntungan Ki Wanabaya. (Mangir: 71)

Putri Pambayun

:

Juga kau sendiri, yang bersumpah satu hidup dan dalam mati dengan Ki Wanabaya. (Mangir: 73)

Ketidakmapuan Ego untuk melakukan sensor mempunyai dampak buruk bagi Superego. Kemampuan Id menembus Ego dan menyebabkan penderitaan bagi Wanabaya, yang berusaha membela kehormatan Putri Pambayun dan Baru Klinthing yang merasa pertahanan Mangir terbongkar karena perbuatan Putri Pambayun menjadi pemicu perpecahan kembali di antara mereka. Melihat kondisi tersebut, Ego melakukan mekanisme displacement dengan Panembahan Senapati sebagai obyek pengalihnya.

Putri Pambayun

:

Dengan Sarpa Kuda, ayahanda baginda hendak tarik seluruh balatentara Mangir ke Patalan, dengan seluruh balatentara dari utara akan melingkar menyapu Perdikan dan semua kademangan sekawan. (Mangir: 74)

Putri Pambayun

:

Untukmu dan perdikan, Kang, di mana dan kapan saja. (Mangir: 75)

Posisi Panembahan Senapati sebagai raja Mataram dan ayah Putri Pambayun menjadi sumber penyebab ketegangan. Oleh karena itu, Ego memberikan keterangan strategi pertahanan Mataram untuk mengurangi hambatan Superego sebagai bentuk mekanisme sublimasi agar diterima masyarakat sebagai penebus kesalahan yang dilakukan Putri Pambayun. Kondisi melemahnya proses represi Ego dipergunakan Id untuk melewati sensor dan menghindari Superego dengan melakukan penggantian keinginan balas dendam menjadi keinginan untuk membantu Mangir menyerbu Mataram. Perilaku ini mampu melewati sensor Ego yang berpikiran bahwa naluri tersebut muncul sebagai usaha Id memperbaiki dirinya. Kelemahan Ego untuk membedakan keinginan yang harus dipenuhi inilah yang menyebabkkan Id berhasil mewujudkan naluri merusak menjadi seorang prajurit Mangir.

Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (Chapter 3.2)

3.2 Wanabaya

3.2.1 Mempertahankan Putri Pambayun

Kemunculan libido selsual memaksa Ego untuk melakukan represi terhadap naluri thanatos yang sudah terpenuhi agar tidak terjadi ketegangan. Keberhasilan represi Ego terhadap naluri thanatos secara tidak langsung memerlukan mekanisme pengalih dengan mencari pasangan, perempuan, untuk mewujudkan naluri seksual Wanabaya. Usaha ini merupakan hasil pertimbangan moral Superego yang menganggap setiap manusia hanya diperbolehkan menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Hambatan tersebut membentuk persepsi pada Ego sehingga mengalihkan energi psikis Id dengan gambaran Putri Pambayun sebagai penyalur libido seksual Wanabaya.

Wanabaya

:

Inilah Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, datang menggandeng tandak tanpa tandingan. (Menatap mereka seorang demi seorang). Tak ada yang menyambut KI Wanabaya? Baik Adisaroh yang jaya, berilah hormat pada para tetua perdikan. (Mangir: 21)

Wanabaya

:

Kalian terlongok-longok seperti melihat naga. Mata kalian pancarkan curiga dan hati tak suka. Katakana siapa tak suka Wanabaya datang menggandeng perawan jelita. Katakan, ayoh katakan siapa tidak suka. (Mangir: 22)

Naluri thanatos yang dipenuhi oleh Ego dengan sublimasi sebagai panglima perang Mangir memunculkan libido seksual sebagai energi psikis pengganti yang hadir dalam bawah sadar Wanabaya. Keinginan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kondisi Id agar tetap menyalurkan energi bagi kehidupan individu. Naluri ini sebenarnya sudah lama berusaha diwujudkan oleh Id, namun mendapat hambatan dari Superego yang mengharapkan peranan Wanabaya dalam pasukan Mangir untuk menahan serangan dari Mataram dan direpres oleh Ego untuk menjaga kesempurnaan hidup Wanabaya.

Hambatan itu memunculkan ingatan Wanabaya terhadap tugas-tugas yang dilaksanakan dengan baik. Adanya kelemahan sensor dari Ego membuat naluri thanatos muncul dalam bentuk hinaan kepada Baru Klinthing. Naluri untuk merusak citra Baru Klinthing merupakan distorsi keinginan untuk menikah dan membenci para Tetua Perdikan karena tidak memberi dukungan. Dari sini terlihat bahwa sisi Superego Wanabaya melemah dan riskan menghadapi tekanan dari Id yang muncul sebagai naluri thanatos. Oleh karena itu, Ego melakukan mekanisme reaksi formasi dengan mengubah rasa benci kepada Baru Klinthing menjadi perilaku meminta balasan atas kewajiban yang telah ia lakukan selama ini untuk menikahi Pambayun. Hal ini didasari bahwa setiap orang yang telah menjalankan tugas dengan baik berhak mendapat imbalan sebagai penghargaan kepadanya.

Wanabaya

:

Kalau bukan aku pimpin perang, sudah kemarin dulu kalian terkapar di bawah rumput hijau. (Mangir: 22)

Wanabaya

:

Mataram? Apada daya Panembahan Senapati di hadapan Wanabaya Muda?���.Bila dusun-dusun luar benteng kita pukul hari ini���(Mangir: 24���25)

Wanabaya

:

Klinthing, kau belum lagi memberikan anggukan kepala. (Mangir: 26)

Wanabaya

:

Keliru kalau kalian anggap, aku datang menggandeng perawan ini, untuk mengemis sepotong kemurahan. (Mangir: 27)

Wanabaya

:

Sebagus-bagusnya panglima perang bila ditinggalkannya senjata dan balatentara sebesar-besar
pasukan akan binasa. (Mangir: 31)

Perilaku di atas tidak dapat diterima karena tuntutan tugas yang harus mementingkan kepentingan masyarakat merupakan kesempurnaan hidup yang harus dijalani Wanabaya untuk mempertahankan citranya sebagai panglima perang dan Tetua Perdikan. Munculnya anggapan panglima perang tidak pantas menikah dengan seorang penari keliling membuat Wanabaya harus menghadapi kenyataan bahwa Tetua Perdikan yang lain tidak setuju dengan perilakunya. Kecemasan muncul kembali dalam diri Ego karena mendapat hambatan dari Superego. Mekanisme sublimasi dilakukan dengan mengalihkan ketakutan kehilangan orang yang dicintai, Pambayun, menjadi seorang pemimpin yang bijak. Oleh karena itu, Wanabaya mengatakan bahwa kekuatan pasukan Mangir adalah persatuan antara dirinya, senjata, dan balatentara Mangir. Melalui mekanisme ini, Ego berpikiran bahwa Superego mau menerima Pambayun karena sikap mengormati Wanabaya terhadap prajurit Mangir.

3.2.2 Berjanji Untuk Setia Kepada Mangir

Energi psikis libido seksual Wanabaya yang meningkat membutuhkan pemenuhan dari Ego. Dari sini terlihat bahwa Id berusaha menguasai Ego Wanabaya. Oleh karena itu, Superego berusaha memberikan hambatan ketidaksetujuan para Tetua Persikan bahwa sikap yang dilakukan oleh Wanabaya merupakan ciri seorang penghianat dan tidak bisa diterima oleh masyarakat Mangir. Hambatan tersebut menyebabkan kecemasan sehingga Ego melakukan mekanisme reaksi formasi dengan menunjukkan sifat ksatria untuk selalu membela Mangir sebagai wujud imbalan atas persetujuan mereka terhadap perkawinannya.

Wanabaya

:

Telah kalian cemarkan kewibawaan Wanabaya Muda di hadapan orang luar. Kalian sendiri relakan perpecahan. (Mangir: 32)

Wanabaya

:

���.Jangan dikira kalian bisa belokkan Wanabaya. sekali Wanabaya Muda hendaki sesuatu, dia akan dapatkan untuk sampai selesai. (Mangir: 33)

Wanabaya

:

Sudah kalian lupa apa kata Wanabaya ini? Hanya setelah rebah di tanah dia takkan bela Perdikan lagi? Lihat, Wanabaya masih tegak berdiri. (Mangir: 33���34)

Sikap para Tetua Perdikan yang tidak setuju pada pernikahan Wanabay menyebabkan naluri thanatos yang sudah lama direpres Ego muncul kembali dalam bentuk kebencian pada Tetua Perdikan sebagai distorsi keinginan Id untuk melampiaskan naluri merusak dan menjaga Mangir. Keinginan tersebut muncul setelah mendapat rangsangan dari Superego yang menghendaki Wanabaya untuk meninggalkan Mangir jika masih ingin menikahi Putri Pambayun. Rangsangan dari Superego tersebut menyebabkan Id harus melakukan pemilihan kebutuhan untuk diungkapkan antara pemuasan libido seksual dengan menikahi Putri Pambayun atau merepres keinginan tersebut dan memunculkan kembali keinginan untuk menjadi orang yang dihormati di Mangir.

Wanabaya

:

(berendah hati). Apakah Wanabaya tiak berhak punya istri? (Mangir: 35)

Wanabaya

:

���.Aku lihat tujuh tombak berdiri di jagang sana. Tembuskanlah dalam diriku bila anggukan tiada kudapat. Dunia jadi tak berarti tanpa Adisaro dampingi hidup ini. (Mangir: 36)

Wanabaya

:

Adisaroh takkan bikin Wanabaya ingkar pada Perdikan. (Mangir: 37)

Pemenuhan salah satu keinginan kebutuhan tanpa pengandalian akan menyebabkan penyimpangan perilaku. Berdasarkan pertimbangan energi psikis yang lebih membutuhkan pemuasan, maka Ego mengutamakan naluri thanatos. Reaksi formasi pengalihan naluri membunuh menjadi mencintai para Tetua Perdikan dilakukan Ego untuk mencegah korban dari lain. Dari sinilah reaksi formasi tersebut dilakukan untuk menjaga kelangsungan hidup Wanabaya sebagai penebus kesalahan karena telah menuduh Wanabaya menjadi penyebab ketidaksetujuan para Tetua Perdik
an atas pernikahannya dengan melakukan tindakan mengangkat sumpah untuk selalu setia pada Mangir.

3.2.3 Menolak Pembicaraan Tentang Kematian

Hilangnya sosok perempuan dalam kehidupan Wanabaya merupakan ketakutan yang mengalami represi dari Ego. Ketegangan muncul jika sosok perempuan, sebagai pemuas libido seksual, karena memunculkan naluri thanatos sebagai Id pengalih dan menjaga keberadaan energi psikis bagi kehidupan individu. Mekanisme regresi dilakukan Ego untuk memenuhi keinginan Id agar lepas dari rasa takut yang menyebabkan ketegangan dalam dirinya. Perasaan takut kehilangan Putri Pambayun diganti dengan selalu memuja Putri Pambayun sehingga tidak lagi membicarakan perpisahan atau kematian. Sikap ini didukung oleh kondisi Putri Pambayun yang sedang hamil. Kesamaan persepsi antara Id, perasaan takut kehilangan kekasaih, dan Superego, lelaki akan lebih sempurna jika mempunyai keturunan sebagai penerus sebagai panglima perang menjadi pemikiran Ego untuk melakukan mekanisme regresi. Dengan mencegah Putri Pambayun membicarakan kematian, Ego mampu mengendalikan Id dan menjalankannya sesuai dengan prinsip Superego, yaitu membina keluarga yang bahagia dan sentosa.

Wanabaya

:

(tertawa, mamandang jauh). Tak ada yang lebih berbahagia dari si Wanabaya menjadi bapa, dari anak kelahiran rahim istrinya. (Mangir: 42)

Wanabaya

:

Sang maut bukan urusan kita. Kau akan lahirkan anak kita dengan selamat. Kau akan saksikan anakmu, cucu, dan buyutmu, Adisaroh! (Mangir: 42���43)

Wanabaya

:

Adisaroh, dalam mengandung betapa banyak rusuh dalam dadamu. Mari berjalan-jalan, nikmati keindahan tamanmu. (Mangir: 44)

Sikap yang dilakukan Ego ini merupakan bentuk represi terhadap naluri thanatos yang didistorsikan menjadi bayang-bayang kehilangan Pambayun. Hambatan dari Superego dengan memberi informasi tetang kehamilan Putri Pambayun menjadi rangsangan bagi Id untuk membangkitkan kembali naliri erros Wanabaya. Oleh karena itu, Ego berusaha mengarahkan Id untuk merayu Putri Pambayun agar meghindari percakapan tentang kematian dengan harapan Putri Pambayun akan mempertahankan hidup hingga kelahiran anaknya. Dari sini libido seksual Wanabaya berubah menjadi keinginan untuk memperoleh keturunan.

3.2.4 Batal Membunuh Pambayun

Sebagai seorang suami, Wanabaya berusaha membahagiakan Putri Pambayun yang sedang mengandung anaknya. Keinginan mendapat keturunan sebagai distorsi dari keluarga yang bahagia mendorong Ego untuk mencurahkan segala kasih sayang kepada Pambayun sebagai obyek dari keinginannya. Kesanggupan Ego untuk menjalankan keinginan Id yang berterima dengan Superego menunjukkan kematangan jiwa Wanabaya.

Libido seksual Wanabaya yang dialihkan dengan keinginan untuk memperoleh keturunan diwujudkan dengan menjaga keutuhan rumah tangganya. Hal ini sesuai dengan prinsip moral Superego yang menghendaki tanggung jawab moral Wanabaya sebagai seorang kepala rumah tangga untuk berperan aktif dan selalu menjaga anggota keluarganya.

Wanabaya

:

(masuk panggung). Belum juga kau masuk, Adisaroh kekasih? Terlalu lama di luar tak baik untuk kandungan. (Mangirr: 60)

Wanabaya

:

Ki Ageng Mangir Muda seorang panglima, Tua Perdikan, juga seorang suami. Mengapa ragu bicara? (Mangir: 61)

Wanabaya

:

Hati Wanabaya seluas samudra, bisa dilayari semua perkara. Kapan kau berniat berangkat? (Mangir: 62)

Keinginan terebut ternyata mengalami ketegangan ketika rangsangan dari luar, Putri Pambayun, membongkar identitasnya. Rangsangan tersebut membuat Id melakukan tindakan reflek mengeluarkan keris sebagai bentuk kemarahan karena telah dikecewakan oleh istrinya. Peristiwa ini memunculkan kecemasan neurotik karena Ego tidak mampu mencari informasi secara detil karena mementingkan hasrat seksualnya. Tindakan Wanabaya yang tiba-tiba menarik keris dari dalam sarungnya merupakan bentuk distorsi dari usaha Wanabaya untuk menghilangkan sosok Putri Pambayun untuk melampiaskan kemarahannya. Dari sini terlihat pergantian naluri yang cepat, yaitu dari libido seksual menjadi naluri thanatos yang muncul untuk membunuh Pambayun sebagai usaha Id untuk mengurangi tegangan.

Wanabaya

:

(melihat ke bawah pada wajah Putri Pambayun). Apa arti air mata Mataram untuk Ki Ageng Mangir? (Mangir: 66)

Wanabaya

:

(jatuh berlutut satu kaki, dua belah tangan terkulai dan jari-jemari menggeletar). Putri Pambayun Mataram! (Mangir: 66)

Wanabaya

:

Menengadah ke langit, pelan-pelan berdiri, meronta kasar melepaskan kaki dari rangkulan Putri Pambayun, dengan tangan gemetar menarik keris di tentang perut). Ah! (Keris disarungkannya lagi mengangkat tangan menutupi kuping)���.Hanya karena kau, perempuan Mataram, ke mana aku sembunyikan mukaku ini? (Mangir: 66���67)

Ego bergerak untuk melakukan sensor karena perbuatan Id akan menambah beban moral yang harus ditanggung oleh Wanabaya. Sebagai seorang panglima perang dan suami, kewajiban Wanabaya adalah melindungi orang yang lemah sekaligus bertindak sebagai kepala keluarga yang harus selalu menjaga istrinya. Kedudukannya sebagai panglima perang akan mendapat banyak cercaan karena dianggap telah berkhianat dengan menikahi seorang putri Mataram yang merupakan musuh Perdikan Mangir. Gambaran tesebut mejadi perangsang naluri masokhis Wanabaya untuk menumpahkan segala kesalahan pada dirinya.

Reaksi tersebut menimbulkan kecemasan moral bagi Ego karena tidak melanggar norma sosial yang berlaku. Situasi ini akan membentuk citra negatif bagi individu sehingga Ego melakukan mekanisme proyeksi dengan Panembahan Senapati sebagai objek pengalihnya. Hal ini didasari pemikiran bahwa orang yang bertanggung jawab atas tugas Putri Pambayun sebagai seorang telik sandi adalah Panembahan Senapati, sebagai raja Mataram. Bagi Superego sifat Panembahan Senapati tidak mencerminkan perilaku seorang pemimpin yang bijak karena telah mengorbankan anaknya demi kepentingan pribadi. Hal ini sesuai dengan anggapan dari Superego bahwa Mataram adalah musuh utama mereka dan harus dilawan sampai mati.

3.2.5 Menyerang Mataram

Harapan Wanabaya untuk membina keluarga yang bahagia selamanya musnah ketika Baru Klinthing menyadari identitas Putri Pambayun yang sesungguhnya. Kecemasan moral muncul karena tidak mampu menjaga adat Mangir yang tidak memperbolehkan penduduknya menjalin hubungan dengan Mataram yang merupakan musuh besarnya. Rangsangan tersebut membuat naluri masokhis Wanabaya muncul sebagai distorsi karena angan-angannya mengenai sosok keluarga dan kehidupan yang diinginkan terancam oleh kelemahan Ego dalam melakukan sensor keinginan sebelumnya. Menghadapi situasi ini, mekanisme regresi dilakukan Ego dengan mengharapkan ampunan dari Baru Klinthing sebagai Tetua Perdikan yang juga sahabat karibnya. Melalui tindakan ini Ego berpikiran bahwa peredaman naluri masokhis dapat dilakukan dengan membalas hinaan dari Baru Klinthing.

Wanabaya

:

Karena kau, terpilih aku jadi Ki Ageng Perdikan, yang termuda diseluruh negeri. Di medan perang dan Perdikan bukankah kta tetap bergandengan tak terpisahkan? (Mangir: 70���71)

Wanabaya

:

Diam! Kita semua bersalah. Istriku dapat dan boleh dihukum, tapi tak rela aku siapapun hinakan dia. Juga aku dan kalian semua patut dihukum karena kurang waspada. (Mangir: 74)

Wanabaya

:

Dia yang paling pandai menghina adalah juga pandai berganti kulit. Pambayun, istriku, relakah kau mati bersama? (Mangir: 75)

Adanya hambatan berupa hinaan terhadap istrinya menimbulkan naluri thanatos yang sudah lama mengalami represi oleh Ego muncul kembali, yaitu keinginan untuk menghilangkan sosok Baru Klinthing yang telah menghina Putri Pambayun ketika pertama kali datang ke Mangir. Hal ini terlihat melalui reaksi Wanabaya ketika Baru Klinthing berusaha membunuh Putri Pambayun dengan menganggap kehadirannya sebagai sebuah petaka bagi Mangir, maka perilaku ini merupakan mekanisme Ego untuk membalas hinaan menjadi keinginan untuk mati bersama Putri Pambayun. Mekanisme regresi ini dilakukan untuk mencegah Superego memperburuk ketegangan yang terdapat dalam Id sehingga dengan mengungkapkan keinginan untuk mati bersama Putri Pambayun perasaan bersalah tersebut akan berkurang.

Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (Chapter 3.3)

3.3 Baru Klinthing

3.3.1 Menginginkan Penambahan Jumlah Tombak

Kebutuhan untuk memenangkan setiap pertempuran merupakan wujud dari naluri thanatos Baru Klinthing. Bayang-bayang kekalahan yang akan menimpa dirinya memunculkan ketegangan bagi Id. Adanya ketegangan membuat Ego mengalihkan menjadi keinginan untuk menambah jumlah tombak sebagai simbol dari menambah jumlah pasukan Mangir. Adanya faktor Superego yang meletakkan Baru Klinthing sebagai pengatur strategi membuat perilaku yang muncul diterima oleh Superego yang beranggapan bahwa keinginan tersebut adalah tanggung jawab Baru Klinthing untuk mempertahankan Mangir. Pembuatan tombak sebagai pelengkap pasukan dalam menghadapi musuh terlihat sebagai hal yang diangggap penting dan harus dipenuhi untuk menambah kekuatan pasukan Mangir.

Baru Klinthing

:

(mencabut sebilah, melempar-tancapkan pada daun meja, mengangkat dagu). Setiap mata bikinan Suriwang sebelas prajurit Mataram tebusan. (Mangir: 5)

Baru Klinthing

:

Pada akhirnya bakal datang dia merangkak pada kaki kita, minta hidup dan nasi. (Mangir: 5)

Baru Klinthing

:

Kan meruap hilang impian Panembahan, jadi raja tunggal menggagahi pulau Jawa. Bakal telanjang diri dia dalam kekalahan dan kehinaan. (Mangir: 6)

Baru Klinthing

:

Bikin kau tombak—delapan ratus mata senilai ini (menuding pada mata tombak tertancap di atas meja). (Mangir: 6)

Penambahan jumlah pasukan merupakan rasionalisasi Ego dalam mengurangi kecemasan yang muncul karena bayang-bayang kekalahan dari pasukan Mataram. Sifat pesmis ini tidak memungkinkan untuk dimunculkan karena kedudukan Baru Klinthing yang harus bersikap bijak dan pandai membuat pasukan merasa kuat untuk menghadapi serangan dari Mataram. Berdasarkan rasionalisasi tersebut, kecemasan Id dapat dihilangkan dan keinginan untuk memenangkan setiap pertempuran dapat diwujudkan dalam bentuk menambahan tombak yang disanggupi oleh Suriwang.

3.3.2 Tidak Ingin Perdikan Mangir Menjadi Kerajaan

Keinginan untuk mempertahankan status Mangir sebagai perdikan merupakan rasionalisasi Ego untuk mengalihkan naluri thanatos Baru Klinthing. Namun, Superego yang menetapkan Mangir sebagai sebuah perdikan tidak akan mampu mengalahkan Mataram yang berbentuk kerajaan dan mempunyai pasukan lebih besar. Oleh karena itu, Ego membentuk mekanisme rasionalisasi dengan memberi rasa percaya diri bahwa kemampuan Perdikan Mangir untuk bertahan mampu membuat Kerajaan Mataram kewalahan.

Baru Klinthing

:

(memperingatkan). Mangir akan tetap menjadi Perdikan, tak bakal jadi kerajaan. (Mangir: 7)

Baru Klinthing

:

Masih belum kenal kau apa itu raja? Raja jaman sekarang? Masih belum kenal kau siapa Panembahan Senapati? Mula-mula-mula membangkang pada Sultan Pajang, ayah-angkat yang mendidik-membesarkannya, kemudian membunuhnya untuk bisa marak jadi raja Mataram? Adakah kau lupa bagaimana Trenggono naik tahta, hanya melalui bangkai abangnya? Apakah kau sudah pikun tak ingat bagaimana Patah memahkotai diri dengan dusta, mengaku putra Sri Baginda Bhre Wijaya? (Mangir: 7)

Baru Klinthing

:

Bukan buat naikkan Wanabaya ke takhta, buat tumpas semua raja dengan nafsu besar dalam hatinya, ingin berbangkang jadi yang dipertuan, Mangir tak boleh dijamah. (Mangir: 7)

Keinginan untuk menguasai Mataram muncul melalui pengalihan penambahan pasukan. Dengan adanya pengalihan ini, Id mempunyai kesempatan untuk menghindari tekanan Superego. Namun keinginan tersebut tidak dapat dapat melewati sensor Ego karena tidak kuatnya energi psikis yang hadir untuk mendorong Ego melaksanakan perintah Id. Untuk menjaga penumpukkan energi psikis Id agar tidak menimbulkan kecemasan, Ego melakukan mekanisme rasionalisasi dengan memberi gambaran bahwa dengan menjadi sebuah kerajaan akan menimbulkan perang saudara. Hal ini sejajar dengan nilai sosial yang berlaku pada Superego yang beranggapan bahwa Mataram adalah sebuah kerajaan yang selalu berusaha menindas rakyat miskin, dalam hal ini Perdikan Mangir.

3.3.3 Memanggil Pembantu Pembuat Tombak

Sebagai seorang pengatur strategi perang Mangir, Baru Klinthing membutuhkan banyak persediaan senjata untuk melawan Mataram. Pembuatan senjata dalam jumlah besar membutuhkan banyak pekerja. Oleh karena itu, Baru Klinthing menambah jumlah pekerja untuk membantu Suriwang mengerjakan tugasnya. Keinginan tersebut memperoleh hambatan dari Superego yang membongkar rahasia Kinong yang ternyata seorang telik sandi Mataram yang menyamar sebagai pembuat gagang tombak.

Telik sandi atau mata-mata merupakan salah satu strategi yang dipergunakan untuk mengetahui kelemahan lawan tanpa diketahui. Status Baru Klinthing sebagai pengatur strategi mempunyai kewajiban untuk menjaga campur tangan pihak lawan agar taktik yang dipergunakannya tidak kalah. Oleh karena itu, Ego melakukan sublimasi dengan mempergunakan energi psikis Id dalam wujud naluri thanatos, dalam hal ini interogasi terhadap setiap orang asing yang masuk ke Mangir. Dari sini terlihat kelemahan sensor Ego karena tidak mengetahui keinginan lain yang disembunyikan Id sehingga keinginan untuk membuktikan dirinya adalah seorang yang hebat muncul secara tidak langsung.

Baru Klinthing

:

Semakin banyak tombak kau tempa, semakin banyak kau bicara. Panggil sini orang baru pembikin tangkai tombak itu. (Mangir: 8)

Baru Klinthing

:

(menghampiri Suriwang, dengan isyarat mengajak kembali ke meja). Berapa saja telik dalam seminggu! (Mangir: 10)

Baru Klinthing

:

(mengambil mata tombak dari atas meja dan mempermain-mainkannya). Mataram telah mengubah diri jadi kerajaan, Suriwang, setiap kerajaan adalah negeri telik. Panembahan Senapati bunuh ayah-angkatnya, Sultan Pajang, bukankah juga dengan telik-teliknya? (Mangir: 11)

Sifat sombong sebagai seorang penguasa dengan kepintaran yang tidak dimiliki oleh penduduk Mangir berusaha diwujudkan oleh Id melalui sublimasi sebagai seorang pengatur strategi. Kemunculan Id yang demikian menimbulkan dampak buruk dari masyarakat Mangir. Superego berusaha menghambat dengan membuat gambaran setiap kerajaan pasti mempunyai mata-mata yang dipergunakan untuk menghancurkan pihak lain. Hambatan tersebut membuat Ego memunculkan mekanisme sublimasi dengan mengalihkan naluri tersebut menjadi kewajiban seorang pengatur strategi perang Mangir dan tugasnya untuk menginterogasi setiap pendatang yang masuk ke Mangir untuk mencegah bocornya rahasia pertahanan Mangir.

3.3.4 Membuat Pertemuan Dengan Para Tetua Perdikan

Letak Mangir yang berada dekat dengan Mataram membutuhkan benteng pertahanan. Secara geogrsfis, tidak memungkinkan bagi Mangir untuk bergerak sendiri karena sebagai sebuah perdikan, luas daerah dan penduduk yang dimiliki tidak seimbang untuk menghadapi pasukan Mataram. Berdasarkan fakta tersebut, Baru Klinthing berusaha mendekati dan menjalin kerjasama dengan para Tetua Perdikan yang berada di sekitar Mangir, yaitu: Pajang, Patalan, Pandak, dan Jodog, sebagai benteng pertahanan.

Perbuatan itu merupakan taktik pertahanan Mangir yang terdorong untuk mengurangi kecemasan Ego akan kekalahan dari pasukan Mataram. Berdasarkan keinginan tersebut, Ego membentuk sublimasi, yaitu memperluas daerah dan menambah jumlah penduduk dengan menjalin kerjasama bersama para Tetua Perdikan di sekitarnya. Perilaku tersebut berdasarkan pertimbangan kondisi kejiwaan penduduk di daerah-daerah tersebut sedang melakukan pemberontakan terhadap Mataram. Munculnya dukungan terebut berbeda dengan kenyataan yang terjadi sehingga Superego berusaha menghambat pemenuhan Id dengan memberi informasi Wanabaya yang sedang menari seakan melupakan kewajibannya sebagai panglima perang Mangir.

Baru Klinthing

:

Dengarkan sekarang. Memang Patalan di tempat terdekat dengan Mataram. Dia berhak dapatkan perhatian lebih banyak. Mangir dan Pajangan berbentengkan sungai Bedog. Itu bukan berarti untuk Patalan semua harus pukul Mataram tanpa perhitungan. (Mangir: 18)

Baru Klinthing

:

Untuk bersuka sekedarnya tak ada salahnya. Dia berhak sebagai panglima, telah selamatkan kalian semua, kademangan dan semua rakyatnya. (Mangir: 18)

Berdasarkan pertimbangan moral, Ego melakukan mekanisme sublimasi dengan mempererat hubungan kerjasama dengan para Tetua Perdikan. Adanya perilaku dari Wanabaya menyebabkan para Tetua Perdikan menghendaki perpecahan karena tidak adanya sosok pemimpin yang mempunyai moral bagus untuk dijadikan panutan. Hal ini menyebabkan ketegangan sehingga memunculkan kembali keinginan yang telah lama mengalami represi, yaitu kebencian terhadap Wanabaya sebagai keinginan pengganti atas naluri untuk menguasai dan memunculkan kesombongan. Perilaku ini bertentangan dengan Superego yang membutuhkan kemampuan Baru Klinthing untuk menyusun strategi perang Mangir dan mempertahankan dari serangan Mataram.

Baru Klinthing

:

Aku tidak benarkan Wanabaya, selama dia hanya bersuka sekedarnya. (Mangair: 19)

Baru Klinthing

:

….Kenyataan tinggal pada Wanabaya sendiri. Panggil dia kemari. (Mangir: 19)

Baru Klinthing

:

Mamang tidak patut yang pandai berperang tapi tak pandai pimpin diri sendiri. (Mangir: 20)

Mekanisme displacement dilakukan Ego dengan menjadi Wanabaya sebagai obyek pengalih kecemasan Id. Hal ini dilakukan Ego berdasarkan pemikiran bahwa penyebab pertentangan antara Superego dan Id adalah Wanabaya dan sosok terebut sesuai dengan keinginan Baru Klinthing untuk memperkuat pertahanan Mangir. Perilaku ini mampu mengurangi kecemasan Id karena Superego beranggapan Baru Klinthing merupakan sosok yang bijaksana dan mampu memperbaiki perilaku Wanabaya yang keliru sehingga sosok pemimpin perang yang diinginkan oleh mereka mampu dipenuhi oleh Baru Klinthing. Sikap dari para Tetua Perdikan ini membuat naluri menguasai Baru Klinthing mampu diwujudkan dan dialihkan menjadi tindakan mempertahankan kepercayaan yang diberikan oleh para Tetua Perdikan.

3.3.5 Menyetujui Pernikahan Wanabaya

Pemimpin pasukan adalah salah satu pelengkap pasukan untuk menjalankan strategi perang. Dengan adanya sosok pemimpin yang kurang memperoleh dukungan dari pasukan, maka usaha untuk memperoleh kemenangan tidak akan terwujud. Ketakutan akan kekalahan tersebutlah yang menjadi perangsang munculnya naluri merusak Baru Klinthing. Hal ini terjadi pada Baru Klinthing yang berusaha membentuk citra pemimpin yang tangguh pada diri Wanabaya. Adanya dorongan dari Superego yang mkemposisikan pemimpin sebagai seorang yang sempurna menimbulkan ketegangan bagi Ego untuk mengurangi kecemasan Id. Keinginan untuk menghilangkan sosok Wanabaya dan mengganti dengan individu yang lain mengalami represi oleh Ego karena munculnya Baru Klinthing sebagai pengganti Wanabaya akan menimbulkan sosok penguasa tunggal. Keadaan ini bertentangan denga Superego yang menganggap kondisi tersebut sebagai bentuk penindasan karena tidak mengijinkan individu lain hadir sejajar dengan kedudukannya saat ini.

Baru Klinthing

:

Wanabaya, Ki Ageng Mangir Muda, bukan hanya perkara suka atau tidak, patut atau tidak, bisa pimpiun diri sendiri atau tidak, kau sendiri yang lebih tahu! Perdikan ini milik semua orang, bukan hanya Wanabaya Muda si Tua Perdikan Mangir. (Mangir: 22)

Ego membentuk mekanisme rasionalisasi dengan menganggap perilaku Wanabaya tersebut merupakan hadiah yang pantas diterima oleh seorang pemimpin karena berhasil menjalankan tugasnya dengan men
gadakan pesta panen dan mengundang rombongan penari. Tindakan yang dilakukan Baru Klinthing tersebut merangsang munculnya kecemasan Id karena tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku pada masyarakat Mangir. Hilangnya sosok pemimpin dan munculnya sosok penguasa menjadikan Ego mengubah mekanisme rasionalisasi menjadi reaksi formasi. Sosok Wanabaya sebagai individu yang harus dipertahankan merupakan distorsi keinginan Baru Klinthing untuk menghilangkan sosok Wanabaya. Mekanisme sublimasi dilakukan Baru Klinthing merupakan mekanisme tambahan yang diperlukan untuk membantu mengurangi kecemasan Id dengan merubah dirinya menjadi orang bijak dan berusaha membetulkan perilaku Wanabaya yang menyimpang dari norma sosial.

Baru Klinthing

:

(melangkah maju menghampiri Putri Pambayun). Dari mana asalmu, kau, perawan? (Mangir: 23)

Baru Klinthing

:

Penari tanpa tandingan dari berpuluh desa. Siapa tak percaya? Bicara, dengan mulutmu sendiri, kau, perawan jelita! (Mangir: 23)

Baru Klinthing

:

(menghampiri Putri Pamabayun). Di hadapan tetua dan gegeduk rata Mangir kau gandeng KI Wanabaya Muda. Kau, perawan dari tujuh sungai seberang timur, berapa pria telah kau remas dalam tanganmu? (Mangir: 26)

Pertanyaan Baru Klinthing mengenai asal-usul Putri Pambayun dan menghendaki jawaban langsung merupakan naluri untuk mengeksploitasi orang lain. Hal ini merupakan upaya untuk mengenal lebih dalam orang asing yang masuk ke Mangir. Dari sini terlihat Baru Klinthing berusaha menyembunyikan ketertarikannya pada Putri Pambayun. Libido seksual Baru Klinthing mengalami hambatan dari Superego yang mengggambarkan status Putri Pambayun sebagai seorang penari. Naluri tersebut terus berusaha mendorong Ego dengan pengalihan pertanyaan seberapa banyak orang yang telah menyentuh Putri Pambayun sebagai pengalih keingintahuannya tentang keadaan Putri Pambayun agar tidak diketahui oleh Tetua Pedikan yang lain. Gambaran tersebut terlihat ketika ia berusaha mengganti sosok dirinya dengan Wanabaya yang mempunyai kedudukan yang sama sehingga pertanyaan pantas dan tidaknya Putri Pambayun untuk Wanabaya secara tidak langsung menggambarkan dirinya.

Baru Klinthing

:

Biarkan Wanabaya curahkan isi hatinya. (Mangir: 29)

Baru Klinthing

:

Juga Wanabaya punya hak bicara, tak semestinya kita lindas hasrat dalam hatinya. Apa jadinya sungai yang tak boleh mengalir? Dia akan mengamuk melandakan banjir. (Mangir: 30)

Kedatangan Putri Pambayun bersama Wanabaya merupakan sebuah perangsang bagi Id. Melalui keadaan tersebut, Superego berusaha menekan Ego agar menghilangkan sosok Putri Pambayun karena keberadaannya mampu mengalihkan perhatian Wanabaya dan perilakunya akan berubah untuk selalu memperhatikan Putri Pambayun. Kondisi ini menyebabkan ketegangan karena muncul keinginan untuk mengalahkan Mataram dan memperoleh sosok pemimpin yang sempurna di mata masyarakat sehingga Ego berusaha melakukan represi naluri tersebut dan melakukan mekanisme reaksi formasi dengan berpura-pura membenci Wanabaya.

Baru Klinthing

:

Tanpa semua yang ada, kau, jawab sendiri. Kau, Wanabaya, apa kemudian arti dirimu? (Mangir: 35)

Baru Klinthing

:

Tombak-tombak ini akan tumpas kau, bila nyata kau punggungi leluluh, berbelah hati pada Perdikan, khianati teman-teman dan semua. Bicara kau! (Mangir: 36)

Baru Klinthing

:

Lihatlah betapa semua temanmu ikut pikirkan kepentinganmu. (Mangir: 37)

Baru Klinthing

:

Lihatlah aku. (mangangguk perlahan-lahan). (Mangir: 38)

Melalui berbagai macam uji mental, Baru Klinthing berusaha mencari tahu sejauh mana kesetiaan Wanabaya terhadap Mangir sehingga ia mampu memutuskan setuju atau tidak atas pernikahan mereka. Naluri thanatos Baru Klinthing muncul dengan pengalihan keinginan untuk mencoba kesetiaan Wanabaya sebagai pengganti naluri menguasai orang lain untuk kepentingannya sendiri, yaitu memperoleh kemenangan dari pasukan Mataram melalui sosok Wanabaya sebagai pemimpin perang yang akan mendukung dirinya jika bersedia menyetujui pernikahan mereka. Dari sini terlihat bahwa hambatan dari Superego tidak berpengaruh terhadap kemampuan Ego untuk mewujudkan Id karena proses sublimasi Baru Klinthing sebagai pengatur strategi dan norma yang berlaku pada masyarakat Mangir mampu memberi kesan bahwa perilaku tersebut merupakan kewajiban seorang Tetua Pedikan untuk selalu mengayomi masyarakatnya.

3.3.6 Menyerang Mataram

Strategi pertahanan yang diterapkan Baru Klinthing akhirnya terbongkar dengan masuknya Putri Pambayun dan Tumenggung Mandaraka yang menyamar sebagai rombongan penari dan waranggana. Kondisi terebut merangsang naluri thanatos Baru Klinthing untuk menyerang Mataram yang merupakan tempat tinggal Putri Pambayun. Represi yang dilakukan Ego agar naluri tersebut tidak muncul akhirnya melemah sehingga berusaha mengalihkan keinginan terebut agar tidak mengganggu individu yang lain. Mekanisme displacement dilakukan dengan Tumenggung Mandaraka sebagai objek pengalih yang mempunyai posisi sama dengan dirinya, yaitu pengatur strategi penrang Mataram. Naluri untuk membunuh mengalami hambatan karena Tumenggung Mandaraka yang sudah melarikan diri sehingga obyek pengalih naluri dipindahkan menjadi menyerang Mataram.

Baru Klinthing

:

Bapak tua kepala rombongan waranggana! (Mangir: 70)

Baru Klinthing

:

(menghampiri Putri Pambayun). Cantik tiada tara, telik ulung tiada terduga. Wanabaya! Lihatlah dia untuk terakhir kalinya. (Mangir: 71)

Baru Klinthing

:

Hanya telik tiada tara bikin onar begini rupa. Pambayun! Tidak percuma kau jadi sulung mahkota, pandai berdarma-bakti pda tahta. (Mangir: 73)

Baru Klinthing

:

….Berperisai kalian berdua, kita akan langsung masuk benteng menyerang istana. Tatap kau pada pendirianmu, Nyia Ageng Mangir Muda? (Mangir: 75)

Adanya Putri Pambayun sebagai salah satu anggota masyarakat Mataram menjadi objek displacement karena kesalahan yang telah ia lakukan dengan memalsukan identitas dan membantu Tumenggung Mandaraka melarikan diri dengan kuda milik Wanabaya. Selain itu, sebagai seorang perempuan, Putri Pambayun mempunyai kedudukan yang lebih lemah sehingga tidak membahayakan kehidupan Baru Klinthing. Namun, pelaksanaan keinginan tersebut mengalami hambatan dari Superego yang menghendaki seorang Tetua Perdikan tidak pantas melakukan penindasan terhadap kaum yang lemah, dalam hal ini perempuan. Kematian Putri Pambayun akan mengundang individu lain, Wanabaya, untuk melawannya sehingga kondisi ini akan membahayakan persatuan prajurit Mangir yang akan menyerang Mataram. Oleh karena itu, Ego melakukan mekanisme displacement dengan kerajaan Mataram sebagai obyek penggantinya berdasarkan pertimbangan bahwa Mataram adalah simbol penguasa dan penindas dan dengan mengalahkannya.

Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (Chapter 3.4)

3.4 Tumenggung Mandaraka

3.4.1 Mengijinkan Putri Pambayun Menikah

Sebagai seorang telik sandi, Tumenggung Mandaraka mempunyai keinginan untuk mengetahui segala rahasia dari musuhnya, dalam hal ini adalah Perdikan Mangir. Keinginan ini masuk dalam kategori naluri thanatos yang bertujuan merusak orang lain, yaitu: hubungan antara Wanabaya, Baru Klinthing, dan masyarakat Mangir. Bayangan yang muncul untuk memenuhi Id adalah memecah belah persahabatan Wanabaya dan Baru Klinthing yang merupakan anggota masyarakat Perdikan Mangir. Adanya hambatan Superego yang menjelaskan jenis kelamin yang sama tidak mampu menciptakan persaingan dan pertentangan di antara mereka. Oleh karena itu, Ego melakukan diplacement dengan menyuruh Putri Pambayun untuk melaksanakan tugasnya.

Adanya hamabatan dari Superego dan dorongan Id ini membentuk mekanisme sublimasi Ego. Pengalihan keinginan menjadi naluri kehidupan secara tidak sadar membentuk citra lain dalam diri Tumenggung Mandaraka. Melalui pemikiran bahwa pemegang kendali tata kehidupan adalah Baru Klinthing dan Wanabaya merupakan orang yang paling dicintai dan menjadi pemersatu bagi pasukannya maka mekanisme sublimasi mampu meredakan kecemasan moralnya. Sikap untuk menyetujui pernikahan sebagai pengalih keinginan mampu diterima oleh Superego karena keinginan Wanabya untuk mencari pasangan hidup membuat Baru Klinthing dengan terpaksa mengijinkan Wanabaya menikahi Putri Pambayun. Keterangan yang diberikan mengenai Putri Pambayun sebagai perempuan yang cocok, belum pernah dijamah oleh lelaki lain merupakan bentuk regresi.

Tumenggung Mandaraka

:

Adisaroh, mari kita pergi. Mereka bertengkar karena kita. (Mangir: 23)

Tumenggung Mandaraka

:

Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, siapa tidak gembira jadi mertua, dapatkan menantu panglima perang masyhur gagah-berani, tetua Perdikan Mangir? (Mangir: 28)

Tumenggung Mandaraka

:

Apapun terjadi, bumi dan langit memang tak bisa ingkari, tali hubungan telah terjalin. Hanya caranya belum terpuji. (Mangir: 29)

Sikap Baru Klinthing yang selalu curiga terhadap orang asing merangsang munculnya keinginan merusak Perdikan Mangir. Sikap ���tarik-ulur��� dalam memberi persetujuan pernikahan Putri Pambayun dan Wanabaya merupakan bentuk reaksi formasi yang dilakukan Ego sebagai jalan untuk mengetahui keseriusan Wanabaya untuk menikahi Putri Pambayun. Sikap pura-pura sebagai keinginan pengalih untuk menghancurkan Perdikan Mangir ini yang berusaha direpres oleh Ego karena munculnya rangsangan dari luar (Baru Klinthing).

Pengalihan yang dilakukan Ego dengan menarik simpati Wanabaya agar bersedia menerima kehadiran Tumenggung Mandaraka di Perdikan Mangir bertujuan untuk memperoleh obyek keinginan yaitu mengetahui rahasia Perdikan. Keinginan untuk menguasai Perdikan Mangir sebagai distorsi keinginan mengijinkan Putri Pambayun menikahi Wanabaya dialihkan menjadi keinginan untuk tinggal di Perdikan Mangir merupakan mekanisme perngalihan untuk memperoleh obyek dari keinginannya menghancurkan Perdikan Mangir yaitu kemenangan atau kejayaan Kerajaan Mataram.

2.4.2 Menagih Janji Putri Pambayun

Putri Pambayun yang menolak dan berusaha menjaga keselamatan Wanabaya menghalangi keinginan Tumenggung Mandaraka untuk menguasai Perdikan Mangir. Gambaran takdir seorang penduduk desa (Perdikan Mangir) tidak bisa menjadi penguasa dengan melawan raja sehingga tugas yang diberikan kepada Putri Pambayun merupakan tanggung jawab untuk meraih kejayaan kerajaan Mataram yang merupakan rasionalisasi Ego untuk mengurangi tekanan dari Superego yang mengganggu prinsip kesenangan Id untuk mengungkapkan keinginannya. Dari sini terlihat usaha Ego untuk memenuhi keinginan pemenuhan janji dari Putri Pambayun dilakukan dengan mengubah pemikiran Putri Pambayun dari mencintai menjadi membenci Wanabaya sebagau mekanisme sublimasi yang dilakukan Tumenggung Mandaraka dengan menjadi seorang penasehat kerajaan.

Tumenggung

Mandaraka

:

Terpaksa nenenda datang kini untuk menagih janji (Mangir: 45)

Tumenggung

Mandaraka

:

Tetap cantik-rupawan, semakin hari semakin bersinar, tanda bersuka berbahagia. Maka, nenenda datang pada cucunda kini selesai sudah masa bersuka, bercinta, dan berbahagia. (Mangir: 46)

Keinginan Tumenggung Mandaraka untuk menguasai Perdikan Mangir merupakan distorsi keinginan untuk memecah belah Baru Klinthing dan Wanabaya dan perwujudan dari naluri thanatos yang berusaha menerobos sensor Ego. Dari sini, mekanisme sublimasi Ego dilakukan dengan mengalihkan keinginan menjadi seorang pengiring penari (Putri Pambayun). Mekanisme ini dilakukan berdasar kenyataan dengan melakukan penyamaran akan memudahkan Tumenggung Mandaraka untuk memasuki daerah pertahanan Perdikan Mangir. Proses ini mengalami hambatan dari Superego, yakni ketidakmauan Putri Pambayun untuk menyerahkan Wanabaya. Tumenggung Mandaraka menasehati Putri Pambayun bahwa konsekuensi tugas telik sandi dan menjalankan perintah orang tua.

Tumenggung

Mandaraka

:

Bukan dustai putri sulung permaisuri. Tak ada dusta dalam mengemban tugas ayahandamu baginda. Semua titah berasal dari takhta, kalis dari dosa bersih dari nista, harus dilaksanakan sebaiknya, tak peduli bagaimana caranya. (Mangir: 47)

Tumenggung

Mandaraka

:

Bukan menghianati, hanya membawanya menghadap ayahandamu baginda, ayahandamu sendiri. (Mangir: 48)

Sikap Putri Pambayun yang selalu melawan perintahnya memunculkan naluri thanatos Tumenggung Mandaraka. Dari sini, keinginan Tumenggung Mandaraka dialihkan melalui mekanisme displacement karena semua yang dilakukan Putri Pambayun merupakan akibat dari kesalahannya dengan menjadi seorang telik sandi dengan tujuan melaksanakan tugas yang secara tidak langsung sanggup untuk menyerahkan Wanabaya sebagai kewajiban seorang prajurit untuk kejayaan kerajaan. Perilaku ini tidak mampu menggoyahkan tekanan Superego yang merasa tertipu oleh informasi yang diberikan Tumenggung Mandaraka, yaitu: bentuk fisik Ki Ageng Mangir yang tua.

Tumenggung

Mandaraka

:

Akan nenenda persembahkan, dalam seminggu lagi pada hari yang sama, Putri Pambayun akan datang bersujud, dengan putra menantu Ki Ageng Mangir. (Mangir: 55)

Tumenggung

Mandaraka

:

Sebaliknya, putra Pambayun akan naik ke takhta, Mangir akan dikukuhkan jadi Perdikan, permusuhan akan segera dihentikan. (Mangir: 55)

Tumenggung

Mandaraka

:

Ayahanda dan ibunda Pambayun tak mampu lagi menahan rindu, siang dan malam putri kesayangan terkenang (Mangir: 55)

Adanya kenyataan Putri Pambayun mengalami trauma dengan segala informasi yang telah ia berikan, reaksi formasi dilakukan dengan berpura-pura menginginkan kedatangan Wanabaya ke Mataram sebagai simbol pengabdian seorang menantu terhadap orang tua dari istrinya (Panembahan Senopati). Melalui gambaran persatuan dan sikap menerima kedatangan Wanabaya di Mataram, maka ketakutan Putri Pambayun menghilang sehingga hambatan yang mengancam Id akan berkurang. Berdasarkan kenyataan dan pertimbangan moral, Superego tidak menghambat keinginan itu karena sikap damai menjamin keselamatan Putri Pambayun dan keluarganya.

Tumenggung

Mandaraka

:

Nenenda Tumenggung Mandaraka Juru Martani ini akan atur semua. Sekarang hari terakhir. Ditambah tidak bisa. Seminggu lagi cucunda, Mataram akan berpesta menunggu Putri Pambayun dengan putra dalam kandungan calon raja Mataram, raja s
eluruh bumi dan orang Jawa, dengan Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, putra menantu Tua Perdikan dalam pengukuhan….Bila tidak, seluruh prajurit Mataram akan tumpah landa Mangir. Semua rahasia Perdikan telah di tangan nenenda kini. (Mangir: 56)

Tumenggung

Mandaraka

:

Hari ini hari pesta, hari besar segala, takkan terlupakan sepanjang jaman. Wanabaya akan datang untuk kutip kebinasaannya sendiri. Mataram tinggal jaya megah selama-lamanya. (Mangir: 79)

Tumenggung

Mandaraka

:

Korban persembahan tak habis-habis? Sedang di tua rena yang tak tumbuh lagi, tetap butuh santap dan minum setiap hari….Hidup bagi yang satu, binasa bagi yang lain. (Mangir: 80)

Tumenggung

Mandaraka

:

Tak lain putranda adinda raja pilihan. Mengapa adinda ragu dengan korban cucu menantu? (Mangir: 80���81)

Sublimasi sebagai seorang penasehat kerajaan memberi tanggung jawab besar bagi Tumenggung Mandaraka untuk menghancurkan Perdikan Mangir yang menjadi distorsi keinginannya merusak hubungan Wanabaya dan Baru Klinthing. Melemahnya dorongan Superego memunculkan naluri berupa ancaman jika Putri Pambayun tidak bisa melaksanakan tugasnya dalam waktu seminggu, maka prajurit Mataram akan menyerang Perdikan Mangir. Oleh karena itu, Ego melakukan displacement dengan obyek pengalih Putri Pambayun yang sedang hamil dan tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan terhadapnya dari ketidakmampuan Ego untuk memenuhi keinginan menguasai Wanabaya meskipun telah terpecah belah dari Baru Klinthing karena peristiwa tersebut menjadi penyebab kecemasan moral.

2.4.3 Menghancurkan Perdikan Mangir

Berdasarkan kenyataan bahwa Putri Pambayun menyerahkan Wanabaya pada saat perjamuan keluarga, Ego melemahkan proses represi Siasat tersebut merupakan jalan untuk membunuh Wanabaya sebagai simbol keberhasilan menguasai Perdikan Mangir. Peristiwa kedatangan Wanabaya pada pertemuan itu akan menimbulkan bayangan pemenuhan atas naluri menghancurkan Perdikan Mangir. Adanya anggapan naluri thanatos akan terpenuhi menyebabkan melemahnya sensor Ego sehingga muncul naluri yang telah lama direpres yakbi keinginan untuk membangun kejayaan Mataram. Dari sini muncul gejala thanatos yang dilakukan berulang-ulang oleh Tumenggung Mandaraka pada masa lalu muncul sebagai sebuah keinginan untuk menguasai dan membunuh orang lain dengan perilaku yang selalu berusaha mengalihkan dengan melakukan sublimasi sebagai seorang penasehat kerajaan.

Tumenggung

Mandaraka

:

Dunia tak bicara tentang perbedaan, juga tak ada yang bicara tentang kesamaannya. Hanya satu: kewibawaan untuk Mataram. (Mangir: 85)

Tumenggung

Mandaraka

:

….Sarpa Kuda telah bergerak melingkari. Perdikan dan kademangan-kademangan sekawan. Tak ada sesuatu patut dikuatirkan. (Mangir: 93)

Tumenggung

Mandaraka

:

Semua demi Mataram Jaya. (Mangir: 93)

Perilaku di atas menunjukkan bahwa keinginan Tumenggung Mandaraka menyuruh Putri Pambayun membawa Wanabaya pada pertemuan keluarga merupakan bentuk berulang yang dilakukan Ego untuk memenuhi naluri thanatos dalam mempertahankan prinsip kesenangannya. Dengan adanya perpecahan tersebut, maka pasukan Mangir akan melemah sehingga mampu dikuasai dan obyek keinginan untuk menguasai Perdikan Mangir dapat dimunculkan ke alam sadar tanpa membahayakan keberadaan Tumenggung Mandaraka dan diterima oleh masyarakatnya berdasarkan sublimasi sebelumnya s
ebagai penasehat kerajaan. Dari sini terlihat, bahwa naluri menghancurkan Perdikan Mangir merupakan keinginan pengalih sebagai akibat munculnya bayangan obyek pengalih keinginan dalam memenuhi keinginan memperoleh kejayaan Mataram melalui bayang-bayang kehancuran Perdikan Mangir sebagai penghalang terwujudnya keinginan tersebut.

Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (End)

BAB IV

KESIMPULAN

Naluri tokoh dialihkan dengan menghilangkan kehadiran individu lain untuk mendapatkan obyek dari kebutuhannya. Keinginan yang direpres tokoh secara tidak sadar muncul karena respon dari tokoh lain, yang bersifat menghambat pemenuhan sehingga menyebabkan Ego mengalami kecemasan. Mekanisme displacement dilakukan untuk mencegah kemunculan Id secara langsung. Pengalihan ini merupakan usaha tokoh untuk meraih dan mempertahankan obyek keinginan melalui tindakan menghilangkan tokoh lain.

Pengalihan libido seksual Putri Pambayun dan Wanabaya dengan menghilangkan sosok Panembahan Senopati merupakan usaha untuk menjaga kelangsungan hidup pasangannya sebagai obyek dari keinginannya. Naluri thanatos Baru Klinthing dan Tumenggung Mandaraka dialihkan dengan menghilangkan Wanabaya dan Putri Pambayun melalui kekerasan atau perang untuk mendapatkan obyek dari kebutuhannya, yaitu kemenangan atas suatu daerah, dalam hal ini Kerajaan Mataram atau Perdikan Mangir. Berdasarkan pengalihan keinginan yang terjadi, terdapat sebuah keinginan yang sama dalam mencapai sebuah obyek, yaitu menghilangkan sosok lain.

Kehidupan Putri Pambayun sebagai putri kerajaan dengan segala peraturan dan norma-norma kebangsawan yang harus dijunjung tinggi membuat menjalani kehidupan kehidupan yang terikat. Dengan menjadi telik sandi, Putri Pambayun berusaha membebaskan diri dari bayang-bayang kematian yang akan menimpa dirinya. Keinginan ini merupakan pengalihan dari naluri menghilangkan sosok ayah sebagai wujud ketidakmampuan Putri Pambayun untuk balas dendam atas kematian kakaknya yang menimbulkan dampak traumatis. Dari sini terlihat bahwa tujuan Putri Pambayun menikahi Wanabaya adalah lari dari kematian yang disebabkan oleh ayahnya sehingga keinginan untuk memenuhi libido seksual mendominasi langkahnya. Dengan penggantian sosok, ia mengharapkan trauma yang terjadi bisa hilang dan dapat menjalani kehidupan dengan tenang. Putri Pambayun merepres keinginan terebut. Pertentangan di antara mereka, suami dan ayahnya, menyebabkan pengalihan keinginan dalam bentuk penyiksaan diri (masokhis), yaitu menjadi prajurit Mangir. Pengalihan keinginan ini merupakan tindakan untuk menghilangkan sosok laki-laki dengan harapan dapat digantikan oleh anak sebagai langkah untuk menjaga prinsip kesenangan dan kelangsungan hidupnya.

Tindakan Wanabaya menikahi Putri Pambayun merupakan pengalihan dari keinginannya untuk menyerang dan menguasai Mataram. Libido seksual dialihkan menjadi keinginan berjanji setia kepada Perdikan Mangir untuk mendapatkan persetujuan dari Tetua Perdikan. Wanabaya merepres naluri menghilangkan sosok Baru Klinthing, naluri individu yang membutuhkan lawan jenis untuk menghilangkan sosok lain ancaman untuk memperoleh obyek libido seksual, untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan menghindari tekanan yang menimbulkan kecemasan moral karena telah membunuh orang yang selalu membantunya dalam menghadapi pasukan Mataram. Identitas Putri Pambayun sebagai telik sandi Mataram menjadi penyebab kecemasan moral karena ketidakmampuan untuk merepres libido seksual sehingga rahasia Perdikan Mangir terbongkar. Penghilangan sosok perempuan sebagai obyek dari libido seksual menimbulkan kecemasan moral sehingga represi dilakukan dan mengganti dengan naluri menghancurkan Mataram. Tindakan represi yang terus-menerus menyebabkan kemampuan untuk merepres naluri kematian melemah sehingga muncul naluri masokhis. Pengalihan naluri masokhis menjadi naluri menyerang Kerajaan Mataram merupakan usaha Wanabaya untuk menghilangkan sosok Baru Klinthing dan Panembahan Senapati. Tindakan ini dilakukan untuk menjaga atau mempertahankan kelangsungan hidup Putri Pambayun sebagai distorsi dari libido seksualnya.

Pertentangan antara Perdikan Mangir dan Kerajaan Mataram menjadi penyebab munculnya naluri menghancurkan dengan pengalihan penambahan tombak sebagai pengganti dari keinginan untuk menambah jumlah pasukan. Melalui penambahan pasukan, Baru Klinthing berusaha mewujudkan kenginan untuk menguasai Kerajaan Mataram. Naluri tersebut mengalami represi karena bertentangan dengan prinsip masyarakat Mangir yang tidak menginginkan Perdikan Mangir menjadi kerajaan. Tindakan menjalin kerjasama dengan para Tetua Perdikan merupakan distorsi dari keinginan tersebut. Kedatangan Putri Pambayun menjadi perangsang libido seksual sehingga terjadi penghilangan sosok Wanabaya sebagai penghalang pemenuhannya. Naluri ini mengalami represi karena mengancam persatuan prajurit Mangir dan usaha untuk memenuhi keinginan mengalahkan Kerajaan Mataram. Reaksi formasi yang dilakukan Baru Klinthing dengan menyetujui pernikahan Wanabaya dan Putri Pambayun merupakan strategi untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat Mangir sehingga keinginan menambah jumlah pasukan untuk menghancurkan Kerajaan Mataram bisa terpenuhi. Identitas Putri Pambayun sebagai telik sandi Mataram menjadi penyebab ketegangan sehingga menimbulkan kecemasan moral. Kondisi ini menyebabkan keinginan menghilangkan sosok Wanabaya untuk mendapatkan Putri Pambayun muncul yang kemudian dialihkan menjadi menyerang Kerajaan Mataram. Tindakan ini merupakan usaha Baru Klinthing untuk menghilangkan figur laki-laki lain, Wanabaya dan Panembahan Senapati, yang menghambat keinginannya untuk memperoleh Putri Pambayun sekaligus menguasai Kerajaan Mataram.

Sebagai seorang penasehat kerajaan, Tumenggung Mandaraka mempunyai tanggung jawab untuk memenangkan pertempuran dan memperluas daerah kekuasaan Kerajaan Mataram Berdasarkan kenyataan bahwa perpecahan antara Baru Klinthing dan Wanabaya memperlemah pertahanan Perdikan Mangir, maka Tumenggung Mandaraka mengalihkan naluri tersebut menjadi keinginan untuk menikahkan Putri Pambayun dan Wanabaya dengan tujuan memperoleh kesempatan tinggal di Perdikan Mangir dan mengetahui rahasia pertahanan Perdikan Mangir. Adanya sikap menolak Putri Pambayun untuk membawa Wanabaya menghadap Panembahan Senapati memunculkan kemarahan yang merupakan wujud keinginan menguasai individu lain dalam wujud pengabdian dari Putri Pambayun. Pengalihan keinginan melalui mekanisme reaksi formasi dilakukan dengan mengatakan bahwa kedatangan mereka menghilangkan peperangan dan Wanabaya akan dianggap sebagai menantu yang sah oleh Panembahan Senapati. Kenyataan bahwa Wanabaya akan pergi ke Mataram jika disuruh oleh Putri Pambayun memunculkan naluri membunuh Wanabaya sebagai pengalih keinginan mendapatkan kejayaan Kerajaan Mataram sebagai distrosi dari naluri menghancurkan Perdikan Mangir.

Hitchcock & Psychoanalysis

Hitchcock & Psychoanalysis, page 1
page 1 - page 2DoppelgangersHitchcock’s mothers
scopophilia, the gaze, fetishism

During Hitchcock’s career, the main ’scientific’ explanations for human behavior derived from the theories of the Austrian psychologist Sigmund Freud, founder of psychoanalysis. Psychoanalysis is both a therapeutic method and a theory of the mind and its effect on behavior. Psychoanalysis permeated American popular culture during the 1920s, and its notions were widespread in books and movies for the next half century.

Hitchcock was skeptical of psychoanalysis, as he was of all attempts to explain human behavior. Nevertheless, he drew upon psychoanalysis in many movies, most notably Spellbound (where the main characters are psychoanalysts), Psycho (which has a long psychiatrist’s speech at the end), and Marnie. Psychoanalytical notions are also important in Shadow of a Doubt, Rope, Rear Window, The Wrong Man, Vertigo, and Frenzy.

Sigmund Freud (1856-1939) holding a phallic symbol)
Psychiatrists in Hitchcock’s movies
Werner Klemperer as the psychiatrist in The Wrong Man. Hitchcock rarely shoots his psychiatrist characters in closeups, keeping them distanced from the audience.
Michael Chekhov as the kindly Dr. Brulov (clearly resembling Freud) in Spellbound. The heroine, played by Ingrid Bergman, is also a psychoanalyst.
Raymond Bailey as the psychiatrist in Vertigo. “He’s suffering from acute melancholia complicated by a guilt commplex.”

Simon Oakland as the pompous psychiatrist in Psycho. (This is a detail of a wider shot.) “A psychiatrist . . . merely tries to explain.”
Freudian theories relevant to Hitchcock’s movies

The most basic Freudian insight is that the subconscious mind harbors various desires and impulses, often those which are unacceptable to the individual’s conscious mind or forbidden in society. The individual is characteristically only dimly aware, or unaware, of these subconscious desires. Psychotherapy seeks to bring them into consciousness.

Hitchcock’s characters frequently behave in ways that suggest subconscious or unconscious motivations. In addition, Hitchcock’s manipulation of his audience typically seeks to identify the viewer with these desires and behaviors of characters.

Repressed memory
Freud believed that traumatic events, usually from childhood, are repressed by the conscious mind. However, these destructive memories remain in the subconscious, where they are the source of neuroses and psychoses. The purpose of psychoanalysis is to recover these repressed memories so that the patient can deal with them in the conscious mind.

For Freud, most repressed memories relate to sexuality. One type, for example, derives from the primal scene, where the child witnesses his parents having sex, then represses the memory of the scene. In Psycho, Norman Bates is said to have murdered his mother and her lover after finding them in bed together. Similarly, in Marnie the heroine’s neurotic behavior is traced back to witnessing her prostitute mother being abused by a sex partner.

Neurotic episodes can be triggered by events or symbols in a person’s everyday life, even though the person may not understand the connection.

In Marnie, the color red terrifies Marnie. Eventually her neurosis is traced back to the violent episode in her childhood.

In Spellbound, the trigger is parallel lines on a light background. Through psychoanalysis, the source is recovered from the hero’s childhood, when he accidentally caused a death involving an iron fence (thus the parallel lines).

The Oedipal complex & Momism
The best known of Freud’s theories about childhood sexuality is named for the mythological king Oedipus, who killed his father and married his mother. As Freud described the complex, a young boy is sexually attracted to his mother, and as a result desires to kill his father in order to possess the mother. This forbidden desire is then repressed, only to return later in neurotic form.

In popular Freudianism, mothers are often seen as encouraging the Oedipal complex through possessive or flirtatious behavior toward sons. As Norman Bates tells Marion Crane, “a boy’s best friend is his mother.” (But also: “A son is a poor substitute for a lover.”)

In Psycho, the psychiatrist reports that Norman’s mother “was a clinging, demanding woman, and for years the two of them lived as if there was no one else in the world. Then she met a man, and it seemed to Norman that she threw him over for this man. Now that pushed him over the line and he killed them both.”

a critical assessment of the psychoanalytic feminist approach to film

Laura Mulvey against the grain: a critical assessment of the psychoanalytic feminist approach to filmBy Terje Steinulfsson Skjerdal, Centre for Cultural and Media Studies, University of Natal, 1997.

Abstract
Since the middle 1970s, Laura Mulvey has been regarded as one of the most prominent feminist film critic. Her critique of mainstream cinema is built on Lacanian psychoanalysis, in which the differences between male and female spectatorship becomes a key component. In this paper, I argue that Mulvey’s pscyhoanalytic approach to a very little extent is successful in dealing with the feminist dilemma. With references to “Thelma and Louise” (1991), I attempt to show that the psychoanalytic approach to film has three fatal weaknesses: (a) it is not easily applicable to film reading, (b) it assumes an unproven dichotomy between the active male and the passive female, and (c) it is simplistic in its condemnation of all Hollywood film.
    Content

  • Mulvey’s view of mainstream film: a typical feminist response
  • Approaching cinema through psychoanalysis
  • Critical assessment: how Mulvey’s approach fall short
    • The problem of applying psychoanalysis to filmThe problem of the active male vs. the passive femaleThe problem of reading all Hollywood film as antagonisticThe main contribution to film criticism by Laura Mulvey, whom I am about to assess in this paper, can be summarized as a challenge to both the audience and the film-maker. The audience is challenged in the way it assumingly reads film in a customary and uncritical manner; the film-maker is challenged by the degree to which he or she surrenders to the established norms of representing gender. A theorist and practitioner of feminist film criticism, Mulvey adopted and customized two central tools to analyse gendered address in classical narrative film: psychoanalysis and semiotic analysis. Following the publishing of her crucial essay «Visual Pleasure and Narrative Cinema» (1988b [1975]), an influential branch of feminist film theory was built on Mulvey’s theories as a vehicle to empower the broader feminist movement.This paper will trace the key elements of Mulvey’s theories, most notably psychoanalysis and feminist views on spectatorship. I will in this regard pay attention to the general theoretical significance as well as to the particular relevance to film criticism, since Mulvey throughout her writings seldom restricts herself to one theoretical aspect only. My specific aim in this section is to make clear what Mulvey’s critical theories have contributed to film criticism the past 20 years. I will then go on to critically assess Mulvey’s approach, with examples drawn from Thelma and Louise (1991). I hope thereby to show how a critical approach can question traditional film-making, but foremost I aim at proving that Mulvey’s psychoanalytic approach is insufficient to provide a sound modern film critique. The conclusion is twofold: firstly, that Laura Mulvey has contributed greatly to the criticism of gender representation in traditional Hollywood film [1]; secondly, that her reliability on psychoanalytic methods nevertheless proves to be an unfruitful approach to read films, both with regard to narrative content and with regard to her preoccupation with the relationship between film-maker and spectator.

      Mulvey’s approach to mainstream film: a typical feminist response

      Mulvey’s critique of traditional Hollywood film falls into the broad claim of feminist film criticism, as stated in «Visual Pleasure and Narrative Cinema»: «Film reflects, reveals and even plays on the straight, socially established interpretation of sexual difference which controls images, erotic ways of looking and spectacle» (p. 57). Film is thus seen as a reinforcement of traditional gender representation rather than a corrective. Crucial in this argument is the claim that the interpretation on behalf of the viewer takes place unconsciously, thus providing the basis for ignorance to gender oppression and subordination. It appears somewhat unclear from Mulvey’s writings whether she sees the portrayal of gender in mainstream film as a deliberate act performed by the production companies. On the one hand, the logical conclusion from the Freudo-Lacanian approach would be that also the film-maker’s thought is distorted through social learning. On the other hand, Mulvey utilizes the expression «manipulation of visual pleasure» to explain the magic of Hollywood style, as if the film-maker has a hidden male-biased agenda in mind. In either case, it is exactly the understanding of visual pleasure that is Mulvey’s project; in the first place to explain why the viewer is subject to a male reading of the film, and in the second place to propose solutions for an alternative way of reading and producing films.Mulvey claims that the main challenge for those who want to promote alternatives to the establishment is to overcome a patriarchal industry that has «left women largely without a voice» (1989, p. 39). The genres of melodrama and the western are used to prove this claim. With regard to melodramas, Mulvey argues that the sense in which these supposedly are able to equip women with a voice is contradictory. The female point of view will also here surrender to the overall patriarchal structure of society, Mulvey argues (1989). (Jackie Byars (1991) opposes this view, as I will note later on.) Central to Mulvey’s critique of traditional film is that popular culture discourages the audience from keeping a critical distance to the content (Seton, 1997). Most notably, however, is Mulvey’s assertion that the point of view that a camera holds is essentially male. The female viewer must therefore adapt to an identity other than her own, an argument that constitute the foundation for the psychoanalytic approach to film criticism. In this regard, Mulvey implicitly answers in the affirmative the question that has become central to feminist film criticism debate: «Is the gaze male?» Herein also lies Mulvey’s key to reading films: by help from Lacanian psychoanalysis.

      Approaching cinema through psychoanalysis

      One would not immediately think of psychoanalysis as a proper tool to read films, and perhaps it was partly the unexpectedness that made this approach popular after Mulvey presented it in 1975 . I will shortly summarize the main elements of this theory as it appeared in «Visual pleasure and narrative cinema» (1988b) [2].The primary proposition of the psychoanalytic method, developed by Freud and further elaborated by Lacan, is that the woman is subject to personal and social depression through her lack of a penis. Her exi
      stence is thus decided by her desire to escape castration, an escape which turns out to be impossible. Psychoanalysis subsequently sees the male as physically and symbolically dominant, a dominance that is only threatened by his adopted fear of castration. Mulvey draws in this respect more on Freud than on Lacan, although she later goes on to use Lacanian terms such as «imaginary» and «symbolic». In transferring this theory to film analysis, particular attention is paid to the Freudian explanation of scopophilia – control through gaze. Mulvey contends that the scopophilic nature is evident in the way films are watched. Through narrative structure and conditions of screening, cinema provides a perfect climate for looking at another person as an object of sexual stimulation. This is the scopophilic function of sexual instincts. The ego function is also apparent, and develops as the viewer seeks to identify with characters on the screen. A central component in Mulvey’s adoption of Freud’s psychoanalysis to film spectatorship is therefore voyeurism, the pleasure in looking.Further, Mulvey distinguishes between the active male and the passive female. She argues that this dichotomy is further reinforced by mainstream film which combines spectacle and narrative in a speculative manner. The woman is in this view crucial to the narrative (as an object); and at the same time, she freezes the narrative in «moments of erotic contemplation» (p. 62). These moments ‘apart from time’ are evident for instance when the camera shows a close-up of Julia Roberts’ leg as she pulls on her stockings in the opening sequence of Pretty Woman (1990). According to Mulvey, such filmatic techniques are a result of the male gaze, and only proves how feminine qualities are married with the passive – both in the way the film is made and in the way the spectator makes meaning of it. The masculine, on the other hand, is perceived as more complex, more perfect. When reading films, the female spectator is left with two options: She can either identify with the male camera and the male object within the film, or she can identify with the female object within the film in a masochistic way (Man, 1993). Her destiny is that she cannot escape the male gaze as she reads the film. From this, it is evident that Mulvey’s psychoanalytic approach to film is a pessimistic one, and indeed deterministic.Mulvey also makes it a point to rediscover the three looks that are associated with film: that of the camera, that of the audience, and that of the characters. Her argument is that only the third of these, the viewpoint of the characters, is present in mainstream film. The two others are denied in order to strip the spectator of critical thinking and suppress information that may question the ‘realism’ of the picture.From the last argument in particular, it is no surprise that Mulvey’s answer to the feminist challenge is to call for production methods that extensively discard traditional film-making and instead pave the way for alternative cinema. In other words, she becomes a proponent for avant-garde film. Alternative film that challenges the basic assumptions of mainstream film is possible in Mulvey’s opinion, but «it can still only exist as a counterpoint» (1988b, p. 59). This adds to the theoretical pessimism that I will argue is evident from Mulvey’s psychoanalytic approach. It leads in a sense to a cul-de-sac where the male gaze penetrates not only cinema, but also the fundamental way in which gender is represented in society. To overthrow this patriarchal structure in a simple manner is in Mulvey’s opinion inconceivable – which follows logically from the psychoanalytic approach. Avant-garde cinema turns out to be her only response to mainstream cinema which supposedly is so structured by the male gaze that it is unable to accommodate images of women without fetishism (Enciso, 1997). The only way to facilitate a powerful feminist cinema is to disrupt traditional viewing pleasure, so to speak.In «Afterthoughts on ‘Visual Pleasure and Narrative Cinema’» (1988a [1981]), Mulvey reinforces her Freudian approach to film interpretation. In particular, the distinction between the active male and the passive female is further argued and extended. The conclusion remains the same, «Hollywood genre films structured around masculine pleasure, offering an identification with the active point of view, allow a woman spectator to rediscover that lost aspect of her sexual identity» (p. 71). The masculine identification is thus evident both from the point of the female character and the female spectator.In addition to bringing psychoanalysis into film criticism, Mulvey should be acknowledged for her application of semiotics in reading gendered address. Her approach in this regard did not represent a pioneer project in film criticism in general, yet it gave a new direction for feminist film criticism in particular. As Seton (1997) points out, the tools offered by linguistics and semiotics provided insights into the spoken (i.e. the conscious articulation of patriarchy), thereby filling in for the shortcomings of psychoanalysis (which analyses the unspoken, i.e. the unconscious of patriarchy). [3]Overall, Mulvey’s contribution can be read as a shift in film analysis from ideology critique to cultural forms critique manifested through the dominant male viewing pleasures into which everything has to conform. We have seen that the central explanatory component in this theory is Freud’s assumption that the female is rendered powerless through her awareness of a lack of masculine genitals. The female, then, is in this view unable to find ways of emancipation through a movie industry that only reinforces the male gaze. Thus, Mulvey denies that traditional filmic solutions are capable of destroying the male-oriented female image, and she consequently calls for an avant-garde technique that enables women to develop imageries that explore their own fantasies and desires. Mulvey’s own films (notably Riddles of the Sphinx (1976), which she co-produced with Peter Wollen), are often referred to as successful avant-garde responses to the challenge that stems from the psychoanalytic film criticism. The clue in these films is precisely that they supposedly turns the female passive spectatorial position to an active one. Mulvey’s crucial importance to feminist film criticism is evident from several recent commentators, for instance Elizabeth Wright (1992): «All subsequent feminist film theory working within a psychoanalytic tradition has begun with Mulvey’s articulation of the patriarchal gaze of narrative cinema» (p. 120).

      A critical assessment: how Mulvey’s approach falls short

      Having explained Mulvey’s main thoughts, we are now ready to turn to a critical discussion of her approach. I will organize the criticism in three broad categories: the difficulty that lies within psychoanalytic theory itself and its application to film criticism, the fatal tendency to dichotomize male and female natures, and the simplistic view that all Hollywood film is destructive. The bottom line is that Mulvey’s theories fall short of empowering the broad feminist movement. I am not arguing against her aim, only her method and theory. In so doing, I will draw on the reading of Thelma and Louise, a film that in my opinion in fact gives women a voice, although the film is highly marked by the Hollywood stamp both in narrative structure, cinematography and mise en scène.The problem of applying psychoanalysis to film
      As E. Deidre Pribram (
      1988) points out, Freudian and Lacanian psychoanalytic theories have been central to film studies because they forge a link between cultural forms of representation (here: film), and the aquisition of subject identity in social beings. However, my argument is that this link has proved difficult to establish in practice. Mulvey’s project is to search for a theory that sufficiently explains why Hollywood cinema is a threat to women. Her starting-point is thus fixed: She sees traditional narrative film as being destructive in that it forces the female to submit to established patriarchal norms. At this point, we already see a fallacy to which psychoanalytic film criticism tends to submit. It starts with the assumption that gendered address in traditional film is destructive, and goes on to explain this phenomenon without investigating the truthfulness of the initial presupposition. Then in the second place, as we are blinded by the seemingly obvious relevance of explaining a cultural representation through its psychological significance, the psychoanalytical film critic will utilize semiotic terminology partly derived from Lacan to explain the link between sexual identity and social determination (through the moving picture). The explanation seems convincing, yet it does not prove its claim – precisely because the order of assumptions and explanations/claims is reversed. There are too many assumptions and too little proof, as it were.The methodological approach of psychoanalysis is therefore a highly problematic (and subjective) one. The problems of a psychoanalytic film theory is also apparent from its preoccupation with only one aspect of the human nature, sexual desires. E. Deidre Pribram (1988) adds to this critique and claims that psychoanalytic theories «fail to address the formation and operation of other variables or differences amongst individuals, such as race and class» (p. 2). This notion is a valid one, particularly when considering the fact that most feminists will claim to be part of a broader movement that questions every part of patriarchal domination. Interestingly enough, Pribram goes on to argue that psychoanalytic models are also weak in that they deny the importance of the context; «no place is allowed for shifts in textual meaning related to shifts in viewing situation», hence ignoring the differences in viewership that might come about when people with different social and cultural backgrounds read the same movie. However, this position of psychoanalysitic film theory corresponds with its major premise that the gaze is merely male. This criticism will be further discussed under the next subheading.Christine Gledhill (1988) contends that a weakness of the psychoanalytic film approach (which she consistently calls «cine-psychoanalysis») is that it has derived its framework from the perspective of masculinity. The theory thus characterizes the feminine as «lack», «absence» and «otherness». However, Glenhill notes that there has been a development from early cine-psychoanalysis, i.e. from the 1970s, and that more recent approaches to the theory may be able to acknowledge feminine qualities as more complex than «male subordination». This is a valuable remark, and should be kept in mind as we examine Mulvey’s theories; it should not be taken for granted that she still supports all aspects of the approach as it appeared in the first publishing of «Visual Pleasure and Narrative Cinema» in 1975. However, in the introduction to the 1989 reprinting of the essay, Mulvey does reinforce the psychoanalytic approach, though she maintains that the practical side of the theory faced a different social climate in the 1970s.Teresa de Lauretis (1987) applauds much of Mulvey’s work, but is critical of the psychoanalytic approach. Her concern is particularly to prove the limits of this approach for film theory, and she argues that semiotic theories of iconicity and narrativity would be of more user to feminist film critics. De Lauretis’s critique seems to be sound in the first place, but how does she go about distinguishing semiotic theories from psychoanalysis, especially in the tradition of Lacan? Her response to this question appears to be incomplete.Zoe Sofia (1989), on the other hand, is easier to follow as she argues that a main difficulty with psychoanalytic cultural criticism is the inflexibility that results when the findings are generalized. The difficulty arises as the researcher tries to map out a larger theory from the analysis of the psyche; the problem is just that the findings will inevitably gravitate towards sociological conceptions already determined by the order of gender differences (which, again, stems from the presuppositions of the psychoanalytic approach).One of the more solid critiques of feminist psychoanalysis is provided by Jackie Byars (1991). Her argument is well-founded in that it points both to inconsistencies within psychoanalysis itself as well as to the problems of applying the theory to feminist film criticism. Byars notes how Freudian and Lacanian psychoanalysis sees the masculine as normative and the feminine as deviant, and further argues that this theory indeed «cannot account for resistance and ideological struggle; they represent, instead, the psychic mechanisms for reinforcing dominant ideologies» (p. 137). If true, this argument is all the more embarrassing to feminist psychoanalysists when facing the fact that feminism’s major project is exactly to reveal and overthrow dominant structures at all levels. Byars also contends that recent developments in psychology has discarded parts of Freud’s theories, whereas in film theory orthodox Freudianism still prevails.What, then, about the application of psychoanalysis to the actual interpretation of films? In my view, the reading of films through Freudian glasses proves how difficult it is to utilize psychoanalysis as a tool to understand patriarchal structures in society. A few examples from Thelma and Louise will illustrate my point.In a psychoanalytic reading, Thelma (Geena Davis) and Louise (Susan Sarandon) are seen as objects of their traditional, domestic world. Their ascribed task in life is to do the dish-washing, to nurture and to love their husbands. No other world is known to them. Thelma and Louise’s desire, however, is to escape and get away. In particular, they seek independence, freedom and space – qualities usually attributed to males. The psychoanalytic reading of this is obvious: The female’s innate hatred of castration leads her to worship masculine qualities. As the storyline develops and the two women run away to free themselves from their domestic environment, they indeed utilize masculine commodities to make their escape possible: a car, a gun, harsh language. Yet the psychoanalyst would not let the women get away with easy solutions. Eventually, they will have to surrender to their female destiny. I can therefore only think about one psychoanalytic interpretation of Thelma and Louise’s decision to speed their stolen car to the edge of the Grand Canyon in the end: They were ultimately trapped by the powers of the male-dominated society; the only way out – if not returning to their domestic world – was to give it all up. A positive interpretation of this last sequence is inconceivable in psychoanalytic terms.With regard to spectatorship, the psychoanalytic approach faces however difficulties. One of the problematic question is this: How can the male – who assumingly watch
      es movies mainly for pleasure (voyuerism) – have pleasure in watching two women gaining power over other men? (Our presupposition here is that males actually did enjoy Thelma and Louise, which is evident from the popularity of the movie both among men and women.) The castration fear would certainly make this a painful watching experience for men as well as women. To this I simply reply that the psychoanalytic approach appears to be unable to deal with such problems.The problem of the active male vs. the passive female
      My second objection to Mulvey’s film theory arises from her rigid distinction between the active male and the passive female. In her view, woman is the object and man is the bearer of the look (the gaze is male). This dichotomy can to a certain extent be explained by the tendency for tying gender to biological determinism rather than to social development. Yet the psychoanalytic theory fails to account for differences within each gender, as I am about to argue now.In her argument against this dualistic model of gender identity, Sofia (
      1989) points out that the woman remains almost without any sexual identity in psychoanalysis since she is entirely defined in relation to the man. Sofia espands her argument by denying that symbolic language (as defined by Lacan) is adequate to masculine self-representation. Likewise, Sofia argues, textual excess or indecidability should not always be regarded as a feminine quality. Indeed, she concludes her paper with a crucial precaution that is highly relevant to a critical assessment of feminist film theories, namely that a failure to distinguish between feminine and masculine femininities and maternal figures can result in misreadings of masculine perversity as feminist progress. Such misreadings would of course go against the aim of the entire Mulveyian project.The fallacy of defining the genders as dichotomous categories becomes similarly clear from Mulvey’s assumption that the male is the bearer of the look. She expands this assumption to an application of the narrative film industry in order to show that both characters, film-makers and audience take the male gaze for granted. But how then, we must ask, is it possible to account for the differences that we apparently see in female characters within the same film? Mulvey’s answer is that there only appears to be a difference, a lesser or larger degree of masculine/feminine acting, but in reality all such individual characteristics are constructued to perfectly suit the overall notion of the man as the bearer of the look. The female spectator, then, unconsciously has to shift between an active masculine and a passive feminine identity.Pamela Robertson (1996) agrees with the assertion that female spectatorship is characterized by an oscillation between the active and the passive, but she also argues for a model that more accurately can account for «the overlap between passitivity and activity in a viewer who sees through, simultaneously perhaps, one mask of serious femininity and another mask of laughing femininity» (p. 15). Robertson’s solution is the position of camp, which she argues for extensively throughout her book, but it ultimately appears to be just another separatist ideology – which I doubt is a fruitful answer to the feminist challenge.Since Mulvey approaches the feminist gaze as utopic, how will she read Thelma and Louise? We can only guess. Because the psychoanalytic starting-point is that the female spectator is forced to read every action as either passive submission or active identification, it is likely that the critic will ignore the complexity of Thelma and Louise’s characters. Such a view becomes problematic because, as Glenn Man (1993) points out, Thelma and Louise generates a complex narrative process that can create «new fantasies for spectator appropriation» (p. 37). Man goes on to state what is exactly the core of my argument here: «What the narration of Thelma and Louise attempts to do then is to inscribe both women as subjects and agents of the narrative, give authentic voice to their desires, and mute the discourses of the male characters» (p. 39). If this is a sound observation, and I believe it is, then Mulvey’s assumption of the silent woman in Hollywood film is false.The problem of reading all Hollywood film as antagonistic
      We have seen that Mulvey argues for a feminist film-making practice that goes against traditional narrative film as much as possible. The assumption behind this argument is that the audience is so surrounded by traditional patriarchal norms that it is not able to critically read films unless an entirely different approach is provided. Mulvey’s response is to call for the avant-garde cinema, which she sees as a possible alternative to Hollywood, but «it can still only exist as a counterpoint» (
      1988b, p. 59). There is truly a sense of pessimism in that statement, a sort of Mulveyian «realistic dissidence» (cf. Theodor Adorno).Byars (1991) strongly objects to this claim that narrative film is all bad. Quite contrary to Mulvey, Byars sees the American melodramas of the 1950s as a creative tool rather than a destructive force. She shows that the Hollywood dramas not only encouraged the audience (both males and females) to interpret the filmic material, but also extended debates around issues of sexual divisions of labour, gender roles, and family structure.The kind of view that Byars advocates has gained more recognition in feminist circles in recent years. Film-maker Michelle Citron (1988), for instance, openly argues for a feminist use of Hollywood. In her opinion, the entry into mainstream narrative film-making will «broaden the work we [feminist film-makers] do and expand our understanding of visual culture and of ourselves» (p. 62). She even contends that traditional narrative film has more potential than alternative film in some areas because it opens up for contradictions, paradoxes and uncertainties. Another major point she raises against avant-garde advocates such as Mulvey, is that alternative cinema is inaccessible to many viewers. It contains an unfamiliar style and communicative form, and thus creates a gap that many viewers cannot overcome. Nuria Enciso (1997) adds to this critique, and maintains that radical films like Mulvey’s «have remained on the fringe and therefore have not contributed as greatly as they could have to altering the position of women within society».A main concern of Mulvey’s is the question of whether it is possible to obtain a true feminist gaze. By means of traditional narrative film, her answer is negative. On the contrary, Mulvey argues that only an alternative film method in the hands of feminists can possibly turn the gaze around. However, reality seems to be more complex than what Mulvey seems to suggest. That the film-maker is female does not of course ensure that the gaze will be feminine. And what is a feminine gaze? Film critics disagree on this point; many will say that there is no essential difference between a male and a female gaze. Furthermore, as Enciso (1997) points out, there are within each gender vast differences between individuals (there are blacks, older, younger, working-class, etc.). Such differences will often override gender differences as well, and makes the whole notion of gender separations highly
      questionable. It follows from this that Mulvey’s theories hardly can be said to have universal validity.Lastly, I will pay attention to the fact that contemporary mainstream cinema utilizes filmatic techniques and strategies of narration that would have been considered alternative only one decade ago. It is enough here to refer to Romeo and Juliet (1996) and Natural Born Killers (1994), which both have attracted large audiences although they in some ways break significantly with established narrative film. In the same manner, Thelma and Louise has been able to put on the agenda a traditionally marginalized issue, the issue of women emancipatoin. The last statement should be qualified to a certain extent; some commentators, such as Elayne Rapping, «certainly don’t think it’s a feminist movie» (1992, p. 30). However, I am not so concerned here with classifying what is a feminist movie and not. My argument is that the main concern for feminist film should not necessarily be to oppose mainstream film in all aspects. Rather, the focus should be on the issue itself, namely the struggle for women’s liberation. In this struggle, I contend that mainstream film may very well be a helpful tool, because, as Enciso (1997) points out, «the situation for women intellectuals and artists is already difficult enough without women discouraging their own participation in popular culture».In conclusion, I ought to give credit to Laura Mulvey for her important role in paving the way for a modern feminist film criticism whose main concern has been to give voice to marginalized sub-groups in society. I think here not only of the feminist movement itself. Nevertheless, I wish to maintain that Mulvey’s psychoanalytic approach has not been fruitful to an understanding of gendered address in traditional cinema.



      Notes

      1. By «traditional Hollywood film» I mean mainstream movies which to a very little extent seek to challenge established norms and underlying societal ideologies. «Hollywood film» is always produced to reach a large audience, but needs not necessarily be made in Hollywood. The central claim in feminist film criticism is that Hollywood film fails to question dominant patriarchal structures in society.2. Two other scholars who contributed to the development of psychoanalytic film theory in the mid-seventies were Christian Metz and Juliet Mitchell. More names could have been mentioned. However, this paper concentrates merely on Mulvey’s work since she appears to have been the most influential in developing a feminist film criticism based on psychoanalysis.3. We may also speak of semiotics within psychoanalysis. Indeed, it is difficult to explain Lacanian psychoanalysis without using semiotic terminology. Lacan sees the phallus as the «signifier of signifers», the representative of signification and language. Moreover, the phallus signifies distribution of power and possession; a notion which in turn becomes a crucial element in Mulvey’s use of psychoanalysis. Lacan’s significance for feminist theory is extensively traced by Elizabeth Grosz (1990).



      References

    • Byars, J. (1991). All that Hollywood allows. London: The University of North Carolina Press.
    • De Lauretis, T. (1984). Alice doesn’t: feminism, semiotics, cinema. London: Macmillan.
    • Citron, M. (1988). Women’s film production: going mainstream. In E. D. Pribram (Ed.), Female spectators: looking at film and television (pp. 45–63). London: Verso.
    • Enciso, N. (1997). Turning the gaze around and «Orlando». World Wide Web: http://domingo.concordia.ca/~mtribe/mtribe95/orlando.html.
    • Gledhill, C. (1988). Pleasurable negotiations. In E. D. Pribram (Ed.), Female spectators: looking at film and television (pp. 64–89). London: Verso.
    • Grosz, E. (1990). Jacques Lacan: a feminist introduction. London: Routledge.
    • Man, G. (1993). Gender, genre, and myth in «Thelma and Louise». Film Criticism, xviii(1), 36–53.
    • Mulvey, L. (1988a). Afterthoughts on «Visual pleasure and narrative cinema». In C. Penley (Ed.), Feminism and film theory. New York: Routledge.
    • Mulvey, L. (1988b). Visual pleasure and narrative cinema. In C. Penley (Ed.), Feminism and film theory. New York: Routledge.
    • Mulvey, L. (1989). Visual and other pleasures. Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press.
    • Pribram, E. D. (1988). Introduction. In E. D. Pribram (Ed.), Female spectators: looking at film and television. London: Verso.
    • Rapping, E. (1992). Feminism gets the Hollywood treatment. Cineaste, xviii(4), 30–32.
    • Robertson, P. (1996). Guilty pleasure. Feminist camp from Mae West to Madonna. Durham and London: Duke University Press.
    • Seton, J. (1997). Feminist film theory. World Wide Web: http://www.massey.ac.nz/~NZSRDA/nzssreps/journals/sites/seton13.htm.
    • Sofia, Z. (1989). Masculine excess and the metaphorics of vision: some problems of feminist film theory. Continuum: The Australian Journal of Media & Culture, 2(2).
    • Wright, E. (1992). Feminism and psychoanalysis. Cambridge, MA: Blackwell.

    • Directory Up Terje Steinulfsson Skjerdal
      Address: Bergtoras veg 73B, N-4633 Kristiansand, Norway
      Phone: (+47) 38 14 51 70 (w), (+47) 38 14 51 72 (p). Fax: (+47) 38 14 50 40
      Last modified: 1 April 1999
      Home | CV | Academic | Norway | South Africa | Friends | Links | Guestbook | Directory

      This page hosted by Get your own Free Home Page geovisit(); setstats1 

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

  •  
  •  

Psychology

Psychology

The study of human behavior and mental processes. Psychology is sharply divided into applied and experimental areas. However, many fields are represented in both research and applied psychology.

Researchers in psychology study a wide range of areas. Cognitive research is often included as part of subdiscipline called cognitive science. This area examines central issues such as how mental process work, the relation between mind and brain, and the way in which biological transducing systems can convert physical regularities into perceptions of the world. Cognitive science is carved from the common ground shared by computer science, cognitive psychology, philosophy of mind, linguistics, neuropsychology, and cognitive anthropology. The study of human attention is a cognitive area that is central in the field. See also Cognition.

The study of consciousness involves such basic questions as the physiological basis of mental activity, the freedom of will, and the conscious and unconscious uses of memory. The latter topic can be classified under the rubric of implicit memory. See also Instinctive behavior; Memory; Psycholinguistics; Sensation.

Social psychology includes the study of interactions between individuals and groups, as well as the effects of groups on the attitudes, opinions, and behavior of individuals. The field covers such topics as persuasion, conformity, obedience to authority, stereotyping, prejudice, and decision making in social contexts. See also Motivation; Personality theory.

Developmental psychology has three subfields: life-span development, child development, and aging. Most research in the area concentrates on child development, which examines the development of abilities, personality, social relations, and, essentially, every attribute and ability seen in adults. See also Aging; Intelligence.

A clinical psychologist is usually known by the term psychologist, which in some states is a term that can be used only by a registered practitioner. A psychiatrist is a physician with a specialty in psychiatric treatment and, in most states, with certification as a psychiatrist by a board of medical examiners. A psychoanalyst is typically trained by a psychoanalytic institute in a version of the Freudian method of psychoanalysis. A large number of practitioners qualify both as psychoanalysts and psychiatrists. See also Psychoanalysis.

Neuropsychologists are usually psychologists, who may come from an experimental or a clinical background but who must go through certification as psychologists. They treat individuals who have psychological disorders with a clear neurological etiology, such as stroke.

Clinical practice includes individual consultation with clients, group therapy, and work in clinics or with teams of health professionals. Psychological therapists work in many settings and on problems ranging from short-term crises and substance abuse, to psychosis and major disorders. While there are definite biases within each field, it is possible for a practitioner with any background to prefer behavior therapy, a humanistic approach, a Freudian (dynamic) approach, or an eclectic approach derived from these and other areas.

Nonclinical professional work in psychology includes the human-factors element, which traditionally is applied to the design of the interface between a machine and its human operator. Cognitive engineering is a branch of applied psychology that deals mainly with software and hardware computer design. Industrial psychology also includes personnel selection and management and organizational planning and consulting.

The use of psychology in forensic matters is a natural result of the fact that much of law is based on psychology. Psychologists have been involved in jury selection, organization of evidence, evaluation of eyewitness testimony, and presentation of material in court cases. Psychiatrists and psychologists are also called on to diagnose potential defendants for mental disorders and the ability to stand trial.