Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (Chapter 3)

BAB III

ANALISIS ARUS BAWAH SADAR

Arus bawah sadar adalah proses kepribadian yang dialami tokoh dalam menghadapi sebuah peristiwa sehingga terjadi perubahan kepribadian di dalamnya. Pada proses ini terdapat mekanisme terwujudnya sebuah keinginan yang kemudian diarahkan untuk mendapatkan obyek sehingga terjadi konflik dengan Ego yang kemudian terjadi mekanisme pengalihan untuk menghindari tekanan dari Superego. Pada tahap ini mampu diketahui perkembangan kepribadian tokoh melalui motivasi-motivasi yang dimunculkan secara tidak sadar.

Menentukan arus bawah sadar tokoh dapat dilakukan dengan mencari alasan atas perilaku tersembunyi yang berada dalam pikiran tokoh sehingga menentukan penafsiran. Oleh karena itu, dipergunakan teknik transferensi, yaitu istilah yang merupakan monolog interior yang diketahui dari laporan tokoh dalam sebuah adegan untuk memperkenalkan kehidupan tokoh. Cara kerja teknik transferensi adalah mencari unsur bawah sadar melalui unsur-unsur kesadaran yang dianalisis untuk diberi makna kemudian dilanjutkan dengan pencarian makna yang ingin dianalisis. Transferensi merupakan gejala pengalihan keinginan tidak sadar dari obyek satu ke obyek yang lain. Melalui teknik ini, dapat diperoleh pemahaman atas cara-cara pasien dalam mengamati, merasakan, dan bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya (Koeswara, 1991: 66—67).

Analisis metonimi dipergunakan untuk mengetahui pengalihan keinginan tokoh untuk memperoleh ataupun mempertahankan obyek keinginanan. Struktur metonimi mengindikasikan hubungan yang mengijinkan penghilangan penanda yang mengisi kekurangan dalam keberadaannya dan menghubungkannya ke dalam obyek atau petanda melalui pembelokkan arti. Tanda (-) yang ditempatkan dalam ( ) menggambarkan garis hubung yang dalam penggunaannya tidak mempunyai hubungan arti karena menghasilkan makna yang berlainan (Lacan dalam Lodge, 1995: 95).

Kondisi tersebut merupakan mekanisme Ego untuk menjaga terpeliharanya prinsip kesenangan Id dengan mengalihkan setiap keinginan, dalam konsep Lacan merupakan penanda, menuju petanda alih atau obyek pemenuhan yang lain, dengan memberi alasan tertentu melalui prinsip mekanisme pertahanan Ego sehingga keinginan itu membelok ke arah keinginan yang lain atau pengalih dengan obyek pengalih yang mampu memberikan bayangan pemenuhan keinginan. Sifat energi psikis yang tidak pernah hilang mengondisikan keinginan untuk terus bertahan sampai memperoleh pemuasan sehingga penghilangan keinginan dan pengisian dengan keinginan lain dimaksudkan untuk memberi bayangan pemuasan yang tidak dapat dibedakan secara nyata oleh Id dengan tujuan mengarahkan naluri-naluri agar dapat diterima oleh masyarakat.

3.1 Putri Pambayun

3.1.1 Menikahi Wanabaya

Sebagai seorang telik sandi, Putri Pambayun mempunyai keinginan untuk mengetahui segala rahasia dari musuhnya, dalam hal ini adalah Perdikan Mangir. Keinginan ini masuk dalam kategori naluri thanatos yang bertujuan merusak orang lain, yaitu: hubungan antara Wanabaya, Baru Klinthing, dan masyarakat Mangir. Bayangan yang muncul untuk memenuhi Id adalah memecah belah persahabatan Wanabaya dan Baru Klinthing yang merupakan anggota masyarakat Perdikan Mangir.

Putri Pambayun

:

Digandeng Ki Ageng Mangir Muda begini, siapa dapat lepaskan diri? (Mangir: 24)

Adanya hambatan dari Superego, maka Ego membentuk mekanisme reaksi formasi dengan mengalihkan naluri thanatos Putri Pambayun menjadi sangat mencintai Wanabaya. Perilaku mencintai Wanabaya untuk memenuhi keinginan Id tersebut mampu diterima oleh Superego karena keinginan mempertahankan dan mencintai pasangan lawan jenis membuat Baru Klinthing dengan terpaksa mengijinkan Wanabaya menikahi Putri Pambayun. Melalui mekanisme ini, Ego mampu memenuhi dorongan naluri merusak Putri Pambayun, berdasarkan kenyataan bahwa pemegang kendali tata kehidupan Mangir adalah Baru Klinthing, sedangkan Wanabaya merupakan orang yang paling dicintai maka keinginannya akan terpenuhi demi menjaga keutuhan pasukan Mangir. Berdasarkan kenyataan itulah Ego mengalihkan energi psikis Id sebagai distori keinginan untuk menghancurkan Perdikan Mangir.

Berdasarkan keinginan Id, Ego berusaha menahan kemunculannya secara terbuka untuk menjaga kelangsungan hidup Putri Pambayun. Ego berusaha mengalihkan keinginan Id agar tidak mendapat hambatan dari Superego, yaitu: tanggapan dari Baru Klinthing yang selalu waspada terhadap orang asing dan keinginan Baru Klinthing untuk mempertahankan status lajang Wanabaya. Selain itu, permusuhan antara Mangir dan Mataram tidak memungkinkan Ego melaksanakan keinginan Id. Namun bayang-bayang ketakutan Putri Pambayun bila tidak memenuhi tugasnya akan mendapat hukuman dari ayahnya membentuk kekuatan yang tidak mampu direpres oleh Ego.

3.1.2 Membicarakan Kematian

Perasaan cinta Putri Pambayun terhadap Wanabaya mampu menggantikan keinginannya yang terdahulu, yaitu menghancurkan Mangir dan menimbulkan konflik dalam diri Id yang mengakibatkan ketegangan. Berdasarkan faktor keinginan dengan energi psikis yang paling kuat, Ego mengutamakan libido seksual dan melakukan represi naluri merusak terhadap Mangir yang sudah terlebih dahulu diwujudkan dengan membuat Baru Klinthing cemburu sehingga energi psikis yang ditimbulkan tidak terlalu besar. Melalui distorsi keinginan untuk menghancurka
n, Ego mengambil energi dari keinginan seksual Putri Pambayun untuk diwujudkan ke alam sadar Putri Pambayun melalui mekanisme reaksi formasi dengan menikahi Wanabaya sebagai perilaku ketidaksadaran Putri Pambayun.

Putri Pambayun

:

(tergagap-gagap, mengeluh) Sudah empat kali tiga puluh hari. Janji ini, apakah hari ini harus ditepati. (Mangir: 40)

Putri Pambayun

:

Namun setiap perpisahan menakutkan, setiap perceraian mengecutkan-seakan suatu latihan, Kakang akan tinggalkan aku seorang diri, untuk selamanya. (Mangir: 44)

Putri Pambayun

:

Suami gagah-berani tidak ada seperti dia, tampan dermawan, kasihnya tiada tara. Di mana lagi seorang wanita dapatkan suami seperti dia!….Ah-ah, hari tugas terakhir—habisnya suatu perjanjian. (Mangir: 45)

Tugas Pambayun sebagai telik sandi untuk menghancurkan Mangir muncul dengan pengalihan obyek Wanabaya sebagai pemimpin pasukan Mangir. Naluri ini semakin kuat karena perasaan bersalah yang timbul dalam diri Id karena telah menipu orang yang dicintainya membentuk sebuah keinginan baru, yaitu: menghukum diri (masokhis). Melalui hambatan dari Superego, dengan kewajiban seorang ibu yang mampu diterima masyarakat adalah menjaga dan memelihara anaknya sampai besar, maka Ego melakukan represi untuk mencegah kemunculan berdasarkan pertimbangan Superego, yaitu: menjaga kelangsungan hidup Putri Pambayun dan membentuk citra perempuan yang tegar sesuai dengan sosok Wanabaya dalam masyarakat Mangir.

3.1.3 Menolak Ajakan Tumenggung Mandaraka

Sebagai individu yang menginginkan kehidupan keluarga yang harmonis dan abadi, Putri Pambayun berusaha membebaskan keluarganya dari ancaman Kerajaan Mataram. Perasaan takut kehilangan suami dan anaknya serta kebencian terhadap ayahnya muncul sebagai distorsi keinginan untuk melindungi masyarakat Mangir. Melalui mekanisme pengganti ini, Id berusaha menghindari sensor dari Ego.

Putri Pambayun

:

Dan nenenda berkata juga: Ki Ageng Mangir Muda si Wanabaya, tua dekil bergigi goang, kulit mengkilat putih bersisik, berkaki pincang bertiongkat cendana? (Mangir: 46)

Putri Pambayun

:

(merengut meninggalkan Tumenggung Mandaraka, menuding ke bawah padanya) Dusta! Semua Dusta (Menutup mata dengan dua belah tangan). Patutkah putri raja, sulung permaisuri, didustai seperti ini? (Mangir: 47)

Putri Pambayun

:

Tak bolehkah sahaya memilih di antara dua? Hanya satu di antara dua? Betapa nenenda aniaya sahaya. (Mangir: 49)

Terdapat dua pertimbangan dari Superego dalam memenuhi keinginan Id. Pertama, norma sosial yang harus dijunjung tinggi oleh seorang anak, yaitu patuh terhadap perintah orang tuanya. Kedua, keberadaan Tumenggung Mandaraka yang selalu berada di dekat Putri Pambayun sebagai telik sandi pembantu yang selalu mengawasi dan mengingatkan Putri Pambayun pada tugasnya. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, Ego melakukan mekanisme proyeksi dengan Tumenggung Mandaraka sebagi obyek. Mekanisme ini di dasari kenyataan penyebab kecemasan Ego adalah Tumenggung Mandaraka yang selalu membicarakan janji yang harus ditepati, kebohongan tentang sosok Ki Ageng Mangir sehingga Putri Pambayun bersedia menerima tugas sebagai telik sandi, dan posisinya sebagai penasehat Kerajaan Mataram.

Putri Pambayun

:

(membelalak ketakutan dalam mengingat-ingat) Masih ingat sahaya, waktu itu, ayahanda baginsa habis titahkan bunuh kakanda Rangga, agar digantung dengan tali pada puncak pohon ara…..Menggigil ketakutan sahaya bersujud pada ayahanda, takut dibunuh maka persembahkan janji bakti, apa saja baginda kehendaki. (Mangir: 50)

Putri Pambayun

:

(terkejut, ragu-ragu, membelai perut) jabang bayi ini, jangan dengarkan ucapan nenenda Juru Martani. Untukmu kata-katanya tak mengandung syakti. Iangat-ingat, anakku, semoga kau lelaki, akan selalu tahu, nenendamu inginkan jiwa bapamu, dikirimkan ibumu ke Mangir untuk menangkap Ki Ageng Mangir dengan cinta….selesai sudah cerita tentang bohong dan dusta. (Mangir: 51—52)

Dari sini terlihat bahwa pengalihan diarahkan untuk membenahi ketegangan yang terjadi di dalamnya. Perilaku berbohong yang dilakukan oleh Putri Pambayun terhadap Wanabaya menimbulkan ketegangan dalam Id, dan oleh karena hambatan moral dari Superego, keinginan yang muncul adalah mengakui kebohongan dan meneruskan hidupnya. Sikap yang diambil oleh Ego adalah melakukan proyeksi dengan Tumenggung Mandaraka sebagai objek pengalih naluri thanatos Putri Pambayun.

Perasaan takut yang timbul dalam diri Pambayun menjadi penyebab keinginannya untuk menjadi telik sandi. Hal ini dilakukannya sebagai pelarian dari tekanan Panembahan Senapati atau ketakutan akan mengalami hal serupa seperti kakaknya yang merupakan distorsi untuk balas dendam atas perbuatan ayahnya tersebut. Berdasarkan trauma kejadian di atas, maka Ego berusaha mengurangi kecemasan neurotik dengan melakukan sublimasi sebagai istri Wanabaya yang dalam kenyataan bermusuhan dengan Mataram.

3.1.4 Berbohong Kepada Suriwang

Perasaan bersalah dan dendam membangkitkan naluri untuk merusak sebagai bentuk penggabungan dari perasaan bersalah karena telah berbohong kepada Wanabaya dan ketidakmampuannya untuk mencegah kepergian Tumenggung Mandaraka. Tindakan tersebut mengalami represi untuk mencegah permasalahan lebih lanjut, yaitu kesedihan yang akan muncul dalam diri Wanabaya dan mengakibatkan kekacauan pertahanan Mangir. Berdasarkan represi dari Ego, Id mengganti energi psikis terdahulunya dengan membentuk sebuah distorsi, yaitu keinginan untuk meluapkan kemarahan sebagai distorsi dari naluri merusaknya.

Putri Pambayun

:

Tidak, Suriwang. Coba kaulihat di kandang sana. (Mangir: 58—59)

Putri Pambayun

:

….(Merenung ke tanah) orang apa aku ini? Mengapa tak kutegah tak kusampaikan pada suami? (Gelisah) istri apa aku ini? Dapatkah suami percaya pada diri? (Mangir: 59)

Putri Pambayun

:

Tidak tahu, Suriwang. (Mangir: 59)

Putri Pambayun

:

Mana aku tahu, Suriwang, kalau diri sedang terlelap (Mangir: 59)

Putri Pambayun

:

Juga tidak kalau mengidam? (Mangir: 59)

Posisi sosial Putri Pambayun yang merupakan istri dari Wabaya, pemimpin pasukan Mangir, membentuk pemikiran Ego untuk melakukan mekanisme displacement dengan Suriwang sebagai obyek pengalihnya karena Suriwang adalah anak buah Wanabaya dan tidak diperbolehkan untuk membantah segala perintah baik dari Wanabaya, maupun Putri Pambayun sebagai istri dari pimpinan prajurit Mangir. Tugas sebagai bawahan Wanabaya yang mengharuskan Suriwang selalu waspada menjadi alasan Ego untuk mawujudkan keinginan Id dan memperkecil dorongan dari Superego. Perilaku Putri Pambayun untuk menjalankan mek
anisme tersebut adalah laporan palsu tentang posisinya ketika kuda milik Wanabaya hilang kemudian melampiaskan kekesalannya pada Suriwang karena tidak konssisten menjalankan tugas.

3.1.5 Membongkar Identitas Dirinya

Kondisi Putri Pambayun yang sedang mengandung menjadi alasan Ego untuk mencegah Wanabaya membunuhnya setelah mengetahui identitas asli dari Putri Pambayun. Kehadiran seorang anak merupakan harapan baru bagi orang tua untuk meneruskan atau menjaga keberlangsungan keturunannya. Berdasarkan pemikiran tersebut, Ego melakukan mekanisme regresi dengan Wanabaya sebagai obyek pengalihnya karena ia adalah sosok yang mampu mengatasi segala masalahnya. Hal ini dilakukan Ego berdasarkan kenyataan yang akan mengancam Putri Pambayun, yaitu kemarahan Baru Klinthing yang akan menyebabkan kematiannya dan posisi Wanabaya sebagai suami Putri Pambayun, yang menyayangi ia dan anak yang akan dilahirkannya tidak akan membuat Wanabaya membunuhnya. Perilaku ini secara tidak sadar kemudian mewujudkan naluri membunuh Putri Pambayun.

Putri Pambayun

:

Betapa penuh kasih kata-kata Kakang sekarang. Dari mana datangnya burung Kang? (Mangir: 60)

Putri Pambayun

:

Dalam kesibukan perang begini, patutlah seorang istri ajukan sesuatu? (Mangir: 61)

Putri Pambayun

:

Kakang, kalau bisikan si bayi kau anggap penting di sela-sela perang….( Mangir: 61)

Perasaan takut yang selalu muncul dalam pikiran Putri Pambayun merupakan sumber energi psikis yang riskan untuk memunculkan naluri yang sudah lama mengalami represi, yaitu membunuh ayahnya. Ketidakmampuan Ego untuk menahan keinginan tersebut membuat Ego melakukan mekanisme regresi pada Wanabya.

Putri Pambayun

:

Tidakkah Kakang akan berduka? (Mangir: 62)

Putri Pambayun

:

Tak pernah aku dustai suami setelah jadi istri. (Mangir: 63)

Putri Pambayun

:

Tiadakah kau dengar, Kakang, bisikan si bayi? Tiada kau ampuni, tiada kau kaihi lagi kami? Lupakah kau sudah pada kata-kata sendiri: rela hidup untuk istri, hidupmu hidupku, hidupku, hidupmu? (Mangir: 68)

Perilaku melindungi diri dan bersembunyi terlihat pada ucapan Putri Pambayun yang bersifat merayu agar Wanabaya tidak marah. Sikap regresi ini dilakukan Ego untuk menjaga kelangsungan hidup Pambayun. Dengan adanya anak dalam kandungan Putri Pambayun, maka Wanabaya tidak akan membunuhnya. Hal ini dimungkinkan karena keinginan Wanabaya, sebagai pemimpin perang, mempunyai keturunan untuk meneruskan pekerjaannya. Faktor tersebutlah yang menjadi Superego bagi Putri Pambayun untuk melaksanakan niatnya membunuh Panembahan Senapati. Dari sini terlihat sensor Ego tidak berperan dalam menahan naluri thanatos Putri Pambayun yang sudah lama mengalami represi muncul dalam wujud mempertahankan sosok laki-laki yang dicintainya.

3.1.6 Menjadi Pasukan Mangir

Motivasi untuk balas dendam merupakan perwujudan dari naluri membunuh Id dengan obyek Panembahan Senapati. Keinginan yang mengalami represi itu muncul karena bertentangan dengan prinsip Superego yaitu kedudukan Putri Pambayun dan kesalahannya dengan menjadi telik sandi mengakibatkan perpecahan antara Wanabaya dan Baru Klinthing. Ketegangan yang terus-menerus dalam diri Ego tersebut mengakibatkan melemahnya represi Ego.

Putri P
ambayun

:

Telik Mataram tertinggal seorang diri di tengah-tengah musuhnya sebagai nampaknya, dia istri setia Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya. Dalam kandungannya adalah bayi anaknya. (Mangir: 71)

Putri Pambayun

:

Akan kujalani hukuman, hanya setelah serahkan anak pada suami. Kau bernafsu hendak menghukum aku, karena cemburu pada keberuntungan Ki Wanabaya. (Mangir: 71)

Putri Pambayun

:

Juga kau sendiri, yang bersumpah satu hidup dan dalam mati dengan Ki Wanabaya. (Mangir: 73)

Ketidakmapuan Ego untuk melakukan sensor mempunyai dampak buruk bagi Superego. Kemampuan Id menembus Ego dan menyebabkan penderitaan bagi Wanabaya, yang berusaha membela kehormatan Putri Pambayun dan Baru Klinthing yang merasa pertahanan Mangir terbongkar karena perbuatan Putri Pambayun menjadi pemicu perpecahan kembali di antara mereka. Melihat kondisi tersebut, Ego melakukan mekanisme displacement dengan Panembahan Senapati sebagai obyek pengalihnya.

Putri Pambayun

:

Dengan Sarpa Kuda, ayahanda baginda hendak tarik seluruh balatentara Mangir ke Patalan, dengan seluruh balatentara dari utara akan melingkar menyapu Perdikan dan semua kademangan sekawan. (Mangir: 74)

Putri Pambayun

:

Untukmu dan perdikan, Kang, di mana dan kapan saja. (Mangir: 75)

Posisi Panembahan Senapati sebagai raja Mataram dan ayah Putri Pambayun menjadi sumber penyebab ketegangan. Oleh karena itu, Ego memberikan keterangan strategi pertahanan Mataram untuk mengurangi hambatan Superego sebagai bentuk mekanisme sublimasi agar diterima masyarakat sebagai penebus kesalahan yang dilakukan Putri Pambayun. Kondisi melemahnya proses represi Ego dipergunakan Id untuk melewati sensor dan menghindari Superego dengan melakukan penggantian keinginan balas dendam menjadi keinginan untuk membantu Mangir menyerbu Mataram. Perilaku ini mampu melewati sensor Ego yang berpikiran bahwa naluri tersebut muncul sebagai usaha Id memperbaiki dirinya. Kelemahan Ego untuk membedakan keinginan yang harus dipenuhi inilah yang menyebabkkan Id berhasil mewujudkan naluri merusak menjadi seorang prajurit Mangir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: