Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (Chapter 3.3)

3.3 Baru Klinthing

3.3.1 Menginginkan Penambahan Jumlah Tombak

Kebutuhan untuk memenangkan setiap pertempuran merupakan wujud dari naluri thanatos Baru Klinthing. Bayang-bayang kekalahan yang akan menimpa dirinya memunculkan ketegangan bagi Id. Adanya ketegangan membuat Ego mengalihkan menjadi keinginan untuk menambah jumlah tombak sebagai simbol dari menambah jumlah pasukan Mangir. Adanya faktor Superego yang meletakkan Baru Klinthing sebagai pengatur strategi membuat perilaku yang muncul diterima oleh Superego yang beranggapan bahwa keinginan tersebut adalah tanggung jawab Baru Klinthing untuk mempertahankan Mangir. Pembuatan tombak sebagai pelengkap pasukan dalam menghadapi musuh terlihat sebagai hal yang diangggap penting dan harus dipenuhi untuk menambah kekuatan pasukan Mangir.

Baru Klinthing

:

(mencabut sebilah, melempar-tancapkan pada daun meja, mengangkat dagu). Setiap mata bikinan Suriwang sebelas prajurit Mataram tebusan. (Mangir: 5)

Baru Klinthing

:

Pada akhirnya bakal datang dia merangkak pada kaki kita, minta hidup dan nasi. (Mangir: 5)

Baru Klinthing

:

Kan meruap hilang impian Panembahan, jadi raja tunggal menggagahi pulau Jawa. Bakal telanjang diri dia dalam kekalahan dan kehinaan. (Mangir: 6)

Baru Klinthing

:

Bikin kau tombak—delapan ratus mata senilai ini (menuding pada mata tombak tertancap di atas meja). (Mangir: 6)

Penambahan jumlah pasukan merupakan rasionalisasi Ego dalam mengurangi kecemasan yang muncul karena bayang-bayang kekalahan dari pasukan Mataram. Sifat pesmis ini tidak memungkinkan untuk dimunculkan karena kedudukan Baru Klinthing yang harus bersikap bijak dan pandai membuat pasukan merasa kuat untuk menghadapi serangan dari Mataram. Berdasarkan rasionalisasi tersebut, kecemasan Id dapat dihilangkan dan keinginan untuk memenangkan setiap pertempuran dapat diwujudkan dalam bentuk menambahan tombak yang disanggupi oleh Suriwang.

3.3.2 Tidak Ingin Perdikan Mangir Menjadi Kerajaan

Keinginan untuk mempertahankan status Mangir sebagai perdikan merupakan rasionalisasi Ego untuk mengalihkan naluri thanatos Baru Klinthing. Namun, Superego yang menetapkan Mangir sebagai sebuah perdikan tidak akan mampu mengalahkan Mataram yang berbentuk kerajaan dan mempunyai pasukan lebih besar. Oleh karena itu, Ego membentuk mekanisme rasionalisasi dengan memberi rasa percaya diri bahwa kemampuan Perdikan Mangir untuk bertahan mampu membuat Kerajaan Mataram kewalahan.

Baru Klinthing

:

(memperingatkan). Mangir akan tetap menjadi Perdikan, tak bakal jadi kerajaan. (Mangir: 7)

Baru Klinthing

:

Masih belum kenal kau apa itu raja? Raja jaman sekarang? Masih belum kenal kau siapa Panembahan Senapati? Mula-mula-mula membangkang pada Sultan Pajang, ayah-angkat yang mendidik-membesarkannya, kemudian membunuhnya untuk bisa marak jadi raja Mataram? Adakah kau lupa bagaimana Trenggono naik tahta, hanya melalui bangkai abangnya? Apakah kau sudah pikun tak ingat bagaimana Patah memahkotai diri dengan dusta, mengaku putra Sri Baginda Bhre Wijaya? (Mangir: 7)

Baru Klinthing

:

Bukan buat naikkan Wanabaya ke takhta, buat tumpas semua raja dengan nafsu besar dalam hatinya, ingin berbangkang jadi yang dipertuan, Mangir tak boleh dijamah. (Mangir: 7)

Keinginan untuk menguasai Mataram muncul melalui pengalihan penambahan pasukan. Dengan adanya pengalihan ini, Id mempunyai kesempatan untuk menghindari tekanan Superego. Namun keinginan tersebut tidak dapat dapat melewati sensor Ego karena tidak kuatnya energi psikis yang hadir untuk mendorong Ego melaksanakan perintah Id. Untuk menjaga penumpukkan energi psikis Id agar tidak menimbulkan kecemasan, Ego melakukan mekanisme rasionalisasi dengan memberi gambaran bahwa dengan menjadi sebuah kerajaan akan menimbulkan perang saudara. Hal ini sejajar dengan nilai sosial yang berlaku pada Superego yang beranggapan bahwa Mataram adalah sebuah kerajaan yang selalu berusaha menindas rakyat miskin, dalam hal ini Perdikan Mangir.

3.3.3 Memanggil Pembantu Pembuat Tombak

Sebagai seorang pengatur strategi perang Mangir, Baru Klinthing membutuhkan banyak persediaan senjata untuk melawan Mataram. Pembuatan senjata dalam jumlah besar membutuhkan banyak pekerja. Oleh karena itu, Baru Klinthing menambah jumlah pekerja untuk membantu Suriwang mengerjakan tugasnya. Keinginan tersebut memperoleh hambatan dari Superego yang membongkar rahasia Kinong yang ternyata seorang telik sandi Mataram yang menyamar sebagai pembuat gagang tombak.

Telik sandi atau mata-mata merupakan salah satu strategi yang dipergunakan untuk mengetahui kelemahan lawan tanpa diketahui. Status Baru Klinthing sebagai pengatur strategi mempunyai kewajiban untuk menjaga campur tangan pihak lawan agar taktik yang dipergunakannya tidak kalah. Oleh karena itu, Ego melakukan sublimasi dengan mempergunakan energi psikis Id dalam wujud naluri thanatos, dalam hal ini interogasi terhadap setiap orang asing yang masuk ke Mangir. Dari sini terlihat kelemahan sensor Ego karena tidak mengetahui keinginan lain yang disembunyikan Id sehingga keinginan untuk membuktikan dirinya adalah seorang yang hebat muncul secara tidak langsung.

Baru Klinthing

:

Semakin banyak tombak kau tempa, semakin banyak kau bicara. Panggil sini orang baru pembikin tangkai tombak itu. (Mangir: 8)

Baru Klinthing

:

(menghampiri Suriwang, dengan isyarat mengajak kembali ke meja). Berapa saja telik dalam seminggu! (Mangir: 10)

Baru Klinthing

:

(mengambil mata tombak dari atas meja dan mempermain-mainkannya). Mataram telah mengubah diri jadi kerajaan, Suriwang, setiap kerajaan adalah negeri telik. Panembahan Senapati bunuh ayah-angkatnya, Sultan Pajang, bukankah juga dengan telik-teliknya? (Mangir: 11)

Sifat sombong sebagai seorang penguasa dengan kepintaran yang tidak dimiliki oleh penduduk Mangir berusaha diwujudkan oleh Id melalui sublimasi sebagai seorang pengatur strategi. Kemunculan Id yang demikian menimbulkan dampak buruk dari masyarakat Mangir. Superego berusaha menghambat dengan membuat gambaran setiap kerajaan pasti mempunyai mata-mata yang dipergunakan untuk menghancurkan pihak lain. Hambatan tersebut membuat Ego memunculkan mekanisme sublimasi dengan mengalihkan naluri tersebut menjadi kewajiban seorang pengatur strategi perang Mangir dan tugasnya untuk menginterogasi setiap pendatang yang masuk ke Mangir untuk mencegah bocornya rahasia pertahanan Mangir.

3.3.4 Membuat Pertemuan Dengan Para Tetua Perdikan

Letak Mangir yang berada dekat dengan Mataram membutuhkan benteng pertahanan. Secara geogrsfis, tidak memungkinkan bagi Mangir untuk bergerak sendiri karena sebagai sebuah perdikan, luas daerah dan penduduk yang dimiliki tidak seimbang untuk menghadapi pasukan Mataram. Berdasarkan fakta tersebut, Baru Klinthing berusaha mendekati dan menjalin kerjasama dengan para Tetua Perdikan yang berada di sekitar Mangir, yaitu: Pajang, Patalan, Pandak, dan Jodog, sebagai benteng pertahanan.

Perbuatan itu merupakan taktik pertahanan Mangir yang terdorong untuk mengurangi kecemasan Ego akan kekalahan dari pasukan Mataram. Berdasarkan keinginan tersebut, Ego membentuk sublimasi, yaitu memperluas daerah dan menambah jumlah penduduk dengan menjalin kerjasama bersama para Tetua Perdikan di sekitarnya. Perilaku tersebut berdasarkan pertimbangan kondisi kejiwaan penduduk di daerah-daerah tersebut sedang melakukan pemberontakan terhadap Mataram. Munculnya dukungan terebut berbeda dengan kenyataan yang terjadi sehingga Superego berusaha menghambat pemenuhan Id dengan memberi informasi Wanabaya yang sedang menari seakan melupakan kewajibannya sebagai panglima perang Mangir.

Baru Klinthing

:

Dengarkan sekarang. Memang Patalan di tempat terdekat dengan Mataram. Dia berhak dapatkan perhatian lebih banyak. Mangir dan Pajangan berbentengkan sungai Bedog. Itu bukan berarti untuk Patalan semua harus pukul Mataram tanpa perhitungan. (Mangir: 18)

Baru Klinthing

:

Untuk bersuka sekedarnya tak ada salahnya. Dia berhak sebagai panglima, telah selamatkan kalian semua, kademangan dan semua rakyatnya. (Mangir: 18)

Berdasarkan pertimbangan moral, Ego melakukan mekanisme sublimasi dengan mempererat hubungan kerjasama dengan para Tetua Perdikan. Adanya perilaku dari Wanabaya menyebabkan para Tetua Perdikan menghendaki perpecahan karena tidak adanya sosok pemimpin yang mempunyai moral bagus untuk dijadikan panutan. Hal ini menyebabkan ketegangan sehingga memunculkan kembali keinginan yang telah lama mengalami represi, yaitu kebencian terhadap Wanabaya sebagai keinginan pengganti atas naluri untuk menguasai dan memunculkan kesombongan. Perilaku ini bertentangan dengan Superego yang membutuhkan kemampuan Baru Klinthing untuk menyusun strategi perang Mangir dan mempertahankan dari serangan Mataram.

Baru Klinthing

:

Aku tidak benarkan Wanabaya, selama dia hanya bersuka sekedarnya. (Mangair: 19)

Baru Klinthing

:

….Kenyataan tinggal pada Wanabaya sendiri. Panggil dia kemari. (Mangir: 19)

Baru Klinthing

:

Mamang tidak patut yang pandai berperang tapi tak pandai pimpin diri sendiri. (Mangir: 20)

Mekanisme displacement dilakukan Ego dengan menjadi Wanabaya sebagai obyek pengalih kecemasan Id. Hal ini dilakukan Ego berdasarkan pemikiran bahwa penyebab pertentangan antara Superego dan Id adalah Wanabaya dan sosok terebut sesuai dengan keinginan Baru Klinthing untuk memperkuat pertahanan Mangir. Perilaku ini mampu mengurangi kecemasan Id karena Superego beranggapan Baru Klinthing merupakan sosok yang bijaksana dan mampu memperbaiki perilaku Wanabaya yang keliru sehingga sosok pemimpin perang yang diinginkan oleh mereka mampu dipenuhi oleh Baru Klinthing. Sikap dari para Tetua Perdikan ini membuat naluri menguasai Baru Klinthing mampu diwujudkan dan dialihkan menjadi tindakan mempertahankan kepercayaan yang diberikan oleh para Tetua Perdikan.

3.3.5 Menyetujui Pernikahan Wanabaya

Pemimpin pasukan adalah salah satu pelengkap pasukan untuk menjalankan strategi perang. Dengan adanya sosok pemimpin yang kurang memperoleh dukungan dari pasukan, maka usaha untuk memperoleh kemenangan tidak akan terwujud. Ketakutan akan kekalahan tersebutlah yang menjadi perangsang munculnya naluri merusak Baru Klinthing. Hal ini terjadi pada Baru Klinthing yang berusaha membentuk citra pemimpin yang tangguh pada diri Wanabaya. Adanya dorongan dari Superego yang mkemposisikan pemimpin sebagai seorang yang sempurna menimbulkan ketegangan bagi Ego untuk mengurangi kecemasan Id. Keinginan untuk menghilangkan sosok Wanabaya dan mengganti dengan individu yang lain mengalami represi oleh Ego karena munculnya Baru Klinthing sebagai pengganti Wanabaya akan menimbulkan sosok penguasa tunggal. Keadaan ini bertentangan denga Superego yang menganggap kondisi tersebut sebagai bentuk penindasan karena tidak mengijinkan individu lain hadir sejajar dengan kedudukannya saat ini.

Baru Klinthing

:

Wanabaya, Ki Ageng Mangir Muda, bukan hanya perkara suka atau tidak, patut atau tidak, bisa pimpiun diri sendiri atau tidak, kau sendiri yang lebih tahu! Perdikan ini milik semua orang, bukan hanya Wanabaya Muda si Tua Perdikan Mangir. (Mangir: 22)

Ego membentuk mekanisme rasionalisasi dengan menganggap perilaku Wanabaya tersebut merupakan hadiah yang pantas diterima oleh seorang pemimpin karena berhasil menjalankan tugasnya dengan men
gadakan pesta panen dan mengundang rombongan penari. Tindakan yang dilakukan Baru Klinthing tersebut merangsang munculnya kecemasan Id karena tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku pada masyarakat Mangir. Hilangnya sosok pemimpin dan munculnya sosok penguasa menjadikan Ego mengubah mekanisme rasionalisasi menjadi reaksi formasi. Sosok Wanabaya sebagai individu yang harus dipertahankan merupakan distorsi keinginan Baru Klinthing untuk menghilangkan sosok Wanabaya. Mekanisme sublimasi dilakukan Baru Klinthing merupakan mekanisme tambahan yang diperlukan untuk membantu mengurangi kecemasan Id dengan merubah dirinya menjadi orang bijak dan berusaha membetulkan perilaku Wanabaya yang menyimpang dari norma sosial.

Baru Klinthing

:

(melangkah maju menghampiri Putri Pambayun). Dari mana asalmu, kau, perawan? (Mangir: 23)

Baru Klinthing

:

Penari tanpa tandingan dari berpuluh desa. Siapa tak percaya? Bicara, dengan mulutmu sendiri, kau, perawan jelita! (Mangir: 23)

Baru Klinthing

:

(menghampiri Putri Pamabayun). Di hadapan tetua dan gegeduk rata Mangir kau gandeng KI Wanabaya Muda. Kau, perawan dari tujuh sungai seberang timur, berapa pria telah kau remas dalam tanganmu? (Mangir: 26)

Pertanyaan Baru Klinthing mengenai asal-usul Putri Pambayun dan menghendaki jawaban langsung merupakan naluri untuk mengeksploitasi orang lain. Hal ini merupakan upaya untuk mengenal lebih dalam orang asing yang masuk ke Mangir. Dari sini terlihat Baru Klinthing berusaha menyembunyikan ketertarikannya pada Putri Pambayun. Libido seksual Baru Klinthing mengalami hambatan dari Superego yang mengggambarkan status Putri Pambayun sebagai seorang penari. Naluri tersebut terus berusaha mendorong Ego dengan pengalihan pertanyaan seberapa banyak orang yang telah menyentuh Putri Pambayun sebagai pengalih keingintahuannya tentang keadaan Putri Pambayun agar tidak diketahui oleh Tetua Pedikan yang lain. Gambaran tersebut terlihat ketika ia berusaha mengganti sosok dirinya dengan Wanabaya yang mempunyai kedudukan yang sama sehingga pertanyaan pantas dan tidaknya Putri Pambayun untuk Wanabaya secara tidak langsung menggambarkan dirinya.

Baru Klinthing

:

Biarkan Wanabaya curahkan isi hatinya. (Mangir: 29)

Baru Klinthing

:

Juga Wanabaya punya hak bicara, tak semestinya kita lindas hasrat dalam hatinya. Apa jadinya sungai yang tak boleh mengalir? Dia akan mengamuk melandakan banjir. (Mangir: 30)

Kedatangan Putri Pambayun bersama Wanabaya merupakan sebuah perangsang bagi Id. Melalui keadaan tersebut, Superego berusaha menekan Ego agar menghilangkan sosok Putri Pambayun karena keberadaannya mampu mengalihkan perhatian Wanabaya dan perilakunya akan berubah untuk selalu memperhatikan Putri Pambayun. Kondisi ini menyebabkan ketegangan karena muncul keinginan untuk mengalahkan Mataram dan memperoleh sosok pemimpin yang sempurna di mata masyarakat sehingga Ego berusaha melakukan represi naluri tersebut dan melakukan mekanisme reaksi formasi dengan berpura-pura membenci Wanabaya.

Baru Klinthing

:

Tanpa semua yang ada, kau, jawab sendiri. Kau, Wanabaya, apa kemudian arti dirimu? (Mangir: 35)

Baru Klinthing

:

Tombak-tombak ini akan tumpas kau, bila nyata kau punggungi leluluh, berbelah hati pada Perdikan, khianati teman-teman dan semua. Bicara kau! (Mangir: 36)

Baru Klinthing

:

Lihatlah betapa semua temanmu ikut pikirkan kepentinganmu. (Mangir: 37)

Baru Klinthing

:

Lihatlah aku. (mangangguk perlahan-lahan). (Mangir: 38)

Melalui berbagai macam uji mental, Baru Klinthing berusaha mencari tahu sejauh mana kesetiaan Wanabaya terhadap Mangir sehingga ia mampu memutuskan setuju atau tidak atas pernikahan mereka. Naluri thanatos Baru Klinthing muncul dengan pengalihan keinginan untuk mencoba kesetiaan Wanabaya sebagai pengganti naluri menguasai orang lain untuk kepentingannya sendiri, yaitu memperoleh kemenangan dari pasukan Mataram melalui sosok Wanabaya sebagai pemimpin perang yang akan mendukung dirinya jika bersedia menyetujui pernikahan mereka. Dari sini terlihat bahwa hambatan dari Superego tidak berpengaruh terhadap kemampuan Ego untuk mewujudkan Id karena proses sublimasi Baru Klinthing sebagai pengatur strategi dan norma yang berlaku pada masyarakat Mangir mampu memberi kesan bahwa perilaku tersebut merupakan kewajiban seorang Tetua Pedikan untuk selalu mengayomi masyarakatnya.

3.3.6 Menyerang Mataram

Strategi pertahanan yang diterapkan Baru Klinthing akhirnya terbongkar dengan masuknya Putri Pambayun dan Tumenggung Mandaraka yang menyamar sebagai rombongan penari dan waranggana. Kondisi terebut merangsang naluri thanatos Baru Klinthing untuk menyerang Mataram yang merupakan tempat tinggal Putri Pambayun. Represi yang dilakukan Ego agar naluri tersebut tidak muncul akhirnya melemah sehingga berusaha mengalihkan keinginan terebut agar tidak mengganggu individu yang lain. Mekanisme displacement dilakukan dengan Tumenggung Mandaraka sebagai objek pengalih yang mempunyai posisi sama dengan dirinya, yaitu pengatur strategi penrang Mataram. Naluri untuk membunuh mengalami hambatan karena Tumenggung Mandaraka yang sudah melarikan diri sehingga obyek pengalih naluri dipindahkan menjadi menyerang Mataram.

Baru Klinthing

:

Bapak tua kepala rombongan waranggana! (Mangir: 70)

Baru Klinthing

:

(menghampiri Putri Pambayun). Cantik tiada tara, telik ulung tiada terduga. Wanabaya! Lihatlah dia untuk terakhir kalinya. (Mangir: 71)

Baru Klinthing

:

Hanya telik tiada tara bikin onar begini rupa. Pambayun! Tidak percuma kau jadi sulung mahkota, pandai berdarma-bakti pda tahta. (Mangir: 73)

Baru Klinthing

:

….Berperisai kalian berdua, kita akan langsung masuk benteng menyerang istana. Tatap kau pada pendirianmu, Nyia Ageng Mangir Muda? (Mangir: 75)

Adanya Putri Pambayun sebagai salah satu anggota masyarakat Mataram menjadi objek displacement karena kesalahan yang telah ia lakukan dengan memalsukan identitas dan membantu Tumenggung Mandaraka melarikan diri dengan kuda milik Wanabaya. Selain itu, sebagai seorang perempuan, Putri Pambayun mempunyai kedudukan yang lebih lemah sehingga tidak membahayakan kehidupan Baru Klinthing. Namun, pelaksanaan keinginan tersebut mengalami hambatan dari Superego yang menghendaki seorang Tetua Perdikan tidak pantas melakukan penindasan terhadap kaum yang lemah, dalam hal ini perempuan. Kematian Putri Pambayun akan mengundang individu lain, Wanabaya, untuk melawannya sehingga kondisi ini akan membahayakan persatuan prajurit Mangir yang akan menyerang Mataram. Oleh karena itu, Ego melakukan mekanisme displacement dengan kerajaan Mataram sebagai obyek penggantinya berdasarkan pertimbangan bahwa Mataram adalah simbol penguasa dan penindas dan dengan mengalahkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: