Dinamika Tokoh “Mangir”: Psikoanalisis (End)

BAB IV

KESIMPULAN

Naluri tokoh dialihkan dengan menghilangkan kehadiran individu lain untuk mendapatkan obyek dari kebutuhannya. Keinginan yang direpres tokoh secara tidak sadar muncul karena respon dari tokoh lain, yang bersifat menghambat pemenuhan sehingga menyebabkan Ego mengalami kecemasan. Mekanisme displacement dilakukan untuk mencegah kemunculan Id secara langsung. Pengalihan ini merupakan usaha tokoh untuk meraih dan mempertahankan obyek keinginan melalui tindakan menghilangkan tokoh lain.

Pengalihan libido seksual Putri Pambayun dan Wanabaya dengan menghilangkan sosok Panembahan Senopati merupakan usaha untuk menjaga kelangsungan hidup pasangannya sebagai obyek dari keinginannya. Naluri thanatos Baru Klinthing dan Tumenggung Mandaraka dialihkan dengan menghilangkan Wanabaya dan Putri Pambayun melalui kekerasan atau perang untuk mendapatkan obyek dari kebutuhannya, yaitu kemenangan atas suatu daerah, dalam hal ini Kerajaan Mataram atau Perdikan Mangir. Berdasarkan pengalihan keinginan yang terjadi, terdapat sebuah keinginan yang sama dalam mencapai sebuah obyek, yaitu menghilangkan sosok lain.

Kehidupan Putri Pambayun sebagai putri kerajaan dengan segala peraturan dan norma-norma kebangsawan yang harus dijunjung tinggi membuat menjalani kehidupan kehidupan yang terikat. Dengan menjadi telik sandi, Putri Pambayun berusaha membebaskan diri dari bayang-bayang kematian yang akan menimpa dirinya. Keinginan ini merupakan pengalihan dari naluri menghilangkan sosok ayah sebagai wujud ketidakmampuan Putri Pambayun untuk balas dendam atas kematian kakaknya yang menimbulkan dampak traumatis. Dari sini terlihat bahwa tujuan Putri Pambayun menikahi Wanabaya adalah lari dari kematian yang disebabkan oleh ayahnya sehingga keinginan untuk memenuhi libido seksual mendominasi langkahnya. Dengan penggantian sosok, ia mengharapkan trauma yang terjadi bisa hilang dan dapat menjalani kehidupan dengan tenang. Putri Pambayun merepres keinginan terebut. Pertentangan di antara mereka, suami dan ayahnya, menyebabkan pengalihan keinginan dalam bentuk penyiksaan diri (masokhis), yaitu menjadi prajurit Mangir. Pengalihan keinginan ini merupakan tindakan untuk menghilangkan sosok laki-laki dengan harapan dapat digantikan oleh anak sebagai langkah untuk menjaga prinsip kesenangan dan kelangsungan hidupnya.

Tindakan Wanabaya menikahi Putri Pambayun merupakan pengalihan dari keinginannya untuk menyerang dan menguasai Mataram. Libido seksual dialihkan menjadi keinginan berjanji setia kepada Perdikan Mangir untuk mendapatkan persetujuan dari Tetua Perdikan. Wanabaya merepres naluri menghilangkan sosok Baru Klinthing, naluri individu yang membutuhkan lawan jenis untuk menghilangkan sosok lain ancaman untuk memperoleh obyek libido seksual, untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan menghindari tekanan yang menimbulkan kecemasan moral karena telah membunuh orang yang selalu membantunya dalam menghadapi pasukan Mataram. Identitas Putri Pambayun sebagai telik sandi Mataram menjadi penyebab kecemasan moral karena ketidakmampuan untuk merepres libido seksual sehingga rahasia Perdikan Mangir terbongkar. Penghilangan sosok perempuan sebagai obyek dari libido seksual menimbulkan kecemasan moral sehingga represi dilakukan dan mengganti dengan naluri menghancurkan Mataram. Tindakan represi yang terus-menerus menyebabkan kemampuan untuk merepres naluri kematian melemah sehingga muncul naluri masokhis. Pengalihan naluri masokhis menjadi naluri menyerang Kerajaan Mataram merupakan usaha Wanabaya untuk menghilangkan sosok Baru Klinthing dan Panembahan Senapati. Tindakan ini dilakukan untuk menjaga atau mempertahankan kelangsungan hidup Putri Pambayun sebagai distorsi dari libido seksualnya.

Pertentangan antara Perdikan Mangir dan Kerajaan Mataram menjadi penyebab munculnya naluri menghancurkan dengan pengalihan penambahan tombak sebagai pengganti dari keinginan untuk menambah jumlah pasukan. Melalui penambahan pasukan, Baru Klinthing berusaha mewujudkan kenginan untuk menguasai Kerajaan Mataram. Naluri tersebut mengalami represi karena bertentangan dengan prinsip masyarakat Mangir yang tidak menginginkan Perdikan Mangir menjadi kerajaan. Tindakan menjalin kerjasama dengan para Tetua Perdikan merupakan distorsi dari keinginan tersebut. Kedatangan Putri Pambayun menjadi perangsang libido seksual sehingga terjadi penghilangan sosok Wanabaya sebagai penghalang pemenuhannya. Naluri ini mengalami represi karena mengancam persatuan prajurit Mangir dan usaha untuk memenuhi keinginan mengalahkan Kerajaan Mataram. Reaksi formasi yang dilakukan Baru Klinthing dengan menyetujui pernikahan Wanabaya dan Putri Pambayun merupakan strategi untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat Mangir sehingga keinginan menambah jumlah pasukan untuk menghancurkan Kerajaan Mataram bisa terpenuhi. Identitas Putri Pambayun sebagai telik sandi Mataram menjadi penyebab ketegangan sehingga menimbulkan kecemasan moral. Kondisi ini menyebabkan keinginan menghilangkan sosok Wanabaya untuk mendapatkan Putri Pambayun muncul yang kemudian dialihkan menjadi menyerang Kerajaan Mataram. Tindakan ini merupakan usaha Baru Klinthing untuk menghilangkan figur laki-laki lain, Wanabaya dan Panembahan Senapati, yang menghambat keinginannya untuk memperoleh Putri Pambayun sekaligus menguasai Kerajaan Mataram.

Sebagai seorang penasehat kerajaan, Tumenggung Mandaraka mempunyai tanggung jawab untuk memenangkan pertempuran dan memperluas daerah kekuasaan Kerajaan Mataram Berdasarkan kenyataan bahwa perpecahan antara Baru Klinthing dan Wanabaya memperlemah pertahanan Perdikan Mangir, maka Tumenggung Mandaraka mengalihkan naluri tersebut menjadi keinginan untuk menikahkan Putri Pambayun dan Wanabaya dengan tujuan memperoleh kesempatan tinggal di Perdikan Mangir dan mengetahui rahasia pertahanan Perdikan Mangir. Adanya sikap menolak Putri Pambayun untuk membawa Wanabaya menghadap Panembahan Senapati memunculkan kemarahan yang merupakan wujud keinginan menguasai individu lain dalam wujud pengabdian dari Putri Pambayun. Pengalihan keinginan melalui mekanisme reaksi formasi dilakukan dengan mengatakan bahwa kedatangan mereka menghilangkan peperangan dan Wanabaya akan dianggap sebagai menantu yang sah oleh Panembahan Senapati. Kenyataan bahwa Wanabaya akan pergi ke Mataram jika disuruh oleh Putri Pambayun memunculkan naluri membunuh Wanabaya sebagai pengalih keinginan mendapatkan kejayaan Kerajaan Mataram sebagai distrosi dari naluri menghancurkan Perdikan Mangir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: