Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (Chapter 3.2)

3.2 Wanabaya

3.2.1 Mempertahankan Putri Pambayun

Kemunculan libido selsual memaksa Ego untuk melakukan represi terhadap naluri thanatos yang sudah terpenuhi agar tidak terjadi ketegangan. Keberhasilan represi Ego terhadap naluri thanatos secara tidak langsung memerlukan mekanisme pengalih dengan mencari pasangan, perempuan, untuk mewujudkan naluri seksual Wanabaya. Usaha ini merupakan hasil pertimbangan moral Superego yang menganggap setiap manusia hanya diperbolehkan menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Hambatan tersebut membentuk persepsi pada Ego sehingga mengalihkan energi psikis Id dengan gambaran Putri Pambayun sebagai penyalur libido seksual Wanabaya.

Wanabaya

:

Inilah Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, datang menggandeng tandak tanpa tandingan. (Menatap mereka seorang demi seorang). Tak ada yang menyambut KI Wanabaya? Baik Adisaroh yang jaya, berilah hormat pada para tetua perdikan. (Mangir: 21)

Wanabaya

:

Kalian terlongok-longok seperti melihat naga. Mata kalian pancarkan curiga dan hati tak suka. Katakana siapa tak suka Wanabaya datang menggandeng perawan jelita. Katakan, ayoh katakan siapa tidak suka. (Mangir: 22)

Naluri thanatos yang dipenuhi oleh Ego dengan sublimasi sebagai panglima perang Mangir memunculkan libido seksual sebagai energi psikis pengganti yang hadir dalam bawah sadar Wanabaya. Keinginan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kondisi Id agar tetap menyalurkan energi bagi kehidupan individu. Naluri ini sebenarnya sudah lama berusaha diwujudkan oleh Id, namun mendapat hambatan dari Superego yang mengharapkan peranan Wanabaya dalam pasukan Mangir untuk menahan serangan dari Mataram dan direpres oleh Ego untuk menjaga kesempurnaan hidup Wanabaya.

Hambatan itu memunculkan ingatan Wanabaya terhadap tugas-tugas yang dilaksanakan dengan baik. Adanya kelemahan sensor dari Ego membuat naluri thanatos muncul dalam bentuk hinaan kepada Baru Klinthing. Naluri untuk merusak citra Baru Klinthing merupakan distorsi keinginan untuk menikah dan membenci para Tetua Perdikan karena tidak memberi dukungan. Dari sini terlihat bahwa sisi Superego Wanabaya melemah dan riskan menghadapi tekanan dari Id yang muncul sebagai naluri thanatos. Oleh karena itu, Ego melakukan mekanisme reaksi formasi dengan mengubah rasa benci kepada Baru Klinthing menjadi perilaku meminta balasan atas kewajiban yang telah ia lakukan selama ini untuk menikahi Pambayun. Hal ini didasari bahwa setiap orang yang telah menjalankan tugas dengan baik berhak mendapat imbalan sebagai penghargaan kepadanya.

Wanabaya

:

Kalau bukan aku pimpin perang, sudah kemarin dulu kalian terkapar di bawah rumput hijau. (Mangir: 22)

Wanabaya

:

Mataram? Apada daya Panembahan Senapati di hadapan Wanabaya Muda?���.Bila dusun-dusun luar benteng kita pukul hari ini���(Mangir: 24���25)

Wanabaya

:

Klinthing, kau belum lagi memberikan anggukan kepala. (Mangir: 26)

Wanabaya

:

Keliru kalau kalian anggap, aku datang menggandeng perawan ini, untuk mengemis sepotong kemurahan. (Mangir: 27)

Wanabaya

:

Sebagus-bagusnya panglima perang bila ditinggalkannya senjata dan balatentara sebesar-besar
pasukan akan binasa. (Mangir: 31)

Perilaku di atas tidak dapat diterima karena tuntutan tugas yang harus mementingkan kepentingan masyarakat merupakan kesempurnaan hidup yang harus dijalani Wanabaya untuk mempertahankan citranya sebagai panglima perang dan Tetua Perdikan. Munculnya anggapan panglima perang tidak pantas menikah dengan seorang penari keliling membuat Wanabaya harus menghadapi kenyataan bahwa Tetua Perdikan yang lain tidak setuju dengan perilakunya. Kecemasan muncul kembali dalam diri Ego karena mendapat hambatan dari Superego. Mekanisme sublimasi dilakukan dengan mengalihkan ketakutan kehilangan orang yang dicintai, Pambayun, menjadi seorang pemimpin yang bijak. Oleh karena itu, Wanabaya mengatakan bahwa kekuatan pasukan Mangir adalah persatuan antara dirinya, senjata, dan balatentara Mangir. Melalui mekanisme ini, Ego berpikiran bahwa Superego mau menerima Pambayun karena sikap mengormati Wanabaya terhadap prajurit Mangir.

3.2.2 Berjanji Untuk Setia Kepada Mangir

Energi psikis libido seksual Wanabaya yang meningkat membutuhkan pemenuhan dari Ego. Dari sini terlihat bahwa Id berusaha menguasai Ego Wanabaya. Oleh karena itu, Superego berusaha memberikan hambatan ketidaksetujuan para Tetua Persikan bahwa sikap yang dilakukan oleh Wanabaya merupakan ciri seorang penghianat dan tidak bisa diterima oleh masyarakat Mangir. Hambatan tersebut menyebabkan kecemasan sehingga Ego melakukan mekanisme reaksi formasi dengan menunjukkan sifat ksatria untuk selalu membela Mangir sebagai wujud imbalan atas persetujuan mereka terhadap perkawinannya.

Wanabaya

:

Telah kalian cemarkan kewibawaan Wanabaya Muda di hadapan orang luar. Kalian sendiri relakan perpecahan. (Mangir: 32)

Wanabaya

:

���.Jangan dikira kalian bisa belokkan Wanabaya. sekali Wanabaya Muda hendaki sesuatu, dia akan dapatkan untuk sampai selesai. (Mangir: 33)

Wanabaya

:

Sudah kalian lupa apa kata Wanabaya ini? Hanya setelah rebah di tanah dia takkan bela Perdikan lagi? Lihat, Wanabaya masih tegak berdiri. (Mangir: 33���34)

Sikap para Tetua Perdikan yang tidak setuju pada pernikahan Wanabay menyebabkan naluri thanatos yang sudah lama direpres Ego muncul kembali dalam bentuk kebencian pada Tetua Perdikan sebagai distorsi keinginan Id untuk melampiaskan naluri merusak dan menjaga Mangir. Keinginan tersebut muncul setelah mendapat rangsangan dari Superego yang menghendaki Wanabaya untuk meninggalkan Mangir jika masih ingin menikahi Putri Pambayun. Rangsangan dari Superego tersebut menyebabkan Id harus melakukan pemilihan kebutuhan untuk diungkapkan antara pemuasan libido seksual dengan menikahi Putri Pambayun atau merepres keinginan tersebut dan memunculkan kembali keinginan untuk menjadi orang yang dihormati di Mangir.

Wanabaya

:

(berendah hati). Apakah Wanabaya tiak berhak punya istri? (Mangir: 35)

Wanabaya

:

���.Aku lihat tujuh tombak berdiri di jagang sana. Tembuskanlah dalam diriku bila anggukan tiada kudapat. Dunia jadi tak berarti tanpa Adisaro dampingi hidup ini. (Mangir: 36)

Wanabaya

:

Adisaroh takkan bikin Wanabaya ingkar pada Perdikan. (Mangir: 37)

Pemenuhan salah satu keinginan kebutuhan tanpa pengandalian akan menyebabkan penyimpangan perilaku. Berdasarkan pertimbangan energi psikis yang lebih membutuhkan pemuasan, maka Ego mengutamakan naluri thanatos. Reaksi formasi pengalihan naluri membunuh menjadi mencintai para Tetua Perdikan dilakukan Ego untuk mencegah korban dari lain. Dari sinilah reaksi formasi tersebut dilakukan untuk menjaga kelangsungan hidup Wanabaya sebagai penebus kesalahan karena telah menuduh Wanabaya menjadi penyebab ketidaksetujuan para Tetua Perdik
an atas pernikahannya dengan melakukan tindakan mengangkat sumpah untuk selalu setia pada Mangir.

3.2.3 Menolak Pembicaraan Tentang Kematian

Hilangnya sosok perempuan dalam kehidupan Wanabaya merupakan ketakutan yang mengalami represi dari Ego. Ketegangan muncul jika sosok perempuan, sebagai pemuas libido seksual, karena memunculkan naluri thanatos sebagai Id pengalih dan menjaga keberadaan energi psikis bagi kehidupan individu. Mekanisme regresi dilakukan Ego untuk memenuhi keinginan Id agar lepas dari rasa takut yang menyebabkan ketegangan dalam dirinya. Perasaan takut kehilangan Putri Pambayun diganti dengan selalu memuja Putri Pambayun sehingga tidak lagi membicarakan perpisahan atau kematian. Sikap ini didukung oleh kondisi Putri Pambayun yang sedang hamil. Kesamaan persepsi antara Id, perasaan takut kehilangan kekasaih, dan Superego, lelaki akan lebih sempurna jika mempunyai keturunan sebagai penerus sebagai panglima perang menjadi pemikiran Ego untuk melakukan mekanisme regresi. Dengan mencegah Putri Pambayun membicarakan kematian, Ego mampu mengendalikan Id dan menjalankannya sesuai dengan prinsip Superego, yaitu membina keluarga yang bahagia dan sentosa.

Wanabaya

:

(tertawa, mamandang jauh). Tak ada yang lebih berbahagia dari si Wanabaya menjadi bapa, dari anak kelahiran rahim istrinya. (Mangir: 42)

Wanabaya

:

Sang maut bukan urusan kita. Kau akan lahirkan anak kita dengan selamat. Kau akan saksikan anakmu, cucu, dan buyutmu, Adisaroh! (Mangir: 42���43)

Wanabaya

:

Adisaroh, dalam mengandung betapa banyak rusuh dalam dadamu. Mari berjalan-jalan, nikmati keindahan tamanmu. (Mangir: 44)

Sikap yang dilakukan Ego ini merupakan bentuk represi terhadap naluri thanatos yang didistorsikan menjadi bayang-bayang kehilangan Pambayun. Hambatan dari Superego dengan memberi informasi tetang kehamilan Putri Pambayun menjadi rangsangan bagi Id untuk membangkitkan kembali naliri erros Wanabaya. Oleh karena itu, Ego berusaha mengarahkan Id untuk merayu Putri Pambayun agar meghindari percakapan tentang kematian dengan harapan Putri Pambayun akan mempertahankan hidup hingga kelahiran anaknya. Dari sini libido seksual Wanabaya berubah menjadi keinginan untuk memperoleh keturunan.

3.2.4 Batal Membunuh Pambayun

Sebagai seorang suami, Wanabaya berusaha membahagiakan Putri Pambayun yang sedang mengandung anaknya. Keinginan mendapat keturunan sebagai distorsi dari keluarga yang bahagia mendorong Ego untuk mencurahkan segala kasih sayang kepada Pambayun sebagai obyek dari keinginannya. Kesanggupan Ego untuk menjalankan keinginan Id yang berterima dengan Superego menunjukkan kematangan jiwa Wanabaya.

Libido seksual Wanabaya yang dialihkan dengan keinginan untuk memperoleh keturunan diwujudkan dengan menjaga keutuhan rumah tangganya. Hal ini sesuai dengan prinsip moral Superego yang menghendaki tanggung jawab moral Wanabaya sebagai seorang kepala rumah tangga untuk berperan aktif dan selalu menjaga anggota keluarganya.

Wanabaya

:

(masuk panggung). Belum juga kau masuk, Adisaroh kekasih? Terlalu lama di luar tak baik untuk kandungan. (Mangirr: 60)

Wanabaya

:

Ki Ageng Mangir Muda seorang panglima, Tua Perdikan, juga seorang suami. Mengapa ragu bicara? (Mangir: 61)

Wanabaya

:

Hati Wanabaya seluas samudra, bisa dilayari semua perkara. Kapan kau berniat berangkat? (Mangir: 62)

Keinginan terebut ternyata mengalami ketegangan ketika rangsangan dari luar, Putri Pambayun, membongkar identitasnya. Rangsangan tersebut membuat Id melakukan tindakan reflek mengeluarkan keris sebagai bentuk kemarahan karena telah dikecewakan oleh istrinya. Peristiwa ini memunculkan kecemasan neurotik karena Ego tidak mampu mencari informasi secara detil karena mementingkan hasrat seksualnya. Tindakan Wanabaya yang tiba-tiba menarik keris dari dalam sarungnya merupakan bentuk distorsi dari usaha Wanabaya untuk menghilangkan sosok Putri Pambayun untuk melampiaskan kemarahannya. Dari sini terlihat pergantian naluri yang cepat, yaitu dari libido seksual menjadi naluri thanatos yang muncul untuk membunuh Pambayun sebagai usaha Id untuk mengurangi tegangan.

Wanabaya

:

(melihat ke bawah pada wajah Putri Pambayun). Apa arti air mata Mataram untuk Ki Ageng Mangir? (Mangir: 66)

Wanabaya

:

(jatuh berlutut satu kaki, dua belah tangan terkulai dan jari-jemari menggeletar). Putri Pambayun Mataram! (Mangir: 66)

Wanabaya

:

Menengadah ke langit, pelan-pelan berdiri, meronta kasar melepaskan kaki dari rangkulan Putri Pambayun, dengan tangan gemetar menarik keris di tentang perut). Ah! (Keris disarungkannya lagi mengangkat tangan menutupi kuping)���.Hanya karena kau, perempuan Mataram, ke mana aku sembunyikan mukaku ini? (Mangir: 66���67)

Ego bergerak untuk melakukan sensor karena perbuatan Id akan menambah beban moral yang harus ditanggung oleh Wanabaya. Sebagai seorang panglima perang dan suami, kewajiban Wanabaya adalah melindungi orang yang lemah sekaligus bertindak sebagai kepala keluarga yang harus selalu menjaga istrinya. Kedudukannya sebagai panglima perang akan mendapat banyak cercaan karena dianggap telah berkhianat dengan menikahi seorang putri Mataram yang merupakan musuh Perdikan Mangir. Gambaran tesebut mejadi perangsang naluri masokhis Wanabaya untuk menumpahkan segala kesalahan pada dirinya.

Reaksi tersebut menimbulkan kecemasan moral bagi Ego karena tidak melanggar norma sosial yang berlaku. Situasi ini akan membentuk citra negatif bagi individu sehingga Ego melakukan mekanisme proyeksi dengan Panembahan Senapati sebagai objek pengalihnya. Hal ini didasari pemikiran bahwa orang yang bertanggung jawab atas tugas Putri Pambayun sebagai seorang telik sandi adalah Panembahan Senapati, sebagai raja Mataram. Bagi Superego sifat Panembahan Senapati tidak mencerminkan perilaku seorang pemimpin yang bijak karena telah mengorbankan anaknya demi kepentingan pribadi. Hal ini sesuai dengan anggapan dari Superego bahwa Mataram adalah musuh utama mereka dan harus dilawan sampai mati.

3.2.5 Menyerang Mataram

Harapan Wanabaya untuk membina keluarga yang bahagia selamanya musnah ketika Baru Klinthing menyadari identitas Putri Pambayun yang sesungguhnya. Kecemasan moral muncul karena tidak mampu menjaga adat Mangir yang tidak memperbolehkan penduduknya menjalin hubungan dengan Mataram yang merupakan musuh besarnya. Rangsangan tersebut membuat naluri masokhis Wanabaya muncul sebagai distorsi karena angan-angannya mengenai sosok keluarga dan kehidupan yang diinginkan terancam oleh kelemahan Ego dalam melakukan sensor keinginan sebelumnya. Menghadapi situasi ini, mekanisme regresi dilakukan Ego dengan mengharapkan ampunan dari Baru Klinthing sebagai Tetua Perdikan yang juga sahabat karibnya. Melalui tindakan ini Ego berpikiran bahwa peredaman naluri masokhis dapat dilakukan dengan membalas hinaan dari Baru Klinthing.

Wanabaya

:

Karena kau, terpilih aku jadi Ki Ageng Perdikan, yang termuda diseluruh negeri. Di medan perang dan Perdikan bukankah kta tetap bergandengan tak terpisahkan? (Mangir: 70���71)

Wanabaya

:

Diam! Kita semua bersalah. Istriku dapat dan boleh dihukum, tapi tak rela aku siapapun hinakan dia. Juga aku dan kalian semua patut dihukum karena kurang waspada. (Mangir: 74)

Wanabaya

:

Dia yang paling pandai menghina adalah juga pandai berganti kulit. Pambayun, istriku, relakah kau mati bersama? (Mangir: 75)

Adanya hambatan berupa hinaan terhadap istrinya menimbulkan naluri thanatos yang sudah lama mengalami represi oleh Ego muncul kembali, yaitu keinginan untuk menghilangkan sosok Baru Klinthing yang telah menghina Putri Pambayun ketika pertama kali datang ke Mangir. Hal ini terlihat melalui reaksi Wanabaya ketika Baru Klinthing berusaha membunuh Putri Pambayun dengan menganggap kehadirannya sebagai sebuah petaka bagi Mangir, maka perilaku ini merupakan mekanisme Ego untuk membalas hinaan menjadi keinginan untuk mati bersama Putri Pambayun. Mekanisme regresi ini dilakukan untuk mencegah Superego memperburuk ketegangan yang terdapat dalam Id sehingga dengan mengungkapkan keinginan untuk mati bersama Putri Pambayun perasaan bersalah tersebut akan berkurang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: