Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (Chapter 3.4)

3.4 Tumenggung Mandaraka

3.4.1 Mengijinkan Putri Pambayun Menikah

Sebagai seorang telik sandi, Tumenggung Mandaraka mempunyai keinginan untuk mengetahui segala rahasia dari musuhnya, dalam hal ini adalah Perdikan Mangir. Keinginan ini masuk dalam kategori naluri thanatos yang bertujuan merusak orang lain, yaitu: hubungan antara Wanabaya, Baru Klinthing, dan masyarakat Mangir. Bayangan yang muncul untuk memenuhi Id adalah memecah belah persahabatan Wanabaya dan Baru Klinthing yang merupakan anggota masyarakat Perdikan Mangir. Adanya hambatan Superego yang menjelaskan jenis kelamin yang sama tidak mampu menciptakan persaingan dan pertentangan di antara mereka. Oleh karena itu, Ego melakukan diplacement dengan menyuruh Putri Pambayun untuk melaksanakan tugasnya.

Adanya hamabatan dari Superego dan dorongan Id ini membentuk mekanisme sublimasi Ego. Pengalihan keinginan menjadi naluri kehidupan secara tidak sadar membentuk citra lain dalam diri Tumenggung Mandaraka. Melalui pemikiran bahwa pemegang kendali tata kehidupan adalah Baru Klinthing dan Wanabaya merupakan orang yang paling dicintai dan menjadi pemersatu bagi pasukannya maka mekanisme sublimasi mampu meredakan kecemasan moralnya. Sikap untuk menyetujui pernikahan sebagai pengalih keinginan mampu diterima oleh Superego karena keinginan Wanabya untuk mencari pasangan hidup membuat Baru Klinthing dengan terpaksa mengijinkan Wanabaya menikahi Putri Pambayun. Keterangan yang diberikan mengenai Putri Pambayun sebagai perempuan yang cocok, belum pernah dijamah oleh lelaki lain merupakan bentuk regresi.

Tumenggung Mandaraka

:

Adisaroh, mari kita pergi. Mereka bertengkar karena kita. (Mangir: 23)

Tumenggung Mandaraka

:

Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, siapa tidak gembira jadi mertua, dapatkan menantu panglima perang masyhur gagah-berani, tetua Perdikan Mangir? (Mangir: 28)

Tumenggung Mandaraka

:

Apapun terjadi, bumi dan langit memang tak bisa ingkari, tali hubungan telah terjalin. Hanya caranya belum terpuji. (Mangir: 29)

Sikap Baru Klinthing yang selalu curiga terhadap orang asing merangsang munculnya keinginan merusak Perdikan Mangir. Sikap ���tarik-ulur��� dalam memberi persetujuan pernikahan Putri Pambayun dan Wanabaya merupakan bentuk reaksi formasi yang dilakukan Ego sebagai jalan untuk mengetahui keseriusan Wanabaya untuk menikahi Putri Pambayun. Sikap pura-pura sebagai keinginan pengalih untuk menghancurkan Perdikan Mangir ini yang berusaha direpres oleh Ego karena munculnya rangsangan dari luar (Baru Klinthing).

Pengalihan yang dilakukan Ego dengan menarik simpati Wanabaya agar bersedia menerima kehadiran Tumenggung Mandaraka di Perdikan Mangir bertujuan untuk memperoleh obyek keinginan yaitu mengetahui rahasia Perdikan. Keinginan untuk menguasai Perdikan Mangir sebagai distorsi keinginan mengijinkan Putri Pambayun menikahi Wanabaya dialihkan menjadi keinginan untuk tinggal di Perdikan Mangir merupakan mekanisme perngalihan untuk memperoleh obyek dari keinginannya menghancurkan Perdikan Mangir yaitu kemenangan atau kejayaan Kerajaan Mataram.

2.4.2 Menagih Janji Putri Pambayun

Putri Pambayun yang menolak dan berusaha menjaga keselamatan Wanabaya menghalangi keinginan Tumenggung Mandaraka untuk menguasai Perdikan Mangir. Gambaran takdir seorang penduduk desa (Perdikan Mangir) tidak bisa menjadi penguasa dengan melawan raja sehingga tugas yang diberikan kepada Putri Pambayun merupakan tanggung jawab untuk meraih kejayaan kerajaan Mataram yang merupakan rasionalisasi Ego untuk mengurangi tekanan dari Superego yang mengganggu prinsip kesenangan Id untuk mengungkapkan keinginannya. Dari sini terlihat usaha Ego untuk memenuhi keinginan pemenuhan janji dari Putri Pambayun dilakukan dengan mengubah pemikiran Putri Pambayun dari mencintai menjadi membenci Wanabaya sebagau mekanisme sublimasi yang dilakukan Tumenggung Mandaraka dengan menjadi seorang penasehat kerajaan.

Tumenggung

Mandaraka

:

Terpaksa nenenda datang kini untuk menagih janji (Mangir: 45)

Tumenggung

Mandaraka

:

Tetap cantik-rupawan, semakin hari semakin bersinar, tanda bersuka berbahagia. Maka, nenenda datang pada cucunda kini selesai sudah masa bersuka, bercinta, dan berbahagia. (Mangir: 46)

Keinginan Tumenggung Mandaraka untuk menguasai Perdikan Mangir merupakan distorsi keinginan untuk memecah belah Baru Klinthing dan Wanabaya dan perwujudan dari naluri thanatos yang berusaha menerobos sensor Ego. Dari sini, mekanisme sublimasi Ego dilakukan dengan mengalihkan keinginan menjadi seorang pengiring penari (Putri Pambayun). Mekanisme ini dilakukan berdasar kenyataan dengan melakukan penyamaran akan memudahkan Tumenggung Mandaraka untuk memasuki daerah pertahanan Perdikan Mangir. Proses ini mengalami hambatan dari Superego, yakni ketidakmauan Putri Pambayun untuk menyerahkan Wanabaya. Tumenggung Mandaraka menasehati Putri Pambayun bahwa konsekuensi tugas telik sandi dan menjalankan perintah orang tua.

Tumenggung

Mandaraka

:

Bukan dustai putri sulung permaisuri. Tak ada dusta dalam mengemban tugas ayahandamu baginda. Semua titah berasal dari takhta, kalis dari dosa bersih dari nista, harus dilaksanakan sebaiknya, tak peduli bagaimana caranya. (Mangir: 47)

Tumenggung

Mandaraka

:

Bukan menghianati, hanya membawanya menghadap ayahandamu baginda, ayahandamu sendiri. (Mangir: 48)

Sikap Putri Pambayun yang selalu melawan perintahnya memunculkan naluri thanatos Tumenggung Mandaraka. Dari sini, keinginan Tumenggung Mandaraka dialihkan melalui mekanisme displacement karena semua yang dilakukan Putri Pambayun merupakan akibat dari kesalahannya dengan menjadi seorang telik sandi dengan tujuan melaksanakan tugas yang secara tidak langsung sanggup untuk menyerahkan Wanabaya sebagai kewajiban seorang prajurit untuk kejayaan kerajaan. Perilaku ini tidak mampu menggoyahkan tekanan Superego yang merasa tertipu oleh informasi yang diberikan Tumenggung Mandaraka, yaitu: bentuk fisik Ki Ageng Mangir yang tua.

Tumenggung

Mandaraka

:

Akan nenenda persembahkan, dalam seminggu lagi pada hari yang sama, Putri Pambayun akan datang bersujud, dengan putra menantu Ki Ageng Mangir. (Mangir: 55)

Tumenggung

Mandaraka

:

Sebaliknya, putra Pambayun akan naik ke takhta, Mangir akan dikukuhkan jadi Perdikan, permusuhan akan segera dihentikan. (Mangir: 55)

Tumenggung

Mandaraka

:

Ayahanda dan ibunda Pambayun tak mampu lagi menahan rindu, siang dan malam putri kesayangan terkenang (Mangir: 55)

Adanya kenyataan Putri Pambayun mengalami trauma dengan segala informasi yang telah ia berikan, reaksi formasi dilakukan dengan berpura-pura menginginkan kedatangan Wanabaya ke Mataram sebagai simbol pengabdian seorang menantu terhadap orang tua dari istrinya (Panembahan Senopati). Melalui gambaran persatuan dan sikap menerima kedatangan Wanabaya di Mataram, maka ketakutan Putri Pambayun menghilang sehingga hambatan yang mengancam Id akan berkurang. Berdasarkan kenyataan dan pertimbangan moral, Superego tidak menghambat keinginan itu karena sikap damai menjamin keselamatan Putri Pambayun dan keluarganya.

Tumenggung

Mandaraka

:

Nenenda Tumenggung Mandaraka Juru Martani ini akan atur semua. Sekarang hari terakhir. Ditambah tidak bisa. Seminggu lagi cucunda, Mataram akan berpesta menunggu Putri Pambayun dengan putra dalam kandungan calon raja Mataram, raja s
eluruh bumi dan orang Jawa, dengan Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, putra menantu Tua Perdikan dalam pengukuhan….Bila tidak, seluruh prajurit Mataram akan tumpah landa Mangir. Semua rahasia Perdikan telah di tangan nenenda kini. (Mangir: 56)

Tumenggung

Mandaraka

:

Hari ini hari pesta, hari besar segala, takkan terlupakan sepanjang jaman. Wanabaya akan datang untuk kutip kebinasaannya sendiri. Mataram tinggal jaya megah selama-lamanya. (Mangir: 79)

Tumenggung

Mandaraka

:

Korban persembahan tak habis-habis? Sedang di tua rena yang tak tumbuh lagi, tetap butuh santap dan minum setiap hari….Hidup bagi yang satu, binasa bagi yang lain. (Mangir: 80)

Tumenggung

Mandaraka

:

Tak lain putranda adinda raja pilihan. Mengapa adinda ragu dengan korban cucu menantu? (Mangir: 80���81)

Sublimasi sebagai seorang penasehat kerajaan memberi tanggung jawab besar bagi Tumenggung Mandaraka untuk menghancurkan Perdikan Mangir yang menjadi distorsi keinginannya merusak hubungan Wanabaya dan Baru Klinthing. Melemahnya dorongan Superego memunculkan naluri berupa ancaman jika Putri Pambayun tidak bisa melaksanakan tugasnya dalam waktu seminggu, maka prajurit Mataram akan menyerang Perdikan Mangir. Oleh karena itu, Ego melakukan displacement dengan obyek pengalih Putri Pambayun yang sedang hamil dan tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan terhadapnya dari ketidakmampuan Ego untuk memenuhi keinginan menguasai Wanabaya meskipun telah terpecah belah dari Baru Klinthing karena peristiwa tersebut menjadi penyebab kecemasan moral.

2.4.3 Menghancurkan Perdikan Mangir

Berdasarkan kenyataan bahwa Putri Pambayun menyerahkan Wanabaya pada saat perjamuan keluarga, Ego melemahkan proses represi Siasat tersebut merupakan jalan untuk membunuh Wanabaya sebagai simbol keberhasilan menguasai Perdikan Mangir. Peristiwa kedatangan Wanabaya pada pertemuan itu akan menimbulkan bayangan pemenuhan atas naluri menghancurkan Perdikan Mangir. Adanya anggapan naluri thanatos akan terpenuhi menyebabkan melemahnya sensor Ego sehingga muncul naluri yang telah lama direpres yakbi keinginan untuk membangun kejayaan Mataram. Dari sini muncul gejala thanatos yang dilakukan berulang-ulang oleh Tumenggung Mandaraka pada masa lalu muncul sebagai sebuah keinginan untuk menguasai dan membunuh orang lain dengan perilaku yang selalu berusaha mengalihkan dengan melakukan sublimasi sebagai seorang penasehat kerajaan.

Tumenggung

Mandaraka

:

Dunia tak bicara tentang perbedaan, juga tak ada yang bicara tentang kesamaannya. Hanya satu: kewibawaan untuk Mataram. (Mangir: 85)

Tumenggung

Mandaraka

:

….Sarpa Kuda telah bergerak melingkari. Perdikan dan kademangan-kademangan sekawan. Tak ada sesuatu patut dikuatirkan. (Mangir: 93)

Tumenggung

Mandaraka

:

Semua demi Mataram Jaya. (Mangir: 93)

Perilaku di atas menunjukkan bahwa keinginan Tumenggung Mandaraka menyuruh Putri Pambayun membawa Wanabaya pada pertemuan keluarga merupakan bentuk berulang yang dilakukan Ego untuk memenuhi naluri thanatos dalam mempertahankan prinsip kesenangannya. Dengan adanya perpecahan tersebut, maka pasukan Mangir akan melemah sehingga mampu dikuasai dan obyek keinginan untuk menguasai Perdikan Mangir dapat dimunculkan ke alam sadar tanpa membahayakan keberadaan Tumenggung Mandaraka dan diterima oleh masyarakatnya berdasarkan sublimasi sebelumnya s
ebagai penasehat kerajaan. Dari sini terlihat, bahwa naluri menghancurkan Perdikan Mangir merupakan keinginan pengalih sebagai akibat munculnya bayangan obyek pengalih keinginan dalam memenuhi keinginan memperoleh kejayaan Mataram melalui bayang-bayang kehancuran Perdikan Mangir sebagai penghalang terwujudnya keinginan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: