Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (Chapter 2)

BAB II

ANALISIS REPRESI KEINGINAN

Pembahasan pada bab II dan III akan difokuskan pada empat tokoh dalam drama Mangir, yaitu Putri Pambayun, Wanabaya, Baru Klinthing, dan Tumenggung Mandaraka dengan alasan sebagai berikut. Pertama, keberadaan mereka dalam drama Mangir memiliki porsi yang lebih banyak dibandingkan tokoh-tokoh yang lain. Kedua, konflik-konflik yang terjadi pada tokoh-tokoh dalam drama Mangir disebabkan atau dipengaruhi oleh keberadaan mereka sehingga permasalahan yang muncul dalam kepribadian tokoh-tokoh yang lain selalu dipusatkan untuk mengungkapkan kepribadian mereka. Ketiga, sosok pemimpin dalam diri mereka secara politis dikompensasikan (pengalihan atau penggantian tujuan-tujuan) dengan menekan pihak lain sebagai pencapaian kesuksesan sehingga lebih menarik untuk diadakan penelitian untuk menjelaskan mengapa seseorang yang tidak menunjukkan kematangan kepribadian menjadi seorang pemimpin masyarakat. Pemimpin merupakan cerminan masyarakat dimana tujuan-tujuan masyarakat menjadi tujuan peribadinya. Keseimbangan dalam konsep Jawa merupakan dasar dalam kehidupan untuk mencapai keselarasan (Prabowo, 2004: 172—173).

Represi keinginan merupakan mekanisme yang dilakukan Ego untuk meredakan kecemasan dengan menekan dorongan-dorongan tersebut ke alam bawah sadar (Koeswara, 1991: 44). Dengan adanya represi yang berlebihan akan menyebabkan dorongan energi psikis yang kuat menyebabkan gejala neurotik pada individu. Ketika Ego mulai melemah, misalnya kondisi tidur, stres, atau kelelahan fisik, naluri akan bergerak menuju alam bawah sadar menuju obyek dari kebutuhannya. Dari sini, Ego, sebagai pengendali naluri, berusaha mewujudkan secara konstan dengan mengganti naluri dalam bentuk lain yang mempunyai kesamaan sehingga Id merasa sudah mendapatkan obyek keinginannya.

Dalam tahap ini diperlukan pemahaman tentang cara tokoh menyembunyikan keinginannya dan mengutarakan dengan hal lain. Oleh karena itu, analisis metafora diperlukan untuk mengetahui bentuk loncatan makna yang hadir dan diungkapkan secara tidak sadar oleh tokoh melalui bahasa kiasan. Struktur metafora yang menunjukkan sebuah substitusi (penggantian) penanda ke penanda yang mengakibatkan kerancuan makna. Tanda (+) menggambarkan loncatan untuk menghasilkan makna (Lacan dalam Lodge, 1995: 95).

Munculnya simbolisasi keinginan mengakibatkan penafsiran secara bertahap melalui obyek yang saling menutupi sebagai akibat dari loncatan sehingga makna yang ingin diperoleh harus melalui proses pemaknaan atas keinginan yang menutupinya terlebih dahulu untuk mengetahui simbolisasi keinginan di bawahnya. Oleh karena itu, metode analisis mimpi dipergunakan sebagai prakondisi untuk mengungkap represi keinginan pasien. Analisis mimpi, menurut Freud (Koeswara, 2004: 30—31) merupakan cara untuk mengetahui keinginan-keinginan atau pengalaman-pangalaman apa yang direpres oleh pemimpi di alam sadarnya sebagai penyebab gejala-gejala neurotik tokoh, misalnya impian tokoh, kelakar, ataupun ucapan yang terpeleset.

Freud memandang mimpi sebagai jalan utama menuju ke alam tak saar karena isi mimpi merupakan obyek yang diinginkan oleh keinginan-keinginan yang direpres. Oleh karena itu, mimpi bisa ditafsirkan sebagai pemuasan simbolis dari keinginan. Penafsiran mimpi yang menyertakan analisis makna-makna yang samar dari simbolisasi keinginan tersebut mempermudah untuk mengetahui gejala-gejala motivasional yang dialaminya (Koeswara, 1991: 66).

2.1 Putri Pambayun

Semut adalah hewan kecil yang merupakan simbol binatang lemah dan mudah mati walaupun diinjak tanpa memakai kekuatan yang besar. Simbol ini diungkapkan bawah sadar Putri Pambayun sebagai penggambaran atas dirinya. Makna lain muncul ketika semut tersebut menyusup ke dalam organ tubuh manusia dan menyebabkan gangguan bagi manusia tersebut. Jika dilakukan dalam jumlah besar, sekawanan semut, menyebabkan gangguan tertentu yang mengarahkan manusia bertindak tanpa sadar sehingga mengancam kehidupannya.

Putri Pambayun

:

Dalam gandengan tangan Ki Wanabaya Muda, bahkan di bawah bayang-bayangnya, semut pun tiada kan gentar (Mangir: 23).

Berdasarkan pemaknaan di atas, terdapat keinginan lain yang berusaha diungkapkan oleh Putri Pambayun, yaitu kedatangannya ke Mangir bersama rombongan waranggana, prajurit Mataram, bermaksud mengganggu ketentraman dan menghancurkan Perdikan Mangir. Naluri tersebut muncul sebagai penggabungan tugasnya sebagai telik sandi dan seorang wanita yang membutuhkan kasih sayang dari lawan jenis. Secara tidak sadar keinginan-keingian tersebut membentuk konflik dalam diri Putri Pambayun karena pemenuhan atas keduanya mempunyai pertimbangan yang saling berlawanan. Pemenuhan libido seksual yang mengharuskan Putri Pambayun menikahi Wanabaya dan hidup selamanya tidak berterima dengan pemenuhan naluri merusaknya, yaitu menghancurkan Perdikan Mangir. Berdasarkan tingkat keinginan dan kondisi yang harus diproritaskan untuk menjaga kelangsungan hidup Putri Pambayun, ia menjalani kehidupan di Perdikan Mangir untuk memperoleh keterangan pertahanan meraka. Hal ini dilakukan Id untuk mengurangi ketegangan antar keinginan dan menjalani kehidupannya tanpa terganggu oleh dorongan keinginan-keinginan. Mekanisme ini adalah usaha Id untuk mencapai kepuasan dan menghindari ketegangan dalam dirinya. Dari sini terlihat kepribadian Putri Pambayun sebagai sosok wanita yang pandai memposisikan diri untuk memenuhi keinginannya.

Asap adalah hasil pembakaran berupa gas dan mempunyai unsur-unsur yang mampu meracuni manusia. Orang yang terlalu banyak menghisap asap akan mengalami gejala sesak nafas dan bila berlebihan akan menyebabkan kematian. Hubungan kausalitas tedapat antara api dan asap. Api merupakan penyebab terjadinya asap dan mempunyai sifat menghancurkan. Api yang mempunyai sifat panas sering dihubungkan dengan perasaan marah dan benci pada manusia karena dampak yang ditimbulkan mereka sama, yaitu keinginan untuk merusak segala hal yang berada di sekitar mereka.

Mata adalah bagian dari organ tubuh manusia yang dipergunakan untuk melihat. Adanya penghalang pada mata untuk mengetahui keadaan di sekitarnya akan menyebabkan gangguan pada individu tersebut untuk bergerak atau meneruskan langkahnya. Dengan adanya asap yang membuat pedih pada mata, maka seseorang harus menghindari asap agar arah pandang
dan langkahnya tidak terganggu.

Putri Pambayun

:

Sudah semestinya, kakang takut asap pedihkan mata si kekasih ini (Mangir: 41).

Melalui pemaknaan di atas dapat diperoleh keinginan yang beruaha diungkapkan oleh bawah sadar Putri Pambayun yaitu kagagalannya membuat keluarga yang sejahtera karena terganggu oleh dendam antar golongan masyarakat tempat ia menjalani kehidupannya kini, yaitu Mataram dan Mangir. Perasaan benci kepada ayah yang memberi tugas, sebagai telik sandi, bertentangan dengan hati nuraninya dan Putri Pambayun mengharapkan Wanabaya bersedia menolong dirinya memecahkan permasalahan yang sedang dihadapinya kini dengan menyingkirkan penyebab permasalahannya tersebut, yaitu Panembahan Senapati. Perilaku ini adalah usaha bawah sadar Putri Pambayun untuk menghilangkan ketegangan, antara libido seksual dan thanatos, dengan mempergunakan pengalihan keinginan yaitu menarik simpati Wanabaya. Berdasarkan pemenuhan keinginan tersebut, terdapat beberapa keinginan yang mengalami represi, yaitu: menghancurkan Perdikan Mangir, memisahkan Wanabaya dan Baru Kinthing, dan membunuh ayahnya, yang semuanya itu merupakan naluri thanatos untuk memenuhi libido seksualnya dan membebaskan diri dari perasaan takut.

Pohon beringin mempunyai bentuk yang besar dengan daun yang lebat. Orang yang mempunyai pohon beringin di pekarangannya secara otomatis berusaha memperbanyak jumlah tanaman, bisa yang lainnya, agar terlihat lebih nyaman. Bentuknya yang rindang membuat setiap orang yang berada di bawahnya terlindungi dari sinar matahari, tetapi juga berbahaya jika pohon tersebut tidak kokoh. Keberadaan pohon beringin juga identik dengan sifat-sifat mistik atau berhubungan dengan roh halus. Kondisi di sekitar pohon beringin yang dianggap keramat menggambarkan alam baka atau kematian.

Burung adalah jenis hewan yang dapat terbang dengan mempergunakan sayapnya. Kebiasaan melayang-layang atau tidak menginjak tanah tersebut disamakan dengan pikiran manusia, terdapat pada orang yang sedang melamun, karena mereka tidak berpikir berdasarkan kenyataan. Perilaku ini dilakukan manusia untuk mengurangi beban pikiran atau ketegangan setelah mengalami konflik dengan individu lainnya. Kicauan burung mempunyai dua pengaruh pada manusia, yaitu perasaan gembira karena suara kicau burung mampu mengusir kepenatan atau perasaan marah karena terganggu konsentrasinya.

Putri Pambayun

:

Kalaupun Adisaroh mati, semoga matilah di sini, di bawah naungan beringin, ditingkah kicauan burung tiada henti (Mangir: 42).

Berdasarkan pemaknaan di atas terdapat gambaran keinginan Putri Pambayun untuk memperoleh perlindungan dari orang yang dianggap paling kuat, Wanabaya, agar terhindar dari permasalahan yang sedang dialaminya, yaitu bayang-bayang kematian yang akan menimpa keluarganya, meskipun ia mengetahui bahwa individu yang menjadi tempat berlindungi tersebut tidak mampu menghadapi serangan dari Mataram karena rahasia pasukannya telah diketahui oleh pasukan Mataram. Keinginan untuk membunuh ayahnya muncul untuk mengurangi ketegangan, tetapi mengalami represi yang kemudian dialihkan dengan membenci Tumenggung Mandaraka yang selalu membicarakan pelunasan hutang janjinya kepada sang ayah.

Banyaknya konflik yang terjadi dalam diri Putri Pambayun menyebabkan mekanisme berpikir untuk memilih kepentingan yang mampu menjamin kelangsungan hidupnya melemah. Oleh karena itu, energi psikis libido seksual yang diutamakan semakin berkurang dan berganti dengan naluri thanatos yang secara tidak langsung membuka jalan bagi keinginan yang mengalami represi sebelumnya untuk kembali hadir. Situasi yang tidak memungkinkan untuk mewujudkan naluri tersebut, maka pelaksanaannya melalui tindakan membenci Tumenggung Mandaraka selaku sosok yang menyebabkan kegelisahan dalam dirinya.

Berdasarkan fungsinya, kandang merupakan alat yang dipergunakan sebagai tempat tinggal dan menjaga hewan peliharaan agar tidak kabur dan terhindar dari bahaya yang mengancam mereka. Adanya hewan yang terlepas dari kandang menandakan bahwa orang yang bertugas menjaga kandang tersebut lengah atau melalaikan tugasnya. Konsekuensi yang harus ditanggung adalah mendapat marah dari majikan. Namun nasib yang lebih buruk akan diterima oleh pemilik hewan karena ia kehilangan sesuatu yang berharga dengan proses pemeliharaan yang menyita waktu, harta, dan tenaga.

Putri Pambayun

:

Coba lihat di kandang sana (Mangir: 58).

Ungkapan di atas menggambarkan kesedihan Putri Pambayun terhadap harta yang paling berharga bagi dirinya, keluarga, yang direnggut Tumenggung Mandaraka. Pikiran yang kacau tidak memungkinan Putri Pambayun untuk mengambil tindakan rasional. Oleh karena itu, muncul keinginan untuk memarahi Suriwang sebagai distorsi ketidakmampuan menjaga kedamaian keluarga.

Putri Pambayun

:

Begitu kakang pergi, kuperhatikan burung-burung dalam sangkar itu. Dari manakah asalnya? Pecah dari telor,
mengembarai angkasa, tertangkap manusia, dikurung sampai entah berapa lama
….Tidak, Kang, tak suka lagi aku pada tambra. Dan jago aduan dalam kurungan itu. Terkurung entah sampai berapa lama, untuk mati tarung di gelanggang sabung (Mangir: 60).

Melalui perumpamaan perjalanan hidup burung, Putri Pambayun menggambarkan kehidupan yang bebas sesuai dengan maksud hatinya dan tidak menginginkan kehadiran ikatan yang menghalangi langkahnya. Terlihat usaha penggambaran kehidupannya mulai dari kelahiran, menjalani kehidupan dengan bebas, kemudian bertemu dengan Wanabaya, dan hidup menetap di Perdikan Mangir. Kesalahan yang dilakukannya di masa lalu memunculkan kemarahan, sebagai reaksi pembalik, yang diwujudkan dengan membenci Perdikan Mangir, kemudian dialihkan kepada para Tetua Perdikan sebagai tempat Wanabaya dan memberi ijin kepadanya untuk menikah yang menyebabkan Putri Pambayun harus tinggal menetap di Perdikan Mangir.

Tambra adalah salah satu jenis ikan yang dipelihara oleh manusia untuk menjadi hiasan maupun lauk makanan. Gambaran ikan hias adalah kehidupan yang dipelihara untuk menggembirakan hati mereka dengan melihat gerak-geriknya, sedangkan sebagai lauk ia akan ditangkap oleh manusia, dipelihara, dan kemudian disembelih untuk diambil dagingnya. Melalui penggambaran ini, Putri Pambayun berusaha mengungkapkan keinginannya untuk terlepas dari ekploitasi yang ditujukan kepadanya, baik dari Wanabaya, dengan ikatan perkawinan dan tanggung jawab sosial, maupun Panembahan Senapati, dengan tugas menjadi telik sandi dan hukuman yang akan diberikan jika tugasnya gagal.

Ayam jago dipelihara untuk dijadikan aduan dan akan menjalani pertarungan selama masih mampu menghadapi lawan-lawannya. Wanabaya mempunyai kesamaan dengan kondisi yang dialami oleh ayam jago tersebut. Ia dipelihara oleh penduduk Mangir dengan balasan bersedia menjadi pemimpin prajurit mereka dan rela mati untuk membela kehormatan penduduk Mangir. Berdasarkan kondisi tersebut, Putri Pambayun berusaha menggambarkan ketakutan ditinggal mati oleh Wanabaya karena tugasnya sebagai panglima perang.

Gambaran di atas merupakan kondisi Putri Pambayun yang ingin menjalani kehidupan tanpa tekanan dari pihak manapun yang membuat hidupnya menderita. Melalui gambaran tiga hewan tersebut, terdapat tiga pihak yang menginginkan pengorbanan dirinya, yaitu: ayam jago (Wanabaya), tambra (Panembahan Senapati), dan burung (tetua perdikan). Adanya pertentangan dalam diri Putri Pambayun untuk memenuhi keinginan dari pihak tertentu mengakibatkan melemahnya daya kehidupan Pambayaun. Kondisi ini, merangsang kemunculan naluri thanatos dalam diri Putri Pambayun untuk mengorbankan semua pihak. Ketidaksukaannya memelihara hewan-hewan tersebut diwujudkan dengan menjadi pasukan perang Mangir karena ketidakmampuannya untuk mempertimbangkan pihak yang mampu menjaga kelangsungan hidupnya. Dengan menjadi seorang prajurit, ia membiarkan pihak-pihak tersebut berperang dan menunggu pihak berhak mendapatkan kehidupannya.

2.2 Wanabaya

Lidah adalah indera pengecap yang berada di dalam mulut. Keberadaan lidah mempunyai hubungan dengan bagaimana seorang manusia bisa berbicara. Gambaran tersebut identik dengan perilaku berbicara manusia untuk mengungkapkan keinginan kepada orang lain. Melalui gambaran berikut Wanabaya berusaha mengungkapkan kebenciannya terhadap Baru Klinthing yang merupakan pengatur strategi dan selalu mengandalkan kemampuan berbicaranya untuk menguasai orang lain.

Wanabaya

:

….Apa guna sembunyi di belakang lidah yang lain? (Mangir: 24)

Melalui penggambaran tersebut, Wanabaya berusaha mengungkapkan keinginan untuk menghancurkan wibawa Baru Klinthing. Hal ini dipengaruhi oleh faktor eksternal yang mengakibatkan keinginan dengan distorsi menikahi Putri Pambayun. Posisi Wanabaya sebagai panglima perang Mangir diterima sebagai kepura-puraan karena ingin menikahi Putri Pambayun. Adanya hambatan pemenuhan libido seksualnya terhadap Putri Pambayun menjadi penyebab kemunculan naluri tersebut.

Wanabaya

:

Sejak detik ini kau tinggal di sini, jadi rembulan bagi hidupku, jadi matari untuk rumahku (Mangir: 27).

Rembulan berasal dari kata ‘bulan’ yang mempunyai arti benda langit yang memancarkan sinar pada malam hari. Kondisi malam hari identik dengan keadaan tenang karena semua aktivitas manusia berhenti pada malam hari. Berdasarkan kondisi tersebut, Wanabaya berusaha menggambarkan keinginannya untuk menjalani hidup tenang dan jauh dari segala tuntutan sosial yang membuat dirinya tertekan. Kehadiran Putri Pambayun merangsang kemunculan keinginan untuk menikah sehingga pemenuhi keinginan untuk tenangnya mampu diperoleh.

Matari berasal dari kata ‘matahari’ yang mempunyai arti benda langit yang mengeluarkan cahaya pada siang hari. Kondisi siang hari identik dengan kesibukan manusia untuk menjalankan tugas dan bekerja. Kondisi ini menggambarkan keadaan yang sibuk dan penuh tekanan kepentingan antar individu sehingga terjadi benturan yang mengakibatkan keributan. Dari sini terlihat Wanabaya menggambarkan keinginanya untuk menghindari segala kegiatan yang berhubungan dengan tugasnya. Pengingkaran yang dilakukan ini ditujukan untuk menolak keinginan Baru Klinthing untuk berperang dan berusaha mengganti sosok tersebut dengan Putri Pambayun yang disimbolkan sebagai ‘matahari’ yang mempunyai makna keinginan Wanabaya agar kehadiran Putri Pambayun mampu memberi sinar atau pencerahan bagi kehidupannya.

Keinginan untuk menikah terlihat saat ia mempertahankan keberadaan Putri Pambayun di Mangir. Adanya penggambaran ‘rembulan’ dan ‘matari’ menandakan posisi Wanabaya yang terjepit di antara dua kepentingan, yaitu keinginan dirinya untuk menikahi Putri Pambayun, sebagai simbol ‘bulan’, dan kepentingan Baru Klinthing, sebagai simbol ‘matahari’. Oleh karena itu, pemilihan keingina
n untuk menikah dilakukan sebagai penengah dari kepentingan tersebut dengan pemikiran bahwa kehadiran Putri Pambayun akan menambah etos kerjanya dalam memimpin pasukan Mangir. Dari sini terlihat Wanabaya melakukan represi terhadap rangsangan yang berasal dari Baru Klinthing yang membangkitkan naluri untuk menghilangkan sosok Putri Pambayun.

Senjata merupakan alat yang dipergunakan seorang prajurit untuk berperang. Hal ini identik dengan nafsu yang bergelora karena adanya emosi yang kuat membuat seorang prajurit berani berperang dan mempergunakan senjata. Posisi Wanabaya sebagai seorang panglima perang identik dengan prajurit sehingga mempunyai makna keinginan untuk membela Perdikan Mangir yang terhambat oleh libido seksual sehingga Baru Klinthing menjadi ragu atas sikapnya dan berusaha mengganti posisinya sebagai panglima perang.

Wanabaya

:

….Setajam-tajamnya senjata, bila digeletakkan takkan ada sesuatu terjadi (Mangir: 31).

Senjata identik dengan alat kelamin laki-laki karena mempunyai bentuk yang hampir sama, yaitu panjang dan berfungsi sebagai alat untuk menundukkan lawan (jenis). Ketidaksetujuan Baru Klinthing atas pernikahannya sesuai dengan kondisi ‘senjata yang digeletakkan’ yang mempunyai makna pengebirian atas libido seksual dan mempunyai keturunan. Pemaknaan tersebut menggambarkan keinginan Wanabaya untuk memberontak terhadap keputusan Baru Klinthing demi mempertahankan haknya untuk menikahi Putri Pambayun.

Gambaran libido seksual Wanabaya yang menguat berusaha memperoleh pemuasan. Oleh karena itu, keinginan untuk menikah menjadi kebutuhan yang mendesak dan menunjang kelangsungan hidupnya. Dari sini Wanabaya untuk menghindari Baru Klinthing yang menolak pernikahannya. Berdasarkan kenyataan yang terjadi, yaitu penolakan Baru Klinthing atas pernikahannya dan sikap sangsi Baru Klinthing atas pengabdiannya kepada Mangir.

Laut adalah bagian dari bumi yang mempunyai daerah paling luas sehingga mampu menampung segala macam benda tanpa mengalami perubahan luas dirinya. Laut identik ombak yang mampu menggulung dengan besar sehingga orang yang berada di dalam akan meninggal. Berdasarkan pemaknaan itu terdapat keinginan Wanabaya untuk menikahi Putri Pambayun tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai masayarakat Mangir.

Wanabaya

:

Suaranya yang berubah, hati dalam dadanya tetap utuh seperti Laut Kidul (Mangir: 34).

Melalui gambaran laut, Wanabaya berusaha mengungkapkan dirinya seorang yang mampu menampung segala penderitaan Putri Pambayun tanpa membuat dirinya menjadi berubah sikap. Wanabaya berusaha melakukan represi naluri akibat rangsangan dari Baru Klinthing yang diganti menjadi sikap rela berkorban untuk Perdikan Mangir sesuai dengan sifatnya ‘seperti Laut Kidul’. Tindakan ini dilakukan karena dendam terhadap Baru Klinthing yang menghalangi niatnya untuk menikahi Putri Pambayun.

Tambra adalah salah satu jenis ikan yang dipelihara oleh manusia untuk menjadi hiasan maupun lauk makanan. Gambaran ikan hias adalah kehidupan yang dipelihara untuk menggembirakan hati mereka dengan melihat gerak-geriknya, sedangkan sebagai lauk ia akan ditangkap oleh manusia, dipelihara, dan kemudian disembelih untuk diambil dagingnya. Melalui gambaran di atas, Wanabaya berusaha mengungkapkan keinginannya untuk mengekploitasi Putri Pambayun dengan ikatan perwaninan dan tanggung jawab.

Wanabaya

:

Batu akan segera tiba, sebentar lagi akan jadi kolammu untuk tambra (Mangir: 60).

Usaha Wanabaya untuk menikahi Putri Pambayun merupakan keinginan untuk mendapat kesenangan karena mampu menguasai orang lain. Tindakan ini merupakan distrosi dari keinginan menyerang dan menguasai Mataram. Perilaku yang tidak mampu dipenuhi ini diganti menjadi menguasai kehidupan Putri Pambayun sebagai obyek yang lebih mudah untuk menciptakan perasaan senang dalam dirinya.

2.3 Baru Klinthing

Kata ‘tombak’ yang mengganti ‘penis’ mempunyai kesamaan sebagai berikut. Pertama, bentuknya yang mempunyai bagian yang disebut tangkai atau gagang sehingga mampu dipegang. Kedua, selalu mempunyai posisi tegak dan diletakkan dengan posisi berdiri apabila dipergunakan dan ditidurkan apabila tidak dipergunakan. Ketiga, sebagai sebuah senjata, tombak mempunyai makna alat yang mempunyai ujung runcing dan dipergunakan untuk melukai atau membunuh orang lain dengan tujuan memperoleh kemenangan atas sebuah persaingan atau pertempuran.

Baru Klinthing

:

(mencabut sebilah, melempar-tangkapkan pada daun meja, mengangkat dagu) Setiap mata bikinan Suriwang sebelas prajurit Mataram tebusan (Mangir: 5).

Tombak sebagai simbol kekuatan pasukan mempunyai kesamaan dengan alat kelamin laki-laki yang merupakan metafora libido seksual Baru Klinthing. Sebagai seorang pemuda yang sudah cukup memunculkan dorongan untuk mempunyai pasangan hidup yang berlainan jenis. Hal ini tidak dapat dipenuhi oleh Ego karena wujud fisiknya yang jelek. Kondisi ini membuat tidak ada perempuan yang tertarik kepadanya. Kalimat “singkirkan selebihnya di amben sana” mempunyai makna keinginan untuk menyingkirkan saingan-saingannya sehingga tidak menghalangi keinginannya untuk mendapatkan atau memenuhi kebutuhan libido seksualnya yang mempunyai obyek perempuan, dalam hal ini adalah Putri Pambayun.

Pedang merupakan alat yang berbentuk pisau besar dan panjang yang dipergunakan untuk melukai orang lain. Bagian yang tajam pada pedanng disebut mata pedang. Berdasarkan ciri dan fungsinya, pedang mempunyai makna sifat menguasai dengan melukai orang lain.

Baru Klinthing

:

Kepungan Mangir sama tajam dengan mata pedang pada lehernya (Mangir: 5).

Pedang yang mempunyai kesamaan dengan keinginan untuk mengalahkan Kerajan Mataram membentuk metafora dengan hubungan sebagai berikut. Pertama, pedang adalah alat yang dipergunakan prajurit dalam berperang. Kedua, akibat yang diberikan yaitu membuat orang lain tidak berdaya mempunyai kesamaan dengan keinginan untuk mengalahkan atau membuat Kerajaan Mataram menyerah tidak berdaya menghadapinya. Ketiga, bentuknya yang besar mempunyai kesamaan dengan trauma dan tugas yang harus dijalankan Baru Klinthing yaitu menghadapi serangan Kerajaan Mataram.

Metafora ‘pedang’ memberi gambaran keinginan Bru Klinthing untuk menaklukan dan menguasai Kerajaan Mataram melalui kekerasan atau peperangan. Perilaku ini menimbulkan kecemasan moral karena perilaku tersebut berlawanan dengan prinsip yang dianut oleh masyarakat Perdikan Mangir, yaitu tidak ingin menjadi penguasa karena merupakan simbolisasi dari penindasan dan kekerasan.

‘Sarang’ mempunyai makna tempat yang dibuat atau dipilih oleh binatang, unggas, untuk bertelur dan memelihara anaknya. ‘Kandang’ mempunyai makna bangunan tempat tinggal binatang atau ruang berpagar tempat memelihara binatang. Berdasar ungkapan di atas, kedua penanda tersebut mencerminkan tingkah laku binatang, unggas, yang melupakan kandangnya ketika bertelur karena selalu memilih tempat yang lebih nyaman untuk melakukan proses reproduksi.

Baru Klinthing

:

Setiap kau tergila-gila seperti seekor ayam jantan, tahu sarang tapi tak kenal kandang (Mangir: 32).

Persepsi ‘kandang’ dan ‘sarang’ yang diungkapkan oleh Baru Klinthing memberi gambaran kesetiaan dan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri dan selalu ingat atas bantuan yang telah diberikan oleh orang lain. ‘Kandang’ mempunyai kesamaan makna dengan Perdikan Mangir yang merupakan tempat Wanabaya diasuh dan dibesarkan, sedangkan ‘sarang’ merupakan simbolisasi bagi Putri Pambayun yang menjadi obyek libido seksual Wanabaya. Berdasarkan pemaknaan tersebut terlihat bahwa Baru Klinthing berusaha menguasai Wanabaya dengan menjadikannya orang yang selalu menuruti perintahnya. Hal ini terlihat pada usaha Baru Klinthing untuk mengikat Wanabaya dengan janji setia kepada Perdikan Mangir sebagai tanah kelahirannya dan melupakan Putri Pambayun untuk dijadikan istri karena masih banyak perempuan lain di Pedikan Mangir.

Perilaku ini merupakan keinginan Baru Klinthing untuk mengingatkan bahwa pemenuhan libido seksual tersebut bisa diperoleh di Perdikan Mangir. Wanabaya bisa memperoleh ‘kandang’ dan ‘sarang’ secara bersama-sama sehingga tidak menimbulkan rasa cemburu dari pihak lain. Di samping itu, kedatangan Putri Pambayun menimbulkan naluri Baru Klinthing untuk memperoleh pasangan hidup. Dari sini terlihat keinginan Baru Klinthing untuk memperoleh kesetian adalah usaha untuk menghilangkan sosok Wanabaya yang mengancam pemenuhan libido seksualnya.

‘Kandang’ dan ‘sarang’ merupakan penggambaran dirinya untuk memperoleh ‘sarang’ (Putri Pambayun) karena tidak mendapat ‘kandang’ (perempuan yang berasal dari Perdikan Mangir). Kehadiran Wanabaya sebagai penghambat pemenuhan libido seksual menjadi distorsi keinginannya untuk menghancurkan wibawa Wanabaya di hadapan para Tetua Perdikan yang mendatangkan hukuman sehingga menjauhkannya dari Putri Pambayun. Perilaku ini dilakukan Ego untuk mengurangi tekanan naluri menghancurkan Kerajaan Mataram sehingga terjadi penyimpangan keluarnya libido seksual libido seksual secara tidak sadar melalui rangsangan kedatangan Putri Pambayun. Berdasarkan kenyataan bahwa Perdikan Mangir sedang mengalami serangan dari Kerajaan Mataram, maka Ego merepres naluri tersebut karena mengancam persatuan prajurit Mangir dan mengakibatkan kekalahan.

2.4 Tumenggung Mandaraka

Matari berasal dari kata matahari yang mempunyai arti benda langit yang mengeluarkan cahaya pada siang hari. Kondisi siang hari identik dengan kesibukan manusia untuk menjalankan tugasnya dan bekerja. Konstansi yang dilakukan matahari yang selalu muncul merupakan gambaran kesetiaan. Meskipun demikian, matahari identik juga dengan kekerasan karena unsur panas yang keluar dari dirinya. Oleh karena itu, ‘matahari’ mempunyai makna lain, yaitu kesetian yang diperoleh melalui kekerasan.

Tumenggung Mandaraka

:

Dan janji ditepati seperti matari pada bumi setiap hari? (Mangir: 45)

Kesetiaan dan pengorbanan Putri Pambayun menjadi penghalang naluri thanatos sehingga Ego melakukan represi dengan tujuan tidak mengganggu naluri untuk menguasai Pedikan Mangir dan menjaga wibawa Tumenggung Mandaraka sebagai penasehat dan orang tua angkat Putri Pambayun. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa Wanabaya akan pergi ke Mataram jika disuruh oleh Putri Pambayun. Pengabdian yang dinginkan dari Putri Pambayun merupakan perwujudan dari keinginannya untuk selalu menguasai orang lain.

Bulan yang mempunyai arti sebuah benda langit yang memancarkan sinar pada malam hari. Kondisi malam hari identik dengan keadaan tenang karena semua aktivitas manusia berhenti pada malam hari. Selain itu, bulan sering dipergunakan sebagai petunjuk arah sehingga identik dengan keinginan untuk melalui kehidupan tanpa takut tersesat dan terhindari dari segala rintangan. Penggambaran tersebut merupakan metafora dari keinginan Putri Pambayun untuk menikahi Wanabaya yang oleh Tumenggung Mandaraka diibaratkan seperti dalam impian.

Tumenggung Mandaraka

:

Percaya. Mendapatkan suami seperti dia tiada beda dapatkan bulan dalam impian (Mangir: 53).

Keinginan Tumenggung Mandaraka untuk menghancurkan Perdikan Mangir dengan menyetujui pernikahan Putri Pambayun dan Wanabaya merupakan strategi yang dipergunakannya untuk memperoleh kesempatan tinggal dan mendapat informasi pertahanan Pedikan Mangir. Selain itu, kehadiran Wanabaya sebagai suami Putri Pambayun bagi Tumenggung Mandaraka bukan sesuatu yang nyata karena ia lebih memilih menghancurkan Perdikan Mangir melalui peperangan dibandingkan penyatuan melalui pernikahan mereka. Penggambaran di atas merupakan keinginan Tumenggung Mandaraka untuk menghina Wanabaya sebagai seorang suami yang tidak diterima dan pernikahan mereka tidak pernah dianggap terlaksana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: