-sudut kota biru-

Tertatih dengan sebatang tongkat,

nenek tua itu berjalan

diantara deru bising kehidupan.

Ditelusurinya satu bahagian kota

demi sebuah kenangan, katanya.

 

“Aku dan suamiku dulu

bertemu dan menikah

di kota ini, tapi lacur

 prasasti itu hilang !” katanya.

 

Setengah terkejut ku lihat

nenek itu berjalan dalam keping

senyum di bibirnya tak lagi merah

dan urai rambutnya kini telah terikat.

 

Tangan rapuhnya kini t’lah berubah

menggenggam sebuah belati

ia teriakan nama suaminya

 

Karta……….Karta….!

Beri aku tanda untuk

melihat nafas hidup.

Kini cucu-cucu kita sudah merdeka.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: